Perang Asimetris Sedang Mengincar BUMN Krakatau Steel

Foto: (Ist)

“Industri baja lokal dihadapkan dalam perang tanding yang pelik. Harga baja nasional keok bersaing dengan baja impor”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Membiarkan PT. Krakatau Steel di serangan baja impor, boleh jadi cara mudah untuk kemudian menjualnya pada pihak asing. Namanya juga perang total asimetris sedang gencar menyergap kita, semua peluang dan kesempatan bisa saja hilang direbut dan dikuasai oleh neokolonialis yang mendapat sambutan dari para makelar yang ada dalam lingkiran kekuasaan.

Dan mereka bukan cuma memiliki birahi untuk memperkaya diri dan kroninya saja, tapi juga mau berkhianat pada bangsa dan negara tanpa rasa berdosa sedikitpun.

Dari pihak PT Krakatau Steel (KS) sendiri pun menduga kuat ada konspirasi skala dalam internasional untuk mematikan daya saing baja Indonesia, hingga kemudian bisa gampang dialih-tangankan kepada pihak asing atau mereka yang menjadi kaki tangan dari kaum kolonialis yang mendapat angin segar untuk menguasai nrgeri kita.

Membanjirnya baja impor murah ke negeri kita Indonesia, meski baja impor itu berkualitas buruk, jelas akan mematikan produk dari dalam negeri, seperti bahan pangan yang jadi enggan diusahakan oleh petani kita, mulai dari garam, gula, beras, hingga jagung dan kacang kedelai, seakan tidak mungkin dapat mencapai hasil  swasembada.

Direktur Utama PT KS Silmy Karim mengakui pada 2018 saat terberat bagi dunia industri baja nasional. Karena baja impor membanjiri pasar dalam negeri, mulai dari produk hulu hingga produk hilir, katanya, seperti rilis resmi yang heboh pada 5 Maret 2019.

Industri baja lokal dihadapkan dalam perang tanding yang pelik. Harga baja nasional keok bersaing dengan baja impor. Bahkan, jumlah impor sangat banyak, seperti menteror pasar lokal. Akibatnya tentu nilai jual baja anjlok drastis. Karena intervensi dan digasak harga baja impor yang murah itu, katanya pada acara acara Workshop Standardisasi dan Pengembangan Klaster Industri Baja atau Logam, di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) KS, pada 4 Maret 2019.

Menurut dia, ada indikasi jika hal tersebut sengaja dilakukan pihak luar untuk mematikan daya saing baja nasional. Mengingat kualitas baja Indonesia cukup bisa bersaing pada skala internasional.

“Saya melihat ada upaya dari luar agar baja nasional kalah bersaing. Tidak hanya pada skala internasional, ini pun dilakukan di negeri sendiri,” ujarnya.

Menurut dia, salah satu persoalan yang dihadapi industri baja, yakni permainan para pengimpor baja karbon (carbon steel) dari Tiongkok dengan memanipulasi kode komoditas (harmonized system atau HS code). Baja karbon tersebut diimpor menggunakan HS code untuk baja paduan (alloy steel).

“Importir menggunakan HS code baja paduan untuk baja karbon, agar tidak dikenakan bea masuk. Sementara, mereka mendapatkan insentif dari negara asalnya ketika mengimpor baja karbon,” ucapnya.

Kondisi tersebut, tutur dia, membuat harga baja impor lebih murah dibandingkan produksi dalam negeri, sehingga hal tersebut, cukup mengganggu pasar baja di Indonesia. “Pasar baja hingga produsen baja mengalami kesulitan dengan adanya gerakan ini,” katanya.

Ia mempersoalkan aturan pemeriksaan barang di luar kawasan kepabeanan atau post border yang saat ini diterapkan Pemerintah Indonesia. Menurut dia, sistem post-border tidak optimal, sehingga baja karbon yang menggunakan HS code baja paduan dapat dengan mudah masuk ke Indonesia.

Peraturan Menteri Perdagangan, sepeti Permendag Nomor 110 Tahun 2018 bisa saja dibuat lebih banyak, tapi dejauh mana keberpihakan dan jaminannya untuk melindungi produk anak bangsa sendiri guna bersaing di tingkat dunia dan di negeri sendiri, justru dominan disebabkan oleh peraturan yang tidak berpihak pada usaha dari produk anak negeri sendiri, hingga terkulai dibantai produk asing. Masalahnya regulasi pun acap dilakukan atas dasar pesanan pemilik uang.

Coba saja periksa
hasil revisi Permendag Nomor 22 Tahun 2018 menjadi Permendag Nomor 110 Tahun 2018, yang disebut sebagai mother of industries, industri baja. Sungguhkah sudah memenuhi harapan dunia usaha dan perdagangan di Indonesia ?

Cara membuat bangkrut terus diberi hutang, agar kemudian bisa dijual kepada asing atau pihak yang punya duit, sudah menjadi pengetahuan masyarakat luas.

Krakatau steel ditengarai sedang jadi target perang asimetris yang tengah bergolak di Indonesia. Nasibnya KS sama seperti perusahaan penerbangan Indonesia Garuda. Apalagi kondisi Krakatau Steel sudah dinyatakan sakit parah.

PT. Krakstau Steel adalah perusahaan milik negara yang terbulang sekaliber raksasa, tapi terancam bangkrut. Lalu siapa yang akan mencamploknya, tunggu saja nanti jika transaksinya tidak digagalkan.

Edt: Redaksi (AN)