Petani Cabai Merah Kriting Di Semarang Gagal Panen

Foto (Ist): “Cabai yang masih berwarna hijau tersebut kemudian dikumpulkannya dan dijual walaupun hanya dihargai Rp 10 ribu per kilogram”

JAKARTA (Bintangtimur.net) – Para petani cabai merah keriting di Dusun Krajan, Desa Munding, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, tidak bisa mengoptimalkan hasil panen saat harga komoditas cabai di tingkat petani mulai membaik. Hal itu akibat banyak tanaman cabai yang rusak karena terjangan angin kencang.

Dalam beberapa pekan terakhir, hujan disertai angin kencang jamak turun di wilayah desa mereka, hingga tanaman cabai yang sebenarnya hanya tinggal menunggu merah-ambruk dihempaskan angin.

“Akibatnya, tak sedikit pohon cabai yang sudah berbuah pun ambruk dan beberapa batangnya patah karena angin,” ungkap Samijah (57), salah seorang petani cabai keriting Dusun Krajan, Desa Munding, yang ditemui di kebunnya, Minggu (17/2).

Sehinga, tanaman cabai menjadi layu dan ini membuat buah cabai tidak akan bisa menjadi berwarna merah. Jika dibiarkan lama kelamaan buah cabai yang sebenarnya hampir siap panen tersebut juga akan menjadi layu.

Oleh karena itu, ia pun terpaksa memetik cabai lebih dini, dari tanaman yang ambruk tersebut. Cabai yang masih berwarna hijau tersebut kemudian dikumpulkannya dan dijual walaupun hanya dihargai Rp 10 ribu per kilogram.

“Sayang kalau cabai dari tanaman yang ambruk ini dibiarkan layu, walaupun sebenarnya kalau cabai keriting tersebut bisa dipanen normal harga jualnya bisa menjadi dua kali lipat,” ujar Samijah.

Hal ini diamini oleh Sumari (59 tahun), petani cabai di Dusun Krajan lainnya. Para petani sebenarnya sudah memasang bilah-bilah bambu untuk membantu menahan batang tanaman cabai tersebut agar tidak mudah ambruk.

Namun upaya pemasangan bilah bambu ini tetap tidak mampu menyelamatkan tanaman cabainya, karena angin dalam beberapa pekan terakhir memang bertiup sangat kencang di lahan pertanian warga.

Apalagi tanaman cabai merah keriting ini ditanam di lahan terbuka yang di sekelilingnya sama sekali tidak terlindungi oleh tanaman yang lebih besar dan lebih kuat untuk menahan hembusan angin.

“Dari total tanaman cabai yang saya tanam di atas lahan seluas 420 meter persegi ini, seperempat tanaman di antaranya ambruk karena hempasan angin,” katanya.

Dengan cara tumpangsari ini, ia berharap masih ada hasil lain yang bisa diperoleh selain dari tanaman cabai. Sebab untuk lahan cabai seluas 300 meter persegi bisa menghasilkan rata-rata sebanyak 50 kilogram cabai merah keriting.

Samijah menambahkan, untuk memaksimalkan hasil dari lahan pertaniannya, kini ia pun ‘menyulami’ lahan tanaman cabai tersebut dengan tanaman sawi. Ia menebarkan bibit tanaman sayuran ini di sela-sela tanaman cabai yang masih bertahan.

“Namun, setidaknya masih bisa mendapatkan hasil dari tanaman sawi, yang saya tanam tumpang sari dari lahan tanaman cabai ini,” .ucapnya.

Karena tanaman cabai yang ditanam kali ini sebagian di antaranya telah dipanennya lebih dini, maka dapat dipastikan pada saat panen nanti hasilnya tidak akan mampu mencapai 50 kilogram. (AN)