Puluhan Mahasiswa Bubarkan Shalawatan HMI di UIN Walisongo

Foto: (Ist)

“Pelaksanaan HMI Bersholawat di nilai melanggar aturan”

Semarang (Bintangtimur.net) – Puluhan orang yang diduga dari mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menuntut acara HMI Bersholawat untuk dibubarkan saat berlangsung, di Masjid Kampus III UIN Walisongo Semarang, Rabu (4/9) Malam.

Pelaksanaan HMI Bersholawat di nilai melanggar aturan, karena organisasi ekstra tidak diperbolehkan menyelenggarakan kegiatan/acara di dalam kampus. Hal itu dikatakan salah satu anggota yang diduga kader PMII, mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) angkatan 2017 UIN Walisongo, Anna Muhimmah, bahwa organisasi intra dan ekstra kampus itu berbeda.

Anna mengungkapkan, organisasi intra diperbolehkan untuk mengadakan acara di dalam atau di luar kampus, sedangkan untuk organisasi ekstra dilarang keras untuk mengadakan acara di dalam kampus. Hal itu dikarenakan dikhawatirkan organisasi ekstra membawa visi misi yang tidak baik bagi kampus.

“Pasalnya, intra dan ekstra itu berbeda, intra diperbolehkan mengadakan acara di dalam kampus, sedangkan ekstra tidak diperbolehkan. Ditakutkan ekstra akan membawa visi misi yang tersembunyi,” katanya.

Sementara itu, Ketua Korkom HMI Walisongo Semarang, Muhammad Isma’il Luthfi berpendapat sejatinya substansi acaranya sangat bagus dan sebenarnya ini perlu dilakukan dengan rutin agar masjid-masjid kampus tidak sepi.

“Jika memang menurut beberapa organisasi ada yang menyalahi aturan, seharusnya dikomunikasikan dengan baik,” paparnya.

Ismail mengungkapkan, seharusnya tidak membuat keributan di dalam masjid. Karena yang menjadi persoalan, peraturan tersebut belum jelas, masih berat sebelah.

“Pada dasarnya aturan tersebut masih berat sebelah,” tutur Isma’il.

Isma’il berharap persoalan peraturan tentang intra dan ekstra untuk diperjelas kembali, dengan mengadakan musyawarah bersama yang mengundang seluruh elemen organisasi ekstra agar bisa mensepakati ketentuan-ketentuan dan sanksi yang ada.

“Seharusnya diadakan musyawarah untuk mensepakati peraturan tersebut. Agar peraturan tersebut bisa dipukul rata oleh seluruh elemen organisasi ekstra, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan,” pungkasnya.

Edt: Redaksi (AN)