Penyesalan Dan Permohonan Maaf Seorang Musisi Yang Keliru Mempromosikan RUU Omnibus Law

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Permohonan maaf karena mempromosikan RUU Cipta Kerja, diakui yang bersangkutan suatu kekeliruan”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Ada sejumlah artis yang mengaku dibayar untuk mempromosikan RUU Omnibus Law Cipta Kerja guna membangun image untuk memberi kesan seakan-akan RUU (Rancangan Undang-undang) Omnibus yang sedang ditentang oleh kaum buruh Indonesia ini bisa diterima kalangan selebritis Indonesia. Sehingga akhirnya dapat mempengaruhi pendapat umum bahwa Omnibus Law itu baik-baik saja adanya.

Padahal RUU Omnibus Law Cipta Kerja yang sedang riuh dipersoalkan pembahasannya di DPR RI sekrang ini jauh dari kepentingan para selebriti yang tak mungkin pula bisa disamakan dengan kepentingan kaum buruh. Tapi karena para artis itu dibayar dengan order yang dimaksud untuk mempromosikan RUU yang sedang mengancam hidup dan masa depan kaum buruh Indonesia ini, publikasinya pun terlajur viral, meski kemudian diralat habis oleh yang berangkutan melalui media sosial dengan pengakuan menyesal dan juga segera mengembalikan duit pembayaran untuk promosi itu yang sempat diaf terima.

Permohonan maaf karena mempromosikan RUU Cipta Kerja, diakui yang bersangkutan suatu kekeliruan. Sehingga kompensasinya pun uang pembayaran ‘kampanye’ yang sudah diterima dia kembalikan kepada pemberi orderan itu. Dan memang cukup meyakinkan adanya penyesalan dan kekeliruan –atau bahkan ketakutan pada pihak buruh– yang sudah meluap kemarahannya lantaran RUU Omnibus Law yang sempat terpeleset sebutannya (RUU Celaka) yang sangat terkesan dipaksakan mulai dari penyusunan hingga pembahasannya di Badan Legisasi DPR RI.

Aksi promosi para artis yang diposting melalui Instagram tersebut memang terus menuai kecaman dari netizen. Kutipan pemberitaannya menyebutkan sederet selebriti Tanah Air menuai kritik karena mempromosikan RUU Cipta Kerja melalui video bertagar #IndonesiaButuhKerja yang diunggah di Instagram.

Seorang diantaranya adalah Ardhito Pramono. Dia akhirnya memang langsung angkat bicara soal hal tersebut. Ardhito Pramono menyampaikan dalam thread Twitter pada Jumat (14/8).

Lima poin penting penjelasannya, dintaranya membenarkan memang telah menerima tawaran untuk mempromosikan RUU Cipta Kerja. Hanya saja dia mengatakan promosi tersebut tidak mencantumkan keterangan tentang Omnibus Law. Ia hanya mendapat informasi bahwa kampanye tersebut tidak ada kaitannya dengan kepentingan politik.

Ardhito Pramono mebenarkan hanya menerima brief untuk ikut kampanye dalam tagar #IndonesiaButuhKerja” dan menerima bayaran.

“Seperti kerjasama saya dengan sebuah brand,” tulisnya. “Namun dalam brief yang saya terima dari publicist saya, tidak ada keterangan tentang Omnibus Law.”

Berikutnya (2) “Saya bertanya apakah ada kepentingan politik tertentu? Jawaban publicist saya; tidak.

Tujuannya hanya membuat tenang di tengah pandemi, karena akan adanya lapangan pekerjaan nantinya” kata Ardhito Pramono.

Selain itu (3) kata Ardhito Pramono. “Saya juga bertanya, apakah ada hubungan dengan Omnibus law?” Lalu jawabannya, tidak ada.

“Saya kemudian bertanya karena saya hanya musisi, nggak paham politik dan tidak punya pengetahuan akan isu-isu tersebut sehingga saya tidak ingin digiring ke ranah yang tidak saya pahami.”

Ardhito Pramono lantas meminta maaf karena seolah tak berempati pada orang-orang yang sedang berjuang menolak RRU Cipta Kerja. Dia pun merasa perlu untuk mengatakan ke depannya akan berhati-hati dalam menerima tawaran promosi seperti itu.

Yang pasti, (4) atas ketidaktahuan dan seakan seperti nirempati pada mereka yang sedang memperjuangkan penolakan terhadap RUU ini, saya mohon maaf. Ke depan saya akan berusaha lebih berhati-hati dan peduli,” katanya menyesal. “Saya musisi. Bukan buzzer.

Saya ingin memiliki pengaruh, tapi melalui musik yang saya buat. Terima kasih, seperti, permohon ampunan.
Pada bagian akhir klarifikasinya, Ardhito Pramono mengatakan ia telah meminta manajernya untuk mengembalikan bayaran yang ia terima karena memposting tagar #IndonesiaButuhKerja. “

Begitulah (5), atas permintaan maaf ini, ia bernjanji untuk meminta publicistnya mengembalikan pembayaran yang sudah sempat diterimanya dari jasa postingan tagar #IndonesiaButuhKerja,” kata Ardhito Pramono secara terbuka dan dipublis dalam berbagai media sosial yang ada.

Edt: Redaksi (AN)