Putri Bung Hatta Bacakan Teks Proklamasi, Sejumah Tokoh Bangsa Hadiri Deklarasi KAMI

Foto: Ist

“Acara Deklarasi KAMI itu diawali dengan Upacara Peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Sejumlah tokoh bangsa seperti Titik Soeharto, Amien Rais, Gatot Nurmantyo, Sri Edi Swasono, dan Meutya F. Hatta menghadiri acara Deklarasi Komite Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), yang digelar di Tugu Proklamasi, di Jl. Proklamasi, Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (18/8) siang.

Selain nama-nama tersebut hadir juga sejumlah tokoh muda seperti Refly Harun, Dian Islamiati Fatwa, Nur Eko (Koordinator BEM Perguruan Tinggi Muhammadiyah se Indonesia), Ilham Bintang, dan sejumlah duta besar negara sahabat.

Sementara komunitas yang hadir antara lain Komunitas UI yang dipimpin oleh Chandra Motik, komunitas buruh, komunitas Aspirasi, kominitas Mujahidah Priangan, Forum Purnawirawan Baret Merah, Komunitas Masyarakat Tionghoa, Ustadzah Peduli Negeri, Forum Alumni Perguruan Tinggi Indonesia, dan Forum Rektor Perguruan Tinggi Indonesia.

Acara Deklarasi KAMI itu diawali dengan Upacara Peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia. Yang menarik dalam upacara kali ini, putri pendiri proklamator RI Bung Hatta, yaitu Meutia F. Hatta menjadi petugas yang membacakan langsung Teks Proklamasi Kemerdekaan RI. Sedangkan menantu Bung Hatta, Sri Edi Swasono, menjadi pemimpin saat para peserta upacara menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Sementara mantan Menteri Kehutanan M.S. Ka’ban membacakan Teks Pancasila.

Deklarasi KAMI dilakukan usai para peserta mengikuti Upacara Peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan RI, yang diawali dengan pembacaan Jati Diri KAMI. Setelah itu, sejumlah tokoh bangsa tampil membacakan Maklumat Menyelamatkan Indonesia.

Pembacaan Maklumat Menyelamatkan Indonesia itu dilakukan antara lain oleh Marfuah Musthofa (Ketua Umum PP Wanita Islam), Benny Ahmad (Raja Samu-Samu, Maluku), Prof. Dr. Hafid Abbas (mantan Ketua Komnas HAM), Ichsanudin Noorsy, Lieus Sungkharisma, Nurhayati Assegaf, Prof. Chusnul Mariyah, Moh Jumhur Hidayat, Ust. Jeje Jainudin (Wakil Ketua Umum Persis), Adhie M. Massardi, Abdullah Hehamahua (mantan Penasihat KPK), Said Didu, Syahganda Nainggolan, dan Rocky Gerung.

Acara Deklarasi diakhiri dengan penyampaian sambutan Presidium KAMI, yaitu Jend. TNI (Purn) Gatot Nurmantyo (mantan Panglima TNI), Prof. Dr. Din Syamsuddin (Ketua Dewan Pertimbangan MUI), dan tokoh NU Rochmat Wahab.

Penyimpangan

Sebelumnya dalam konperensi pers di Jakarta, Sabtu (15/8), Din Syamsuddin menjelaskan, KAMI dibentuk karena adanya persamaan pikiran dan pandangan bahwa kehidupan dan kenegaraan Indonesia saat ini telah menyimpang dari cita-cita nasional dan dari nilai-nilai dasar yang telah disepakati pendiri bangsa.

“KAMI dapat membuktikan telah terjadi penyimpangan dan penyelewengan terhadap nilai-nilai itu. Semua bersepakat,” kata Din.

Ia mengungkapkan, KAMI sebenarnya masih menaruh harapan khususnya kepada partai politik dan DPR. Namun saat ini, menurut Din, para wakil rakyat itu tak mau menyuarakan aspirasi rakyat.

“Inilah yang membuat kami, kita semua turun sendiri untuk menyuarakan suara kita, pikiran kita,” ujar Din.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu memastikan, bahwa KAMI merupakan gerakan moral. Karena itu, ia menolak gerakan dia disebut sebagai politik praktis. Ia menyebut gerakannya adalah politik moral yang lebih tinggi dari politik praktis.

“Ini dijamin oleh Undang-Undang untuk berserikat, untuk melakukan social control, pengawasan sosial. Dengan kritik, dengan koreksi, bahwa nanti pendukung kami, jejaringnya, melakukan aksi-aksi itu bagian dari gerakan moral, terutama untuk menyampaikan pendapat,” kata Din.

Setidaknya ada 150 tokoh yang bersepakat untuk bergabung dalam KAMI. Selain dirinya, Gatot Nurmantyo, dan Rohmat Wahab, menurut Din, nama-nama lain yang tergabung dalam KAMI di antaranya Bachtiar Chamsyah (mantan Mensos), Pof. Rizal Ramli, Rahmawati Soekarnoputri, Letjen TNI (Purn) Syarwan Hamid, Laksamana (Purn) Tedjo Edhy Purdiatno, Marsekal Madya (Purn) Amirullah, Prof. Didik Rachbini, Camelia Malik, Taufik Ismail, dan K.H. Amidhan. (NH)

Edt: Redaksi (AN)