Pelaku geng RAPE Di Garut Terancam Pidana Penjara Seumur Hidup

Foto: (Ist)

“Kasus kejahatan seksual bergerombol ini tidak bisa kita anggap atau tempatkan sebagai kejahatan biasa”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Kekerasan seksual terhadap anak bergerombol (Geng RAPE) maupun dilakukan secara perorangan di Garut, Jawa Barat terulang kembali. Kejadian yang memilukan yang dialami ES (15) warga Garut ini mengingatkan kembali atas kasus-kasus kejahatan seksual yang terjadi sebelumnya di Garut.

Komnas Perlindungan Anak Indonesia dan  Kantor Perwakilan Komnas Perlindungan Anak di Jawa Barat mencatat dalam kurun waktu satu tahun 2018/2019 telah mencatat sekitar 129 kasus pelanggaran hak anak di wilayah hukum Kabupaten Garut. 52% diantaranya dominasi oleh kasus kekerasan seksual baik dilakukan secara perorangan maupun bergerombol oleh orang dewasa dan usia anak-anak.

Selebihnya kasus-kasus kekerasan dalam bentuk lain seperti penelantaran, adopsi ilegal, penganiayaan dan perdagangan anak untuk tujuan seksual komersial maupun eksploitasi ekonomi.

Muncul pertanyaan fenomena sosial apakah yang terjadi di Garut, sementara semua orang tahu bahwa wilayah Garut adalah wilayah religius yang taat dan menjunjung nilai-nilai keagamaan. Formulasi apa yang bisa dilakulan untuk memutus mata rantai kekerasan terhadap anak di Garut, Jawa Barat dan Indonesia.

“Kasus kejahatan seksual bergerombol ini tidak bisa kita anggap atau tempatkan sebagai kejahatan biasa. Apa yang dirasakan dan dialami korban adalah merupakan kejahatan luar biasa extraordinary crime dan “leg specialis“, oleh karenanya penangannya juga patut luar biasa dan khusus,” kata Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Indonesia kepada media di kantornya, Jakarta Timur, Kamis (3/10).

Meningkatnya jumlah kejahatan seksual terhadap anak di Garut dan secara khusus mencermati peristiwa Geng RAPE yang menimpa ES (15), mengundang Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait untuk segera melakukan koordinasi penegakan hukum dengan Polres Garut.

Selain itu juga kepada aparatur penegak hukum lain yaitu Jaksa dan Hakim di Garut untuk menetapkan UU RI Nomor: 17 tahun 2016 tentang Penerapan PERPU Nomor: 01 Tahun 2016 tentang Perubahan kedua atas UU RI Nomor: 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak junto UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana kurungan minimal 10 tahun dan maksimal 20 tahun dan dapat juga terduga pelaku diancam dengan hukuman seumur hidup dan atau dikenakan hukuman tambahan kebiri (kastrasi) yang dilakukan melalui suntik kimia kecuali kepada pelaku yang masih berusia anak.

Lebih jauh, dijelaskan bahwa Korban ES (15)  yang telah menjadi perhatian khusus Komnas Perlindungan Anak adalah merupakan warga Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat adalah korban perkosaan yang dilakukan enam pria usai pesta minuman keras.

Sebelumnya korban sempat diberi minuman keras sehingga mabuk dan tak sadarkan diri di rumah kosong di Kampung Cikuya, Desa Sukamukti, Kecamatan Sisompet, Garut. Saat itu, keenam pria bejat dan menjijikkan itu melakukan kejahatan seksual secara bersama-sama.

Kapolres Garut AKBP Dedi Junaedi Ferdiansyah membenarkan bahwa kejadian itu dilakukan pelaku secara bersama pada Senin (30/9). Kapolres menjelaskan bahwa kasusnya kini telah ditangani unit PPA Satreskrim Polres Garut.

“Pelaku kejahatan seksual ini dilakukan oleh tiga orang dewasa dan tiga orang yang masih dibawah umur. Korban diperkosa dalam kondisi tak sadarkan diri oleh enam pria,” ujarnya di Polres Garut, Rabu (2/10).

Ketiga pria dewasa itu masing-masing Ujang Suparman (44) Ilham Ridwan (18) dan Muhammad Alfian (22). Adapun ketiga pria yang masih dibawah umur usia 17 tahun itu masing-masing berinisial SJ, A dan BA.

Dalam kejadian itu polisi juga mengamankan dua orang perempuan yang mengetahui persis peristiwa perkosaan tersebut masing-masing berinisial HS dan NN.

“Untuk sementara yang kita amankan sebanyak 8 orang dan masih dilakukan pemeriksaan secara intensif,” ungkap Dede.

Berdasarkan keterangan korban, kejadian tersebut berawal saat korban diajak pergi oleh SG dan A ke tempat kejadian pada Senin (30/9). Selanjutnya korban bertemu dengan yang diduga pelaku Ujang Ilham, Muhammad dan BA.

Selanjutnya korban diberikan minum keras jenis Amer atau Anggur Merah yang mengakibatkan korban mabuk. Dalam keadaan mabuk itulah korban disetubuhi secara bergantian oleh tiga laki-laki dewasa dan tiga anak di bawah umur itu.

Kasus perkosaan tersebut terungkap setelah diduga pelaku Ujang dan Ilham mengantar pulang korban dan bertemu dengan orang tua korban. Saat itu orang tua korban curiga dan segera melaporkan kepada pihak Polsek Cisompet.

Atas peristiwa Geng RAPE ini, Komnas Perlindungan bersama Kantor Perwakilan Komnas Perlindungan Kabupaten Garut segera bertemu korban dan keluarganya guna memberikan pendampingan hukum serta reintegrasi psikososial korban. Segera pula melakukan koordinasi penegakan hukum dengan Polres Garut.

Secara khusus Komnas Perlindungan Anak memberikan apresiasi kepada Kapolres Garut dan jajaran Satreskrimum atas kerja cepatnya mengungkap kasus kejahatan seksual yang menimpa ES.

“Saya percaya bahwa Kapolres dan jajaran Satreskrimum punya komitmen tidak ada toleransi terhadap segala bentuk kejahatan seksual khususnya terhadap anak,” demikian ditegaskan Arist. (AW)

Edt: Redaksi (AN