Rekonsiliasi Itu Apa Dan Untuk Siapa

Foto: (Doc. Jacob Ereste)

“Justru yang lebih riuh dan lebih seru tata acaranya ialah mereka yang berada pada lingkaran dua dan tiga”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Rekonsiliasi tiba-tiba menjadi semacam trend seusai Pemilu, khususnya serampung Pilpres 2019. Bagi orang kebanyakan seperti saya, rekonsiliasi itu seperti upaya rujuk untuk melupakan perseteruan yang sempat terjadi atau menegang saat Pemilu atau Pilpres.

Gairah untuk melakukan rujuk ini jadi menarik, meski sebelumnya terkesan hanya diinginkan oleh satu pihak, toh akhirnya mampu dibangun seperti kehendak dan keinginan bersama yang tak ragu mengatasnamakan demi dan untuk keutuhan dan kebersamaan bagi negara dan bangsa.

Jadi kita pun misalnya yang tidak ada urusan dengan pertikaian atau perseteruan yang telah membuat rekonsiliasi itu mrnjadi penting dan perlu untuk dilakukan, jadi terkesan sah untuk didukung oleh semua pihak tanpa kecuali. Sebab, jika tidak artinya bisa menjadi musuh bersama segenap elemen bangsa dan elemen negara.

Suasana dari rekonsiliasi pun kemudian telah membangun kesan bahwa langkah besar yang penuh tantangan sudah bisa diselesaikan dengan hikmat dan seksama, seperti usai membenahi serpihan bencana yang baru saja membuat jalan seakan menjadi tersendat.

Justru yang lebih riuh dan lebih seru tata acaranya ialah mereka yang berada pada lingkaran dua dan tiga. Tampilan dari diplomasi tarik menarik dan tawar menawar tidak kalah seru dari suasana unik pada transaksi di pasar sapi.

Sebab para blantiknya masing pun ikut ambil bagian. Bahkan kesaksian dari para ahli jagal sapi pun diikut sertakan sekedar untuk lebih meyakinkan.

Pendeknya, acara transaksi telah menemu kata sepakat, meski tak menggunakan cara dan budaya musyawarah. Karena memang, realitasnya saling menekan atau bahkan sedikit juga mengancam, perundingan dinyatakan selesai untuk menaandai acara rekonsiliasi yang semakin tak jelas guna dan kemanfaatannya bagi rakyat yang tidak kalah lelah selama beberapa bulan sebelumnya mengikuti proses Pemilu 2019.

Dan Pemilu kali ini memang sungguh unik, menarik, lucu atau bahkan juga sedikit membingungkan, karena pelanggaran begitu banyak, kecurangan sangat beragam macamnya, dan 400 ribu amplop berikut uang 8,4 milyar rupiah yang sudah ditangan KPK pun gelap sampai sekarang.

Begitulah, kita memang harus sering berjalan di dalam gelap. Sebab hanya di dalam gelap itu sebersit berkat yang tetap konsisten untuk menerangi bumi akan dapat serta terus menerus diuji. Bila tidak, maka bayangan diri pun bisa menjelma menjadi hantu yang sangat mengerikan serta mengancam hidup manusia yang normal.

Jangan-jangan diantaranya ada diri kita sendiri sebagai pelakunya yang aktif atau jadi kebanggaan sampai sekarang. Sebab rekonsiliasi itu sendiri memang tidak penting, sebab yang diperlukan sekedar untuk saling menyapa dan memberi peluang dan kesempatan seperti acara makan siang yang perlu rutin dilakukan.

Edt: Redaksi (AN)