Presiden Jokowi ‘Enggan Mampir’ di Monumen Kebiadaban PKI

Foto: Ist

“Jarak antara lokasi presiden membagikan sertifikat dengan monumen disini ini tak jauh. Hanya sekitar tiga kilometer. Namun saya tidak tahu apa alasannya presiden tidak mampir sini,”

Madiun (Bintangtimur.net) – Presiden Joko Widodo (Jokowi) ‘enggan’ mengunjungi monumen kebiadaban PKI di Madiun, Jawa Timur. Itu terjadi saat, sekira tiga tahun lalu, Jokowi melakukan perjalanan dinas ke Desa Dungus, Kecamatan Wungu, Madiun, untuk membagikan sertifikat warga.

Keengganan presiden yang didukung penuh PDI Perjuangan itu, diungkapkan Tri Sugiatna, pemandu wisata Monumen Kresek, yang berdiri di Desa Kresek, Kecamatan Wungu. Di areal monumen seluas 2 hektar itu, pada 1948 terjadi peristiwa ‘kebinatangan’ yang dimotori PKI pimpinan Muso.

“Jarak antara lokasi presiden membagikan sertifikat dengan monumen disini ini tak jauh. Hanya sekitar tiga kilometer. Namun saya tidak tahu apa alasannya presiden tidak mampir sini,” jelas Tri Sugiatna, yang sudah 12 tahun membidangi profesinya itu, kepada jurnalis, Minggu (27/9).

Dilanjutkan Tri Sugiatna, ayah tiga anak itu, pejabat tinggi negara yang acap berkunjung ke tempat sejarah kebiadaban PKI tersebut adalah Pangdam Brawijaya, serta petinggi TNI lainnya.

Foto: Ist

Sari pati dibangunnya Monumen Kresek atas gagasan Mayjen (Purn) TNI Amir Moertono itu, menurut Tri Sugiatna sesuai literasi keluaran Pemkab setempat, yakni untuk menanamkan rasa benci sepanjang masa terhadap PKI.

“Benarlah tujuan dibangunnya monumen ini. Sebab prinsip dasar PKI itu kan tidak kenal Tuhan. Makanya yang dibunuh PKI umumnya orang orang baik budi seperti kyai dan TNI,” tutur Tri Sugiatna.

Menyaksikan gambaran ‘kekomunisan’ PKI tersebut, menyulut emosi salah seorang pengunjung monumen, Hurip, warga Desa Gambiran, Kecamatan Maospati, Magetan, yang datang mengajak istrinya. Dia mengaku geregetan tidak ketulungan terhadap sosok PKI, yang tak beda jauh dengan hewan itu.

“Umpama sekarang ini PKI bangkit lagi, sembelih aja, Mas. Sebelum kita, yang pasti, disembelih PKI,” komentar Hurip, yang seorang pendidik itu.

Foto: Pengunjung. Muso bacok KH. Sidiq. Prasasti. Pengunjung. Relief. Patung para korban

Sementara, monumen yang pembangunannya dimulai 1987 hingga selesai 1991, langsung diresmikan Soelarso, Gubernur Jawa Timur saat itu, menyimpan seribu kisah menyayat hati tentang rusaknya moral PKI.

Bangunan fisik utama berupa patung raksasa, yang berdiri di atas ketinggian bukit. Patung tersebut menggambarkan tokoh sentral PKI, Muso, tengah menghunuskan goloknya tepat ke areal leher KH. Sidiq.

KH. Sidiq adalah tokoh agama terkemuka asal Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan, Madiun. Kedatangan sang kyai ke lokasi pembantaian Kresek, akibat agitasi dan manis bibir PKI suruhan Muso.

Propaganda PKI dihadapan KH. Sidiq saat itu, gerombolan begundal PKI (yang tidak diketahui KH. Sidiq) ingin mengajak bermusyawarah memecahkan persoalan bangsa dan negara.

Menurut Tri Sugiatna, sesuai tuturan sesepuh yang jadi saksi, kesaktian KH. Sidiq yang diduga masih tersambung persaudaraan dengan Gus Dur (Abdurahman Wahid), membikin PKI yang hendak mengeksekusinya kian geregetan, sekalipun aslinya geleng geleng kepala keheranan.

“Kyai Sidiq tidak mempan dibacok, dibedil, dikepruk dan bentuk penyiksaan lain oleh PKI,” papar Tri Sugiatna.

Namun, lanjut Tri, akhirnya KH. Sidiq gugur syahid sebagai bunga bangsa dan agama, setelah salah seorang pengkhianat bangsa dan negara membocorkan ‘pengapesan’ sang kyai tersebut.

Diungkapkan ‘kunci’ nyawa sang kyai tersebut terletak di langit-langit rongga mulutnya. Maka, segera PKI mengambil sebilah bambu yang diraut runcing menyerupai paku.

Kemudian ditempel di rongga mulut korban, yang masih mengenakan kelengkapan kebesaran kyai, kemudian dihentak palu dari bawah ke atas. “Allahu Akbar,”. Itu kata akhir KH. Sidiq sebelum akhirnya wafat di tangan para komunis Indonesia.

Kecuali KH. Sidiq, bengisnya PKI juga menyambar Supardi, yakni wartawan free lance asal Madiun. Juga Kolonel TNI AD Marhadi, serta sejumlah petinggi TNI, ulama, tokoh masyarakat, pejabat birokrasi dan Polisi.

Sayangnya hingga saat ini minim nara sumber, untuk mengungkap jati diri para korban.

“Sejak dulu hingga kini, Pekerjaan Rumah terbesar bagi Pemerintah Kabupaten, secara umum, adalah tidak segera dilakukan investigasi guna mengetahui jati di para korban secara rinci dan detil,” ungkap Heri, mantan kepala desa setempat.

Di bagian depan patung utama terdapat deretan patung generasi muda, dalam posisi membentengi. Itu dimaksudkan agar anak muda senantiasa mawas diri terhadap ancaman laten munculnya PKI.

Di areal monumen tersebut pada saat meletusnya peristiwa dijadikan PKI sebagai lokasi pembantaian musuh musuh politiknya.

Terdapat ‘lobang buaya’ sebagai tempat membuang jasad para korban. Sedikitnya tercatat sebanyak 1.920 pembela Pancasila yang gugur disitu. Namun yang berhasil dikenali, dan tercantum gugur sebagai satriya pada prasasti hanya 17 pahlawan. Menurut informasi, sebagian jasad sudah dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan, maupun di pemakaman keluarganya.

Di areal monumen ini, setiap tahun sekali, dilakukan upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Upacara oleh segenap unsur aparatur pemerintah daerah itu, berlangsung sehari setelah momen meletusnya pengkhianatan PKI, 30 September. (NH)

(fin)

Edt: Redaksi (AN)