Perlakuan Biadab Tehadap Jurnalis Indonesia Tidak Bisa Dibiarkan

Foto: Jacob Ereste

“Setidaknya demi tegaknya hukum dan adanya kepastian pada perlindungan terhadap kebebasan pers dapat tetap terjaga dengan baik di Negeri ini”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Sebagai pekerja pers dan jurnalis saya mengutuk sekeras-kerasnya perlakuan biadab terhadap rekan kami seorang Jurnalis Tempo. Karena perlakuan dan penganiyaan yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab itu tidak bisa dibenarkan dari segi apapun.

Kecuali melanggar hukum serta prinsip-prinsip kebebasan Pers, penganiayaan yang dialami jurnalis Tempo, Nurhadi, pada hari Sabtu 27 Maret 2021, merupakan pelanggaran terhadap kebebasan pers serta KUHP maupun UU Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Karenanya, saya mendesak penegak hukum untuk segera memproses dan menuntut para pelaku serta dalangnya yang memerintahkan untuk melakukan tindakan yang semena-mena itu segera ditangkap dan diadili untuk dijatuhi hukuman yang seberat-beratnya. Karena telah mencederai tatanan hukum dan melecehkan profesi pekerja pers atau jurnalis.

Penganiayaan terhadap Nurhadi selaku pekerja pers ketika sedang menjalankan tugas jurnalustik untuk redaksi Majalah Tempo saat meminta konfirmasi kepada mantan Direktur Pemeriksaan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Angin Prayitno Aji, perlu dan harus diusut hingga tuntas. Jika tidak, maka kasus serupa akan menjadi preseden buruh dalam budaya hukum dan demokrasi kita yang mengharap iklim keterbukaan dan transparansi demi dan untuk kepentingan orang banyak.

Konfirmasi yang hendak dilakukan Saudara Nurhadi terkait dengan penetapan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang telah menyatakan Angin Prayitno Aji sebagai tersangka dalam kasus suap pajak.

Penganiayaan dilakukan oleh para pengawal Angin Prayitno Aji yang menuduh Nurhadi masuk tanpa izin ke acara resepsi pernikahan anak Angin Prayitno Aki ke Gedung Graha Samudera di komplek Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan laut Surabaya, Jawa Timur, pada hari Sabtu 27 Maret 2021 malam.

Meski Nurhadi telah memberi penjelasan ikhwal statusnya sebagai wartawan Tempo yang sedang menjalankan tugas jurnalistik, mereka tetap merampas telepon genggam Nurhadi dan memaksa untuk memeriksa isinya.

Kecuali itu Jurnalis Majalah Tempo ini pun ditampar, dipiting, dipukul di beberapa bagian tubuhnya. Dan untuk memastikan Nurhadi tidak melaporkan hasil reportasenya, dia juga disekap lebih dari dua jam lamanya di hotel yang ada di Surabaya.

Tempo menilai kekerasan ini merupakan tindak pidana pelanggaran berat, karena dibarengi dengan penyekapan dan pengabiayaan secara bersama-sama terhadap Nurhadi yang sudah tidak berdaya.

Dalam UU No. 40 Tahun 1999 Tentang Pers, pasal 18 ayat 1 bahwa tindakan yang menghambat atau menghalangi kegiatan jurnalistik. Ancaman hukuman untuk pelanggaran ini adalah seberat-beratnya lima tahun enam bulan penjara.

Sikap redaksi Mahalah Tempo yang menyatakan:

1). Meminta Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta menindaklanjuti kasus kekerasan terhadap jurnalis Tempo dan memeriksa semua anggotanya yang terlibat. Setelah semua berkas penyidikan lengkap, kami menuntut pelakunya dibawa ke meja hijau untuk menerima hukuman yang setimpal, sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2). Meminta Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk memerintahkan jajarannya di Divisi Profesi dan Pengamanan Mabes Polri untuk memproses pelaku secara disiplin profesi dan memastikan kasus ini merupakan aksi kekerasan terakhir yang dilakukan polisi terhadap jurnalis.

3). Memohon bantuan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Komisi Nasional untuk Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan Dewan Pers, untuk melindungi korban dari ancaman kekerasan lebih lanjut dan mengawal proses hukum atas kasus ini.

4). Menghimbau semua pihak untuk menghormati kerja-kerja jurnalistik yang dilindungi oleh UU Pers, demi terjaminnya hak publik untuk tahu dan mendapatkan informasi yang akurat mengenai isu-isu yang penting bagi orang banyak, patut didukung oleh segenap insan pers agar kasus serupa tidak lagi sampai terjadi di Indonesia. Demikyan release yang kami terima dari Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Wahyu Dhyaymika serta Anton Septian selaku Redaktur Eksekuti pada hari Minggu Petang, 28 Maret 2021.

Setidaknya demi tegaknya hukum dan adanya kepastian pada perlindungan terhadap kebebasan pers dapat tetap terjaga dengan baik di Negeri ini.

Edt: Redaksi (AN)