Pengendalian Hawa Nafsu Menuju Kebebasan Keuangan

Foto: (Ist)

“Hawa nafsu bukan untuk dipandang musuh, apalagi dihancurkan. Karena tanpa hawa nafsu dunia ini tidak ada (exist)”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Kebebasan Finansial (financial freedom) adalah puncak pencapaian seseorang dalam berbisnis. Seseorang yang sudah mencapai taraf hidup dalam kondisi Financial Freedom atau kebebasan keuangan, tentu tidak perlu lagi bersusah payah dalam memperoleh penghasilan. Pasalnya, uang yang dimilikinya sudah bekerja untuk dirinya.

Sehingga diapun semakin bebas mengatur waktunya agar lebih meningkatkan kualitas ilmu, ibadah, amal shaleh, kegiatan sosial, ceria bersama keluarga dan rekreasi. Bahkan amal shaleh, kegiatan sosial dan rekreasi pun bisa menghasilkan uang.

Namun sayangnya, tidak semua orang tahu, bagaimana caranya mencapai kebebasan keuangan ini. Padahal, setiap manusia sudah diberikan Allah Swt potensi yang luar biasa di dalam dirinya agar dia bisa mencapai posisi freedom financial karena dia sudah mendapat “rizqun karim”.

Seiring dengan itu, Allah Swt pun telah menguraikan cara mencapai kebebasan keuangan dalam Al-Qur’an, Sunnah Nabi SAW dan melalui hamba-hamba-Nya yang shaleh, para guru mursyid dan ahli hikmah, syaikh sufi dari berbagai thariqat yang ajarannya terus berkembang sampai hari ini.

Bahkan Allah menjanjikan solusi dan dan memudahkan rezeki yang datang dari berbagai macam penjuru. Sebagaimana hal tersebut dijelaskan dalam Al-Qur’an.

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.  Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3).

Menurut guru kursyid kita, Syaikh Inyiak Cubadak dan KH. Abdurrahman Siregar, ada dua potensi yang mempunyai kekuatan luar biasa yang diberikan Allah Swt kepada manusia, yakni hawa nafsu. Kedua kekuatan ini bila dikelola dan di dayagunakan sesuai petunjuk Allah, tentu akan mengantarkan manusia sukses lahir batin.

Namun sebaliknya jika mereka salah dalam menggunakan hawa nafsu, maka kerusakan, kehancuran dan kebangkrutan bisnislah yang akan mereka rasakan.

Jadi, sesungguhnya manusia diciptakan dengan potensi keinginan yang baik (takwa) dan keinginan buruk (nafsu atau fujur). Kedua keinginan tersebut menunjukkan sifat keseimbangan (at-tawazun) dan kemanusiaan (al-basyariah) dalam diri manusia. Oleh karena itu, nafsu adalah fitrah manusia, sebagaimana takwa juga adalah fitrah. Hal ini yang ditegaskan dalam Alquran, yang artinya:

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah Swt mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS asy-Syams: 7-8).

Dengan demikian hingar bingar pembangunan kota-kota dunia, gedung-gedung pencakar langit di kota New York, rencana lemindahan ibu kota NKRI ke luar Jawa, bukan untuk disalahkan. Itu bagian dari eksistensi nafsu yang memang secara alami dijadikan bagian dari hidup manusia.

Maka, kewajiban kita adalah mengendalikan nafsu itu agar memberi manfaat bagi bangsa dan seluruh warga negara Republik Indonesia.

Maka, perlu dipahami bahwa hawa berarti keinginan (desire). Sedangkan nafsu berarti diri (ego). Dengan demikian kita perlu riyadhah, dalam arti melatih diri agar mampu menahan diri dari dorongan hawa nafsu (ego). Di sinilah kita ketemukan urgensi puasa.

Karena betapa banyak destruksi yang terjadi dalam hidup manusia disebabkan oleh kegagalan manusia itu sendiri dalam mengendalikan hawa nafsunya. Kesemuanya itu, baik yang benar maupun yang salah telah tercatat dalam sejarah.

Bahkan, banyak dari kisah tersebut yang diabadikan dalam Al-Qur’an agar kita bisa mengambil pelajaran.

“Dan Allah Swt telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah Swt, karena itu Allah Swt merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl: 112).

Hawa nafsu bukan untuk dipandang musuh, apalagi dihancurkan. Karena tanpa hawa nafsu dunia ini tidak ada (exist). Bahkan dunia itu alaminya adalah hawa nafsu. Hanya dengan hawa nafsu eksistensi manusia terpelihara. Karenanya Islam sebagai agama yang secara alami sejalan dengan hidup manusia tidak mematikan dorongan atau keinginan (nafsu) manusia kepada lawan jenisnya.
Islam memberikan petunjuk agar manusia bisa mengarahkan dan mengaturnya.

Berkaitan dengan keuangan, nenek moyang kita mengajarkan agar pandai-pandai mengelola harta, “Jangan Besar Pasak dari Tiang,” dan beliau pun mengingatkan agar jangan hidup boros karena “Hemat Pangkal Kaya,” budaya dan kearifan lokal Nusantara ini kemudian semakin sempurna dengan datangnya Al-Qur’an yang menegaskan bahwa pemboros itu kawannya syetan.

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan,” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27).

Jadi, pengendalian diri adalah kunci ajaib yang harus “dilakoni” oleh mereka yang ingin hidupnya bahagia, sejahtera, kaya harta dan bebas menggunakan uangnya. Dan semakin besar sedekahnya, semakin berlipat ganda hartanya.

Edt: Redaksi (AN)