Perang Asimetris Dari Mimbar Politik Sampai Pasar Tradisional

Foto: (Ist)

“Sikap politik terhadap Islam seperti ini dengan sendirinya menjadi salah satu penyulut terdahsyat bagi meningginya Islamophobia di negara ini”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Praktek perang asimetris tidak hanya mungkin dilakukan seperti teror yang sudah demikian gencar uarusveihasapi Umat Islam dengan ditakut-takuti sebagai HTI, Wahabi, dan radikalisme seperti yang menjadi topik perbincangan banyak orang sekarang, tidak hanya di Indonesia. Gejala ini jadi terkesan sinkron dengan rasa gundahnya. Samuel P Huntington yang menyebut tiga peradaban besar yang akan menimbulkan benturan dahsyat adalah Barat, China dan Islam.

Jika premis ini benar, wajar bila sejumlah tokoh patut segera mengingatkan tentang isu yang menteror itu sebagai upaya menipu atau agar dapat membutakan umat Islam dari ancaman yang sesungguhnya, sehingga paham komunisme bisa melenggang enak melakukan apa yang dia inginankan dari negeri kita.

Agaknya begitulah cernaan dari pemikiran akal sehat yang bisa dipetik dari paparan Prof Dr Achmad Zahro, Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Prof Dr Aminuddin Kasdi, Guru Besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Drs Choirul Anam, mantan Ketua GP Ansor Jatim, pada acara bedah buku “NU Jadi Tumbal Politik Kekuasaan Siapa Bertanggung Jawab?”, Selasa 26 Februari 2019. Buku ini ditulis Choirul Anam yang dikenal sebagai tokoh NU kultural.

Achmad Zahro melihat umat Islam sedang digiring untuk membenci faham Wahabi. Bahkan diantaranya ada yang mengatakan bahwa Wahabi itu iblis. “Kalau Wahabi itu iblis, berarti orang-orang yang shalat jamaah di Masjidil Haram Mekah itu jadi makmum kepada iblis.

Imam di Masjidil Haram itu sendiri memberi kesaksian bahwa orang yang mengikuti cara Wahabi yang bermazhab Hambali, termasuk Sunni (ahlus sunnah wal jamaah). Dan sesungguhnya, mazhab Hambali termasuk yang juga diakui oleh Nahdlatul Ulama (NU) di samping Mazhab Syafi’i, Mazhab Maliki, dan Mazhab Hanafi.

Lalu Umat Islam seperti sengaja dibuat kabur untuk memahami Mazhab Wahabi yang didirikan Muhammad bin Abdul Wahab dengan aliran yang didirikan Abdul Wahab bin Abdurrahman Al Khoriji, selaku pendiri mazhab Khawarij. Padahal yang sesat itu adalah Khawarij, karena suka mengkafirkan orang Muslim.

Zahro yang juga dikenal sebagai Ketua Ikatan Imam Masjid Indonesia ini melihat HTI memang mrmiliki kekuatan dahsyat yang mampu mengganti Pancasila dengan sistem khilafah. Padahal khilafah versi HTI itu hanya gagasan. Karena HTI sendiri relatif kecil dan tidak memiliki negara induk. Beda misalnya dengan Syiah yang memiliki negara Iran. Jadi isu HTI dan Wahabi yang tersebar secara massif ini, sama dengan hoax. Sekedar jurus dari perang asimetr untuk mengaburkan pandangan Umat Islam dari ancaman yang sesungguhnya yaitu neo komunisme.

Dan sekarang di Indonesia, komunis sudah masuk dan merambah dalam bidang ekonomi seperti yang diusung oleh Cina. Sejarah toh mencatat bahwa Republik Rakyat China (RRC) tetap kukuh dengan ideologi komunis, namun untuk ekonomi mereka sudah menganut model kapitalis atau semi neo-liberal.

Imam Syamsi Ali melaporian suasana menjelang Pemilu di Amerika pun tak kalah seru dan menegangkan bagi Umat Islam. Ceritanya, cukup dramatik dan menarik untuk disimak juga. Betapa tidak, Pemilu Amerika dan Islamophobia Imam Shamsi Ali melaporkan suasana menjelang Pemilu di Amerika ikhwal Islamophobia pun tidak kalah menegangkan dan seru.

Katanya, hampir sama dimana saja di dunia, isu agama menjadi salah satu isu yang hangat ketika sebuah negara itu memasuki musim politik. Tak kecuali negara maju atau negara berkembang, bahkan negara yang sangat terbelakang sekalipun menjadikan isu agama selalu menjadi pembahasan seksi di kalangan politisi.

Amerika bukan pengecualian. Agama, dalam hal ini Islam dan Muslim serta segala yang terkait dengannya bahkan tidak jarang menjadi isu hangat dalam perdebatan-perdebatan politik.

Sikap politik terhadap Islam seperti ini dengan sendirinya menjadi salah satu penyulut terdahsyat bagi meningginya Islamophobia di negara ini. Masyarakat umum, khususnya mereka yang menjadi pendukung fanatis kandidat tertentu akan tersulut rasa takutnya dan terbakar sumbuh amarahnya kepada agama ini dan pemeluknya.

Karenanya bagi komunitas Muslim Amerika, pemilu 2020 mendatang menjadi salah satu arena pertarungan yang menentukan wajah Amerika dalam memandang komunitas Muslim minimal 4 tahun ke depan.

Oleh karena itu umat Islam Amerika akan “all-out” dalam mengambil partisipasi politiknya di Amerika. Strategi ini agaknya jadi pilihan terbaik untuk menangkal kemungkinan semakin memburuknya Islamophobia makin menjadi-jadi.

Umat Islam di Indonesia kata sejumlah pengamat telah dipenjara dan takut pada istilah radikalisme. Jika ada umat Islam bersikap asyyida’u alal kuffar (bersikap keras terhadap orang kafir) dianggap radikal dan tidak toleran. Lalu dengan gampang disamakan dengan ISIS, Al Qaeda atau orang yang membuat aksi teror.

Meski teror yang lebih nyata bagi masyarakat adalah harga bahan pokok impor yang juga telah membunuh petani. Lucunya dalam perang asimetris di ladang serta pasar di negeri kitabini, Presiden justru pongah mengatakan adanya peluang yang masih bisa dimanfaatkan oleh pengusaha pribumi.

Agaknya, begitulah perang asimetris yang harus kita hadapi sekarang. Mulai dari mimbar politik hingga pasar tradisional kita telah menjadi medan pertempuran. Sehingga perebutan kekuasaan pada momen apapun telah dipenuhi oleh pesan sponsor atau bohir yang siap memborong semuanya agar kemudian bisa menguasai secara mutlak. Maka itu jual beli jabatan menjadi halal di instansi atau departemen keagamaan kita.

Sungguh tragis dan betapa malangnya nasib genetasi mileneil Indonesia sekarang, karena terpaksa dan juga dipaksa untuk berperang pula menghadapi warga bangsanya sebdiri.

Edt: Redaksi (AN)