Republik Indonesia ke Depan: Kalahnya Perang Kebencian terhadap Islam

Foto: Google

Oleh: Sri Bintang Pamungkas

“Tuduhan Terorisme Rezim Jokowi terhadap Islam juga harus menjadi tidak laku. Terorisme oleh orang-orang Islam adalah Tuduhan Palsu yang mau-tidak-mau harus diakhiri pula”

Jakarta (Bintangtimur.net) – Agak melegakan Pidato Joe Biden, Presiden Amerika Serikat/AS, kemarin pada pembukaan Hari Ramdhan. Yaitu, untuk mengakhiri kebencian terhadap Islam dan Umat Islam di AS dan Dunia. Joe pun menyampaikan berita akan menyelenggarakan petingstan Idul Fitri di White House

Tidak lupa Joe menyindir pendahulunya dengan mengatakan, tidak akan terjadi lagi di AS, seorang Presiden pada hari-hari pertamanya setelah dilantik melarang Orang Islam untuk melakukan perjalanan ke AS. Tentulah itu Donald Trump yang dimaksud.

Kebencian Pemerintah AS terhadap Islam di AS sudah lama terjadi. Seorang Aktivis dan Aktris Holywood, Jean Seberg, asal Perancis, yang terkenal dan kaya, pada 1960an diburu oleh Agen-agen FBI, karena mendanai Kelompok Islam berkulit hitam pengikut Malcolm X dan Black Panther. Jean dihacurkan reputasinya dan terus diburu, sekalipun sudah kembali ke Paris. Dia meninggal sesudah 10 hari menghilang, dengan diagnosa bunuh diri.

George W. Bush langsung menyerbu Afghanistan pasca 9/11, 11 September 2001. Bush mengira Osama bin Laden adalah orang dibalik peruntuhan Menara Kembar World Trade Center/WTC yang bersembunyi di Afghanistan. Dua Menara itu runtuh karena sengaja ditabrak Pesawat Terbang United Airlines yang seakan-akan menjadi Peluru Kendali Balistik yang ditembakkan.

Ternyata bukan bin Laden di balik serbuan itu melainkan mereka adalah pilot-pilot warga negara Arab Saudi. Di belakang Aksi Sabtu Kelabu itu sangat mungkin adalah Agen-agen Mossad Yahudi yang sengaja menjadikan Islam sebagai Kambing Hitam dalam Peristiwa 11 September 2001.

Osama sendiri ternyata ada di Pakistan. Penyerbuan ke Afghanistan tersebut mengakibatkan jatuhnya Rezim Taliban yang menguasai Pemerintahan pasca larinya tentara-tentara Rusia yang menduduki Afghanistan selama beberapa tahun. Di situ Osama ikut berjuang mengusir balatentara Rusia.

Amerika Serikat tidak hanya menduduki Afghanistan seperti halnya Rusia, tapi juga sekaligus mendirikan Rezim Boneka di sana. Sangat mungkin AS juga mencari minyak di Afghanistan, tetapi yang didapat adalah Opium. Kehadiran AS di Afghanistan justru membikin Heroin yang beredar di jalan-jalan di AS lebih banyak daripada di Afganistan sendiri.

Invasi AS yang didasari oleh kebencian kepada Islam berlanjut ke Irak pada 2003; Sadam Husen pun jatuh. Disusul dengan Mesir pada 2010 untuk menjatuhkan Mubarak dan Mursi. Lalu Libya pada 2011 untuk menjatuhkan Moamar Kadhafi. Hanya Rezim Bazar al Assad dari Suriah yang negaranya sudah dicabik-cabik hingga hampir hancur luluh, yang masih bertahan dalam perang 10 tahun ini.

Sementara itu George W. Bush yang mengutuk Peristiwa 9/11 sebagai tindakan Teroris Islam, juga mengeluarkan perintah agar semua Negara di Dunia, khususnya Negara-negara dengan penduduk beragama Islam mengadopsi Undang-undang Terorisme bikinan AS.

Pemerintah Megawati menurut dan mengutipnya. Itulah pertamakali dikenal istilah Teror dan Terorisme di Dunia dan Indonesia. Sekalipun kata “teror” dikenal dalam Bahasa Indonesia, tapi itulah pertamakalinya Teror dan Terorisme disandangkan dan dilekatkan pada Umat Islam Dunia.

Undang-undang Terorisme inilah yang kemudian dimanfaatkan orang-orang Indonesia dan Rezim Penguasa yang “membenci Islam” dan yang berkhianat dengan menjadi “Kacung Barat” merancang Bom-bom, termasuk Bom Bunuh Diri, untuk menjadikan Umat Islam sebagai Kambing Hitam Terorisme.

Segala Bom yang “meletus” sejak jaman Megawati, SBY dan Jokowi, diawali dengan Bom Bali, adalah Rekayasa Penguasa dan Aparat Negara sendiri, baik itu Polri maupun TNI. Sebagaimana Gus Dur juga pernah mengatakannya. Bukankah sumber berbagai alat peledak itu adalah Polri dan TNI sendiri?!

Maka terasa sebagai angin segar pula ketika Joe Biden mengumumkan kekalahan AS di Afghanistan dengan mengatakan: “… It is the time to end the forever war…” Perang yang Terus-Menerus ini harus diakhiri… Bertepatan dengan 20 Tahun usia Perang pada 11 September 2021, seribu tentara AS akan ditarik habis dari Afghanistan. Tentunya 7000 tentara NATO dari Inggris, Itali, Perancis dan Jerman juga habis ditarik.

Tuduhan Terorisme Rezim Jokowi terhadap Islam juga harus menjadi tidak laku. Terorisme oleh orang-orang Islam adalah Tuduhan Palsu yang mau-tidak-mau harus diakhiri pula.

Edt: Redaksi (AN)