Pengamat: Vaksin Jadi Game Changer dan Kemitraan Global Kunci Mengakhiri COVID-19

Foto: Ist

“Vaksin akan jadi game changer dari perkembangan COVID-19 dunia, termasuk dampaknya terhadap Indonesia”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Vaksin untuk Covid-19 belum akan siap hingga akhir tahun depan, menurut Dale Fisher, Ketua Jejaring Peringatan dan Tanggap Wabah (Global Outbreak Alert and Response Network) dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO).

Fisher juga mengatakan bahwa keyakinan Presiden Donald Trump bahwa vaksin coronavirus akan selesai pada akhir tahun 2020 “agak terlalu dini.”

“Vaksin akan jadi game changer dari perkembangan COVID-19 dunia, termasuk dampaknya terhadap Indonesia. Sebab itulah saya mengatakan siapapun yang memprediksi berakhirnya COVİD-19 ini hanya berbasis modelling kuantitatif tanpa menimbang sama sekali faktor kondisi politik internasional akan meleset.” kata pengamat internasional, Arya Sandhiyudga engomentari perkembangan ini.

Menurut Arya yang merupakan Doktor Bidang Hubungan Internasional, salah satu kuncinya nanti bukan sekedar waktu penemuan vaksin, tapi kapasitas negara mengembangkan diplomasi untuk mendorong kerjasama global dan solidaritas global.

Sebab tanpa itu, akan ada perbedaan diantara negara-negara dunia dalam kemudahan mengakses vaksin. Sementara vaksin itu jadi salah satu faktor yang menentukan untuk mengakhiri pandemi, di negara manapun.

Arya menyebutkan perlunya sebuah negara tidak dapat mengembangkan diplomasi dengan baik untuk mengakhiri pandemi COVİD-19.

“Indonesia perlu mengembangkan kerjasama global agar tidak terjebak dalam pandemi berkepanjangan. Semua negara di dunia saling membutuhkan dalam situasi seperti sekarang ini. Sebaliknya, tiap negara juga punya peluang kontribusi ketika telah berhasil menekan angka kasusnya, seperti Taiwan yang dengan cepat mencegah ledakan kasus di dalam negeri dan mengirimkan bantuan 17 juta masker ke ragam negara, termasuk Amerika Serikat dan Eropa. Kemampuan negara menggalang kerjasama global diperlukan untuk mengundang solidaritas negara lain untuk membantu kita menangani persoalan ini,” ucapnya.

Arya yang juga Direktur Eksekutif The Indonesian Democracy Initiative (TIDI) berharap Indonesia dapat terus memainkan peran diplomasi agar negara besar seperti Amerika Serikat dan China menghadapi COVİD-19 bersama.

“Kita-Indonesia perlu terus menjalankan peran diplomasi agar keduanya tidak melanjutkan “Perang” (dagang-red) yang mereka lakukan sebelum masa COVİD-19. Keduanya musti stop saling menyalahkan dan mengalihkan energinya untuk membentuk solidaritas global, yang pada akhirnya memberikan kemudahan dan kemurahan akses yang sama pada negara manapun terhadap vaksin,” kata Arya.

Atas faktor inilah Arya memprediksi wabah pandemi baru berakhir di Indonesia 2021.

“Jadi faktor politik internasional seperti ini yang menurut saya perlu dipertimbangkan. Prediksi kami di TIDI minimal 2021 baru berakhir,” pungkasnya. (NH)

Edt: Redaksi (AN)

081288239200
Arya Sandhiyudha, Ph.D