Penyakit Impor Yang Membawa Juga Penyakit Buat Negeri Kita

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Ratusan ton jahe yang diimpor dari Myanmar dan India mengandung bakteri yang berbahaya telah dimusnahkan oleh Balai Karantina Mojokerto.”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Barang impor itu ternyata menjadi penyakit bagi warga bangsa Indonesia, tapi nyata membawa penyakit yang membahayakan bagi kehidupan kita. Pandemi Covid-19 itu bagian impor yang menjadi wabah di negeri kita.

Ratusan ton jahe yang diimpor dari Myanmar dan India mengandung bakteri yang berbahaya telah dimusnahkan oleh Balai Karantina Mojokerto. (Jum’at, 26 /03/21). Pihak Petugas Balai Karantina Pertanian Mojokerto menunjukkan ratusan ton jahe impor asal India dan Myanmar itu akan segera dimusnahkan. Karena jahe impor asal India dan Myanmar tersebut tidak memenuhi persyaratan karantina serta berpotensi menebar hama penyakit di Indonesia. 

Hasil penelitian Balai Karantina Mojokerto, jahe impor tersebut masih bercampur tanah yang mengandung bakteri serta virus nematoda berjenis aphelenchoides-fragarariae. Karena bakteri dan virus ini bisa membahayakan lahan pertanian jahe Indonesia. 

Impor ratusan ton jahe asal Myanmar dan India ini di impor oleh tiga perusahaan, PT Indopark dari Jambi; PT Putra Jaya Abadi dari Palembang dan PT Mahands Surabaya. 

Ratusan ton jahe impor tersebut dimusnahkan dengan cara dibakar di incenerator bersuhu tinggi, sehingga bakteri dan virus ikut musnah. 

Sekretaris Badan Karantina Jawa Timur, Wisnu Haryana mengatakan, secara administrasi impor jahe asal India dan Myanmar telah memenuhi syarat. Namun, setelah dilakukan penelitian di laboratorium mengandung organisme pengganggu tumbuhan yang dapat membahayakan keberadaan tanaman jahe di indonesia.

Artinya, pandemi Covid-19 itu bukan satu-satunya jenis bakteri yang masuk dari negeri asing ke negeri kita. Maka itu ajakan Presiden untuk membatasi (katanya sih kita harus membenci) produk asing itu sungguh rasional. Asalkan tidak cuma basa-basi belaka. Termasuk impor beras yang menghebohkan itu saat musim panen raya petani berlangsung. Bila saja tidak dibuat ribut oleh banyak pihak, pastilah mudharat dari barang impor sertupa itu akan masuk juga ke Indonesia dan dikonsumsi oleh banyak orang.

Seperti garam, gula, jagung dan daging yang tak pernah menjadi perhatian serius pemerintah agar dibudidayakan sendiri oleh petani, petambak maupun nelayan prubumi di negerinya sendiri.

Edt: Redaksi (AN)