Pensiunan Kok Dianggap Beban APBN?

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Uang Pensiun PNS itu bukan bagian dari APBN, tetapi merupakan hasil tabungan para pensiunan yang dikumpulkan dan dipotong dari gaji setiap bulan”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Surat terbuka dari para pensuinan yang dikatkan menjadi beban APBN (negara) sungguh menyakitkan. Karena yang terkesan dari ungkapan seperti itu maknyanya lebih ungkapan “habis manis sepah dibuang”, namun lebih tepat seperti ucapan anak yang durhaka kepada orang tuanya. Jadi nyata benar negeri kita tengah dilanda krisis moral dan krisis etika yang telah membusuk dalam akhlak dan moral yang keji.

Seorang yang telah pensiun itu dalam tata krama yang santun patut disebut dalam istilah “purna tugas”. Artinya, sebagai aparat negara yang bersangkutan telah rampung menunaikan tugasnya dengan sempurna.

Kecuali itu, toh dana pensiun yang mereka peroleh itu telah menjadi bagian yang diperjanjikan sebelumnya akan terus diterima selama yang bersangkutan hidup untuk menikmati masa purna tugasnya yang juga telah diperjanjikan sampai usia tertentu dapat dinyatakan purna tugas setelah cukup waktu bertugas untuk negara.

Lalu bagaimana mungkin dapat dikatakan jadi beban APBN, sementara uang yang mereka simpan dalam Taspen itu adalah uang mereka sendiri yang disisihkan dari potongan gaji setiap bulan?

Lantas moral dan etika seperti apa yang merasuk pemikiran untung-rugi seperti itu hingga sangat mengesankan seperti ucapan anak durhaka pada orang tuanya sendiri itu.

Agaknya etika dan moral manusia yang tidak berakhlak seperti itu bisa merusak tata budaya kita yang luhur dalam upaya menjaga serta memelihara nilai-nilai luhur yang patut dipeligara dan dijaga nilainya yang sakral. Sebab rasa hormat serta penghargaan terhadap siapa pun mereka kita anggap tua siapapun juga orangnya. Apalagi terhadap mereka yang sudah purna tugas, pensiun.

Kritik keras I.D Azis seorang pensiunan yang mewakili komunitas pensiunan ini menulis surat terbuka kepada Presiden, Pensiunan (Jangan) Dianggap Beban APBN, katanya yang juga surat itu ditembuskan kepada Menko Keuangan dan Komisaris Utama, Direktur Utama PT. Taspen Persero.

Intinya I.D Azis merasa prihatin sebagai seorang Pensiunan yang semasa muda telah bekerja dengan penuh kesungguhan, tanpa berharap lebih dengan keikhlasan yang penuh, walaupun digaji dibawah standar hidup layak.

Akan tetapi tidak adanya penghargaan dan sedikitpun perhatian kepada para Pensiunan dari Pemerintah Bapak Joko Widodo, Bapak Bambang Brojo Negoro Menko Keuangan Republik Indonesia yang telah menganggap Pensiunan adalah manusia tak berarti yang hanya menjadi Beban Negara, memberati APBN pada tiap tahun, kata I.D Azis yang mengutif ucapan pejabat yang punya rasa terima kasih dan tidak mereka patut mebghirmati para pensiunan di negeri ini.

Uang Pensiun PNS itu bukan bagian dari APBN, tetapi merupakan hasil tabungan para pensiunan yang dikumpulkan dan dipotong dari gaji setiap bulan. walau dengan gaji yang ada itu nilainta di bawah standar hidup yang layak.

Tabungan Pensiun itu, kata I.D Aziz adalah uang tabungan asuransi yang dikembangkan secara bunga bertumbuh setiap bulan selama 30 tahunan lamanya.

Jadi bila diperhitungkan dengan standar BI rate uang pensiun terendah PNS Gol II itu akan mencapai Rp2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu rupiah) per bulan.

Perhitungan dengan Standar BI Rate 6% per tahun yang dipotong dari 4,75 % gaji selama 30 tahun akan menghasilkan dana pensiun lebih dari Rp 500.000.000,- (Lima ratus juta rupiah). Untuk Golongan III saja besarnya bisa mencapai Rp 1.000.000.000,- (satu miliar). atau jika dikinversi dengan nilai pensiun per bulan yang benar akan menjadi Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah).

Selama ini menurut I.D Azis, mereka yang merima uang pensiun hanya bernilai sekitar 40% dari potensi dana pensiun yang mereka tabung itu.

Itulah yang menbuat I.D Azis protes keras langsung pada Presiden Joko Widodo. Mengapa para pensiunan bisa di anggap jadi beban APBN?

Anggapan pada para pensiunan di negeri adalah beban APBN bukan saja tak etika berbangsa dan bernegara, tapi juga cermin dari pandangan materialistik terselubung yang hendak melepas tanggung jawab, atau ada hasrat terselubung untuk mengambil alih dana Taspen yang juga bejibun nilainya seperti asuransi Jiwasraya, AJB Bumiputra dan BPJS Tenaga Kerja yang lagi bermasalah dalam hal keuangan itu juga.

Atau, mungkin PT. Taspen pun sedang dalam skenario bancaan pula?

Edt: Redaksi (AN)