Revolusi Harus Terus-menerus Dikobarkan

Foto: Google

“Perubahan dari zaman yang super cepat, mengharuskan dunia pendidikan di semua jenjang harus segera menyikapinya dengan seksama”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Semangat revolusi memang harus terus-menerus dibangkitkan. Bukan karena Bung Karno telah mengatakan sejak awal bahwa revolusi belum selesai –agaknya sampai sekarang– pun belum juga selesai.

Bisa saja makna pengertiannya dipahami sebatas revolusi mental atau revolusi budaya maupun revolusi dalam bentuk yang lain, toh revolusi industri 4.0 telah di klaim oleh para pakar, ilmuwan dan teknolog serta kalangan akademisi telah memasuki fase keempat sekarang ini.

Revolusi industri dan upaya pengawasannya menjadi sangat perlu dilakukan agar dapat diikuti secara seksama dan tidak sampai menimbulkan kerugian bagi hidup dan kehidupan manusia di muka bumi.

Upaya untuk mencermati perkembangan maupun perubahan yang terjadi kemudian akibat dari revolusi industri fase 4.0 perlu dilakukan agar arah dari perkembangan yang terus-menerus berlangsung dapat diikuti dan bisa diperoleh manfaatnya secara maksimal untuk hidup dan kehidupan yang lebih baik serta lebih beradab.

Apalagi dalam konteks perubahan sosial dan pengaruhnya yang terjadi dalam revolusi industri fase 4.0 yang membuat perubahan-perubahan besar begitu cepat melesat.

Secara kualitatif, kajian studi pustaka yang dilakukan secara hermeneutika filosofis menunjukkan bila revolusi industri itu tidak hanya mendisrupsi bidang teknologi saja, tapi juga meliputi bidang lainnya, seperti hukum, ekonomi, dan sosial serta budaya manusia. Untuk mengatasi disrupsi ini diperlukan revitalisasi peran ilmu sosial humaniora sebagai dasar acuan pengembangan teknologi agar teknologi tidak membuat nilai-nilai kemanusiaan yang harus tetap trjaga tidak terabaikan.

Perubahan dari zaman yang super cepat, mengharuskan dunia pendidikan di semua jenjang harus segera menyikapinya dengan seksama. Karena dunia pendidikan merupakan lembaga peletak dasar kecerdasan intelektual, spiritual serta emosional manusia yang sedang bertumbuh dan berkembang.

Demikian juga dengan para pendidik dan dosen harus mampu menyesuaikan diri dalam konteks ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya agar dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Jika tidak, maka dunia pendidikan akan ditinggal oleh zaman yang terus menerus melesat, menyeruak ke masa depan.

Agaknya, oleh karena itu sejak tahun 2016 Kemdikbud menggiatkan Gerakan Literasi Nasional (GLN) sebagai bagian dari implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti bagi peserta pendidikan.

Selain Kemdikbud, GLN juga digiatkan oleh para pemangku kepentingan (pegiat literasi, akademisi, organisasi profesi, dunia usaha, kementerian, dan lembaga lain) yang terkait dan merasa mempunyai kepentingan yang sangat besar.

Abad milineal ditendai oleh kemajuan teknologi yang bergerak dan melesat pesat, sehingga banyak pihak memandang perlu memberi perhatian pada Sumber Daya Manusia (SDM) yang harus memiliki tiga pilar utama, yaitu literasi, kompetensi, dan karakter. Dalam World Economic Forum 2015, konsep tiga pilar utama ini muncul. Ada semacam penegasan bahwa literasi bukan hanya soal membaca dan menulis saja, tapi juga literasi sains, literasi teknologi informasi, dan literasi finansial yang lebih luas liputannya.

Meski sebetulnya isyarat itu sudah lama tercantum dalam kitab suci Al Qur’an. Iqra bis mirabbikallasi kholaq misalnya, bahwa membaca itu penting, tidak hanya sebatas yang tersurat saja dari ayat-ayat Tuhan dalam berbagai Al Kitab. Tapi yang cuma tersirat seperti dalam ayat-ayat serta fenomena alam dan lingkungan sosial dan budaya serta politik maupun keagamaan itu sendiri dapat memberi banyak hikmah, bila kemampuan dan akal budi mau dan mampu untuk terus diasah ketajaman daya nalar dan analisisnya. Begitulah etos kreatifitas serta semangat revolusi yang harus senantiasa dikobarkan.

Karena manusia pada umumnya tak hendak terbelenggu atau disandera oleh masa lalu. Sebab manusia selalu terpusat pandandangnnya mencari dan menuju masa depan.

Edt: Redaksi (AN)