Peradaban Yang Sirna

Foto: Doc. Anton Nursamsi

“Zaman sekarang, tidak ada jaminan bahwa orang berpendidikan pasti beradab”

Oleh: Anton Nursamsi

Jakarta (Bintangtimur.net) – Terkadang pikiran saya suka liar. Sesuatu yang mungkin tidak dipikirkan oleh orang lain, malah saya pikirkan sambil menikmati secangkir kopi kerinduan.

Meneguk kopi saat hujan tengah malam, memang menenangkan pikiran. Apalagi di saat orang-orang terlelap bersama mimpi-mimpinya.

Saat itulah pikiran liar saya berpetualang.

Saya merenung bahwa masyarakat di sekeliling saya sekarang sudah kehilangan peradaban dalam keseharian. Namun sebelumnya, di sini saya tegaskan, yang saya bicarakan adalah kehidupan sosial di tengah masyarakat sekitar saya. Kalau lebih sedikit, anggap saja itu bonus.

Masyarakatku …

Dulu bumi pertiwi ini terkenal dengan nilai-nilai peradaban masyarakatnya. Di mana gotong-royong, ramah tamah dan sejenisnya, seakan menjadi identitas bangsa.

Rasa saling menghargai sudah melekat. Mengalir dalam setiap darah dan helaan nafas. Turun menurun peradaban itu seakan menjadi warisan mutlak dari nenek moyang.

Dalam agama, jangankan adab untuk menghadap Tuhan, adab kepada sesama pun ada.

Namun sayang, sayang sekali …

Semua hal di atas telah mengalami pergeseran. Tergerus oleh nilai-nilai budaya asing. Baik itu digerus oleh efek negatif dari internet, membaurnya bangsa asing, efek kemajuan zaman, ditambah lagi budaya-budaya medsos. Bahkan masuknya budaya kuliner.

Dalam lamunan, saya menjadi bertanya-tanya, berapa presentasi orang-orang yang masih memakai adabnya dalam kehidupan sehari-hari?

Dahulu, jika ada orang yang usianya lebih tua di hadapan, lalu kita ingin lewat di depannya, pasti kita akan membungkukan badan sambil bilang permisi.

Sekarang? Contoh kecil di atas mungkin hanya mengangkat alis. Atau juga hanya acuh tak acuh.

Contoh kecil di lingkungan saya, ada tetangga asik utak-atik motornya. Baik itu siang, sore, bahkan malam hari sekalipun. Tanpa mengenal waktu. Dengan knalpotnya yang membuat bising telinga, mereka menarik kabel gas seolah tidak peduli apakah mengganggu tetangga sekitar, atau tidak.

Bagi mereka mungkin enjoy. Tetapi bagi masyarakat sekitarnya? Di mana rasa saling menghargai dan saling menghormati?

Ke mana perginya nilai-nilai peradaban selama ini?

Zaman sekarang, tidak ada jaminan bahwa orang berpendidikan pasti beradab.

Kalau ada yang mengatakan orang berpendidikan pasti beradab, jawabannya adalah mungkin hanya segelintir saja.

Adab di masyarakat seakan sirna bagaikan desiran angin yang lenyap tanpa jejak.

Sungguh ironis sekali.

Tapi nilai-nilai peradaban leluhur itu masih bisa dikembalikan dan dipertahankan.

Bagaimana caranya?

Tentunya dengan menumbuhkan rasa saling menghargai dan saling menghormati dalam diri.

Karena kalau tidak dimulai dari diri kita, mau dari siapa lagi?

Jangan terlalu di ambil hati. Ini hanya celoteh pemikiran yang liar saja. Karena menurut orang juga, kalau pikiran tidak dikeluarkan, nanti bisa-bisa malah menjadi beban.

Saya tidak ada kesan menyalahkan atas kemajuan zaman. Hanya saja saya menyayangkan. Kenapa kita sampai terpedaya oleh kemajuan zaman sehingga kehilangan jati diri?

Edt: Redaksi (AN)