Pelajaran Menarik Dari Keampuhan Buzzer dan Media Sosial

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Bahasan soal buzzer dan influencer itu sebetulnya sekedar untuk mengingatkan betapa Omnibus Law itu demikian penting untuk di goalkan oleh DPR dan Pemerintah”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Bisalah di paham jika banyak pendapat yang mengusulkan agar saya tetap fokus memelototi Omnibus Law dan tak perlu tergoda oleh issu buzzer dan influencer yang berpenghasilan aduhai itu.

Masalahnya memang bisa membelokkan perhatian hingga mungkin saja jadi lalai mengawal Omnibus Law agar tak semakin ngawur pembahasannya lalu disahkan guna mencekik buruh agar tidak semakin berkutik dan banyak maunya dengan menuntuk pihak pengusaha maupun penguasa yang cenderung berpihak pada pemilik modal.

Bahasan soal buzzer dan influencer itu sebetulnya sekedar untuk mengingatkan betapa Omnibus Law itu demikian penting untuk di goalkan oleh DPR dan Pemerintah. Sehingga buzzer dan influencer perlu di sewa dan di bayar mahal.

Nilai mahalan buzzer dan influencer itu pun bisa di paham betapa hebatnya mereja yang dominan memanfaatkan media sosial sebagai sarana kampanye atau mempromisikan produk yang hendak mereka hasilkan. Dengan memahami peran buzzer dan influencer serta ampuhnya peranan media sosial itu diharap mampu menggugah kesadaran baru bagi para aktivis dan pejuang untuk rakyat agar dapat juga memanfaatkan media sosial milik sendiri dan yang dikelola srndiri, supaya dapat membuat perimbangan dalam ajang petarungan bebas untuk merebut kembali hak-hak atau cita-cita yang hendak diperjuangkan demi dan untuk rakyat banyak.

Kesadaran budaya iptek dan pengginaan media sosial telah menjadi alternatif pilihan sarana terbaik untuk memperkuat dan melancarkan perlawaban budaya maupun perlawanan politik yang harus dan mutlak untuk dilakukan guna menjaga serta mengembalikan kedaulatan rakyat berikut hak-hak sebagai manusia merdeka sebagaimana yang dijamin oleh UUD 1945 yang asli.

Oleh karena itu paparan mengenai buzzer dan influencer itu sekedar untuk memanfaatkan momentum guna memahami duduk perkara Omnibus Law yang maha penting itu hingga dianggap patut untuk di bayar dengan ongkos yang mahal. Setidaknya untuk menyewa buzzer dan influencer itu cukuplah untuk meyakinkan betapa besarnya hasrat dan birani untuk meloloskan untuk kemudian memberlakukan Omnibus Law itu di Indonesia.

Sebab di dalam Omnibus Law itu tidak cuma Cipta Kerja yang terkait dengan kehidupan dan masa depan kaum buruh di Indonesia, tetapi juga meliputi masalah tanah dan lingkungan hidup hingga soal pajak dan aturan lain mengenai banyak hal.

Pendek kata, tak hanya perlu di paham betapa dahsyatnya Omnibus Law itu, tetapi juga betapa dahsyat peranan buzzer dan influencer serta sarara informasi, komunikasi dan publikasi dari media sosial yang bisa dimaksimalkan penggunaannya sebagai alat perjuangan. Atau bahkan –bila mampu dan mau– bisa digunakan sebagai senjata perlawanan budaya pada era milineal sekarang ini.

Toh, media mainstream sudah tidak lagi bisa diharap tetap teguh pada idealismenya terus membela rakyat. Agaknya media mainstream sekarang ini memang lebih disibukkan untuk membela dan menyelamatkan dirinya sendiri.

Sebab hidup dan kehidupan mereka sendiri pun tengah terancam bangkrut dan ambruk. Tidak kecuali untuk idealismenya pula yang sebelumnya selalu berpihak pada rakyat yang tertindas. Persis seperti dilema yang dihadapi buzzer dan influencer itu juga, melupakan bisikan hati nuraninya yang sejati.

Edt: Redaksi (AN)