Presiden GBN Bertemu Khusus Tokoh Muda Bangsa Asli Papua

Foto: Google

“Dari Bumi Cendrawasih Papua inilah cahaya mutiara negeri pancarkan sinarnya, dan jadi auladan bagi seluruh bangsa kita yang lahir dari 750 suku bangsa”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Papua bagian sangat mendasar, dan strategis, serta memiliki kesejarahan yang panjang dan mendalam sejak nenek moyang leluhur bangsa kita. Papua secara keseluruhan termasuk Papua Nugini bagian dari Wilayah Kerajaan Majapahit Abad XIV (Kitab Negarakartagama).

Operasi TRIKORA (Tri Komando Rakyat) dengan Komando Mandala yang diumumkan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 19 Desember 1961 di Alun-alun Utara Yogyakarta yang dipimpin Mayjen TNI Soeharto, dan berlangsung hingga 15 Agustus 1963 (2 tahun), juga gugurnya Komodor Yos Sudarso di laut Aru adalah bagian yang tidak bisa dilupakan oleh siapapun atas kembalinya Papua Barat ke pangkuan RI dari Kerajaan Belanda.

Fakta sejarah lain yang tidak bisa dinafikkan adalah peranan Presiden AS, John F. Kennedy, sahabat Presiden Soekarno terkait dengan Papua. Demikian pula, seputaran Freeport yang belum kunjung usai hingga saat ini, serta hal penting dan strategis lainnya. Ada apa dengan Papua?

Papua dengan luas wilayah 315.091,62 km2 memiliki jumlah penduduk 4.346.593 jiwa tersebar di 28 Kabupaten dan 1 kota, Jayapura. Bumi Cendrawasih ini memiliki potensi sumber daya alam yang sangat melimpah, sangat kaya raya.

Tentunya dibutuhkan sebuah tata kelola secara baik, serta diperuntukkan sebesa-besarnya untuk terwujudkan sebuah keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Papua, juga segenap rakyat diseluruh tanah air. Demikian pula, keberadaan Papua dalam percaturan global.

Oleh karena itu, keberadaan infratsruktur, kecakapan sumber daya manusia, dan perecepatan transformasi menjadi sebuah keniscayaan bagi Papua. Dan di atas keberagamaan suku, agama, ras, dan etnik, serta multivarian kepentingan yang ada perlu adanya kanalisasi diatas prinsip kesejajaran dan kemanusiaan.

Saling bergandeng tangan, pupuk irama kerukunan, nada kebersamaan, serta harmoni kesatuan dan persatuan segenap rakyat Papua guna merengkuh harapan dan cita-cita bersama. Peran dan konstribusi besar dari generasi penerus bangsa, generasi milenial papua (pemuda, mahasiswa, pelajar) menjadi tumpuhan penentu nasib dan masa depan Papua.

Bagi Gumregah Bakti Nusantara (GBN), Papua adalah sangat vital, mendasar dan strategis. Baik dalam lingkup domestik maupun percaturan global. Dibutuhkan percepatan konsolidasi potensi, jaringan dan sumber daya diseluruh wilayah Papua, di 29 Kabupaten/Kota se-Papua.

Oleh karena itu, Ali Mahsun turun gunung untuk melakukan pendampingan pelaku ekonomi rakyat dan generasi penerus bangsa di seluruh wilayah bumi Cendrawasih ini menjadi skala prioritas GBN untuk dimasifkan dalam tempo secepat-cepatnya.

Karena menurutnya, kesejahteraan rakyat Papua secara berkeadilan adalah sebuah keniscayaan yang harus diwujudkan selekas-lekasnya.

Lebih daripada itu, GBN meyakini irama kerukunan, nada kebersamaan, serta harmoni kesatuan dan persatuan segenap suku bangsa di Papua dengan beragam perbedaannya terus tumbuh subur ditengah ujian berat ke-Bhineka-an yang dialami bangsa kita saat ini.

“Dari Bumi Cendrawasih Papua inilah cahaya mutiara negeri pancarkan sinarnya, dan jadi auladan bagi seluruh bangsa kita yang lahir dari 750 suku bangsa. Untuk itu, mengarus-utamakan harmoni, kerukunan umat, serta kesatuan dan persatuan bangsa adalah bagian dari misi besar GBN, dan seyogyanya juga menjadi konsern segenap elemen kekuatan elemen bangsa Indonesia,” tutup Ali Mahsun Atmo selaku Presiden GBN. (KR)

Edt: Redaksi (AN)