Puisi Stress, Demam Panas-Dingin

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Pada akhirnya toh catatan kaki ini perlu dibuatkan cacatan kaki pula”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Tak mudik/tak pulang kampung/tak ada baju batik/dan tak juga ada sarung. Lebaran.

Tak ada yang salah/yang salah pun tak ada di Istana.

Tak juga pada hari raya/karena semua sudah diborong corona.

Jadi tak ada THR dan ketupat/seperti upah lembur dan pesangon/sebab keadilan di pengadilan sudah dijual eceran/dipinggir jalan/persis seperti pelacur murahan.

Biar tak lupa sekarang diucapkan/
Selamat Hari Raya Idul Fitri/ Baja goal at kalian sema/yang masuk pintu Ramadhan penuh hikmat/siapa nyana Ramadhan depan/tak lagi jumpa.

Demikianlah puisi mabuk yang ditulis dalam pengasingan diri di rumah kontrakan/yang alfa dibayar/karena tak lagi jadi buruh upahan/meski murah dibanding mereka/yang didatangkan dari Wuhan juga.

Puisi mabuk INI ditulis/seusai nonton konser BPIP yang sangat mnusiawi/atau mungkin juga paling Pancasilais/persis yang aku saksikan/ketika pulang ke rumah kontrakan/banyak orang menunggu paket sembako/yang tak juga datang/padahal PSBB perpanjangan babak berikutnya/sudah untuk kesekian kalinya.

Ia catat apa yang sempat didapat tetangga sebelah rumah/teh celup tanpa gula/minyak goreng tiada telur.

Soalnya/kalau dari 8 juta warga Jakarta separonya saja yang patut dapat paket tanpa gula itu/setidaknya ada 8 juta kilo gula pasir yang bisa jadi barang tak bertuan/karena kabarnya telah tetcatat menjadi bagian dari bingkisan yang hendak dibagikan.

Soalnya tak hirau/bukan lantaran kencing manis/tapi sekedar diteruskan pada tetangga sebelah/toh menyenangkan hati juga.

Jangan sampai psket bantuan kemanusiaan itu ditilep pula/sebab azab serta ganjarannya bisa jadi sesalan tujuh turunan.

Selamat Lebaran/dimana saja anda berada dan dikarantina/toh pada akhirnya kita sendiri pun akan pergi sendiri.

#

Puisi Stress, Demam Panas-dingin ini ditulis ulang sampai lebih dari 7 kali karena berbagai sebab mulai dari penulisnya sendiri hingga alat tulisnya juga yang sering ngehenk hingga naskahnya yang sudah ditulis bagus jadi berhilangan dan harus ditulis lagi.

Boleh jadi puisi berjudul: Stress, Demam Panas-dingin ini pun penyebab penulis dan hasil karyanya ini, pun jadi stress dan demam panas-dingin seperti suasana saat karya tulis ini sedang ditulis.

Artinya, puisi tak cuma gagal ingin menggambarkan kondisi Ibukota Jakarta pada hari ini, tapi juga gagal mengungkap keresahan dirinya sebdiri hingga strees dan demam panas-dingin seperti yang dialaminya sekarang ini saat corona ngamuk.

Pada akhirnya toh catatan kaki ini perlu dibuatkan cacatan kaki pula, sebab fungsinya sebagai catatan kaki telah gagal deperti keoknya sejumlah negerinya menghadap corona.

Edt: Redaksi (AN)