Piawainya Daeng Utteng Menulis Kisah Imam Shamsi Ali Pusaran Peradaban Dunia

Foto: (Ist)

“Kisah otentik Imam Shamsi Ali yang ditulis Daeng Utteng sungguh unik, mengagumkan”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Sungguh luar biasa wawasan pengetahuan dan kepiawaian saudaraku Imam Shamsi Ali yang menulis tentang Imam Shamsi Ali. Begitulah kekagumanku pada sosok beliau, bukan saja karena punya riwayat se-daerah asal dari Bulukumba, Sulawesi Selatan, seperti Ibuku, tapi hebatnya berkisah seperti penulis ulung yang memiliki jam terbang luar biasa.

Takaran ini tentu lebih afdol menggunakan diriku sendiri yang sudah lama bergulat dengan profesi jurnalis, tak kurang dari 40 tahun tanpa jeda (1976 – sampai sekarang, persisnya 43 tahun, sejak usia 21 tahun), jelas rasa hormat dan salut, karena Daeng Utteng bisa memperoleh nama beken menjadi Imam Shamsi Ali seperti yang sudah dikenal banyak orang sekarang.

Daeng Utteng asal Bulukumba Sulawesi Selatan, sungguh tidak jelas apakah ada pertalian saudara dengan Ibuku tercinta yang cuma bisa mengaku berasal dari daerah yang sama, Bulukumba.

Meski kisah pengelanaan mereka mungkin jauh berbeda, hanya mungkin tidak kalah unik dan menarik diantara sesamanya. Sebab sejak kecil Ibundaku sudah berada di perantauan, lalu mendapat kampung yang baru di dalam hatinya. Yang pasti adalah, sejarah perahu Phinisi yang telah menjadi legenda kebanggaan bangsa bahari ini mereka relakan terkelupas dari nama keluarga hingga terlupan dari catatan tinta emas sejarah.

Kisah otentik Imam Shamsi Ali yang ditulis Daeng Utteng sungguh unik, mengagumkan. Agaknya, jika tak cukup cermat, kemampuan Daeng Utteng menulis tentang sosok dirinya yang telah berganti nama menjadi Imam Shansi Ali bisa mengecoh pembaca yang kurang cermat. Karena kepiawaian Daeng Utteng membuat jarak antara dirinya sendiri sebagai penulis dan dirinya sebagai obyek yang sedang dia kisahkan.

Yang menjadi terkesan janggal adalah, bagaimana mungkin sosok sehebat Daeng Utteng tidak bisa menemukan penulis biografi yang handal, jika menilik betapa luas jaringan yang dimiliki Daeng Utteng dalam pergaulan yang mampu dia bangun dengan sejumlah tokoh kakiber dunia.

Sebagai orang kampung, agak sulit bagi saya membayangkan bagaima jalan berliku yang bisa ditempuh seorang anak yang berasal dari pelosok Sulawesi Selatan mampu mengocok akal sehat para tokoh berkelas dunia di pusar peradaban yang gaduh.

Mulai dari lingkungan warga masyarakat New York yang memberinya otoritas terhormat untuk menjadi panutan hingga berimbal untuk melarang dirinya mudik ke Bulukumba. Tata pergaulan yang demikian mesra ini jelas membuat rasa cemburu tersendiri.

Begitu juga dengan konsesi istimewa yang diperoleh Daeng Utteng yang luar biasa dan istimewa itu. Dalam kaitan inilah rasa iri serta bangga dalam diriku tidak mampu kupahami seperti saat pertama mengetahui bila sosok warga bangsa Indonesia asal Bulukumba itu dapat berbuat kebaikan yang sangat besar manfaatnya untuk orang banyak di pusaran peradaban dunia.

Antara rasa iri dan bangga inilah aku kira energi besar untuk menulis rasa kagum dan ekspresi tabikku dengan segenap penghormatan yang tidak bisa ditakar, menilik sosok Daeng Utteng yang amat sangat kukagumi. Terlebih sebagai penulis, rasa cemburuku pun sungguh terusik untuk bisa memiliki dan membaca buku-buku yang telah ditulis Daeng Utteng yang berjudul “…Berperang Hingga Kiamat Atau Damai”. Atau ” Menebar Damai Di Negeri Barat”.

Pendek kata, apapun judul buku yang ditulisnya telah membuat aku merasa kasmaran untuk memikiki dan serta hendak membacanya. Sebab kisah maupun paparan analisisnya dapat aku pastikan menarik dan perlu diketahui untuk bisa memperluas wawasan dan khazanah pemikiran.

Kecuali itu pun, diam-diam aku pun merasa tertarik untuk mengetahui lebih jauh suka duka dan cerita pengembaraan intelektualitasnya yang ugal-ugalan, mulai dari awal bisa menggaet kesempatan studi dengan fasilitas beasiswa penuh yang cukup langka hingga meraih gelas S2 dan mampu berdiri gagah dengan tegak di mimbar “A Prayer For America” dalam Stadion Yankee kota New York yang dipadati warga bangsa se dunia.

Putra bangsa Indonesia asli dari Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan, ini telah membuktikan ketangguhan seperti leluhur terdahulunya yang telah menaklukkan dunia, persis seperti perahu Phinisi dari suku bangsa Bugis yang memiliki kemampuan menaklukkan samudra dan benua.

Apalagi cuma untuk menjinakkan arogansi George Bush dan Donald Trump yang culas memahami Islam secara dangkal. Setidaknya, anak desa Kajang Bulukumba, Sulawesi Selatan ini juga telah menggaet anugrah Ellis Island Gold Medals of Honor sebagai tokoh agama yang terbilang berpengaruh di Amerika. Katanya penghargaan ini setara dengan pangkat jendral berbintang lima, seperti yang diprtoleh petinju Muhamad Ali.

Edt: Redaksi (AN)