Risaunya Anak Ingusan Dengan Generasi Muda Desanya Sendiri

Foto: (Doc. Anton Nursamsi)

“Saatnya bangkit, sadar, kreatif, inovatif, dan mandiri generasi muda Desa Sindangasih”

Oleh: Anton Nursamsi (Alumni SMPN 4 Banjarsari)

Depok (Bintangtimur.net) – Perjalanan kehidupan memang tidak selamanya berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Pahit manis, duka bahagia, silih berganti hiasi warna kehidupan ini. Saya pun meski tergolong ‘ingusan’ melakukan pencarian jati diri.

Tidak malu untuk saya ungkapkan bahwa latar pendidikan saya amatlah terbatas. Lantaran faktor ekonomi yang membuat saya harus terhenti dibangku menengah pertama. Tapi meskipun begitu, saya tidak berhenti untuk terus belajar dan belajar. Karena bagi saya, belajar tidak hanya di sekolah saja.

Karena tidak dilanjutkannya pendidikan, saya pun mulai bekerja serabutan pada usia wajib belajar, tapi tentunya hal itu tidak membuat mental saya jatuh, bahkan membuat saya kaya akan pengalaman. Pindah dari kerjaan serabutan yang satu ke yang lainnya justru menghantarkan saya menuju ‘hidayahNya’. Saya ditawari kerjaan di sebuah tempat makan di kota Depok oleh kakak saya.

Karena menurutnya tempat kerja saya nanti dekat dengan usaha dia, akhirnya saya menerima tawaran itu karena berfikir masih ada tempat untuk bersandar jika ada apa-apa nantinya.

Tapi siapa sangka? Ternyata tempat kerja saya yang sebenarnya cukup jauh dari tempat kakak, kakak pun tidak memberitahu terlebih dahulu karena memang dia tidak tahu.

Ternyata orang yang membutuhkan pekerja tersebut sengaja mencari untuk keponakannya, bukan untuk dia sendiri. Apa daya, semua sudah terlambat. Saya pun menerimanya dengan hanya bermodalkan tekad kuat untuk mencari pengalaman.

Cukup lama juga saya bekerja dirumah makan tersebut, majikan saya pun sangat baik. Bahkan, saya sudah menganggap mereka keluarga sendiri. Hingga akhirnya saya bertemu dengan seorang yang memberikan ilmu dan pandangan lebih.

Seiring berjalannya waktu, saya memutuskan untuk pindah dari sana dan berniat untuk ikut dengan seseorang tersebut. Berat memang, sangat berat. Tapi mau bagaimana lagi? Dalam hidup kita juga tentunya memerlukan sebuah ilmu.

Singkat cerita akhirnya saya ikut dengan orang yang saya anggap sebagai ayah, guru, ataupun lainnya. Karena beliau memang unik, bisa menempatkan dalam posisi apapun. Beliau mendidik saya dengan ‘keras’, rasanya baru kali ini ada seseorang yang demikian dalam perjalanan hidup.

Tapi karena niat mempertahankan ‘hidayah’, saya ikhlas dibina serta ditempa. begitu banyak disiplin ilmu yang diberikan dan salah satunya adalah ‘jurnalistik’, hingga pada akhirnya narasi yang mungkin bersifat curhat ini bisa tersaji dan bisa saya rangkai sedemikian rupa.

Dalam keseharian saya mendapatkan banyak disiplin ilmu, baik itu pendidikan, agama, bahkan olahraga dan beladiri. Pada akhirnya saya merenung melihat kilas balik sebelum mendapatkan ‘hidayah’. Baik itu kehidupan ditempat tinggal asal yang notabene jika saya bandingkan dengan kehidupan di ibu kota sangatlah jauh tertinggal. baik itu segi pendidikan, pergaulan, ataupun lainnya.

Sudut pandang saya dari hari ke hari terus terbuka seiring banyaknya literatur yang saya pelajari. Bahkan pengalaman langsung dilapangan. Semisal saya pernah diajak oleh beliau ke salah satu Mall dimana luasnya mungkin satu kelurahan dikampung saya.

Norak mungkin jika diceritakan secara detail, tapi memang itu kenyataannya. Dasar saya anak yang selalu penasaran dan ingin tahu lebih, saya pun sering bertanya ini dan itu yang mungkin bagi beliau tidak penting. Tapi dengan sabarnya ia mau menjelaskan dengan detail.

Hingga akhirnya semakin bertambah wawasan kerisauan alam pikir saya semakin menjadi. Tidaklah bermaksud meninggikan diri atas apa yang sejauh ini saya peroleh, namun jika melihat kehidupan fase seusia saya dimana perkembangan informasi dan pergaulan ditempat tinggal saya amatlah mencemaskan.

Lantaran hanya seputar nongkrong, main tiktok, kenakalan remaja, main game hingga lupa waktu, mabuk-mabukan dan hal-hal yang lebih condong ke sisi negatif. Bukan maksud untuk menjelekkan satu pihak, tapi begitulah yang selama ini saya lihat.

Entah apa yang terjadi 5 atau 10 tahun yang akan datang jika gaya hidup atau pergaulan hanya sebatas itu-itu saja. Adakah disiplin ilmu generasi dikampung saya yang memikirkan bagaimana membuat bangsa lebih maju atau bisa bersaing dengan Amerika atau China yang mendominasi secara ekonomi? Atau minimal mereka tahu cara swasembada ekonomi lokal, atau mengembangkan identitas daerah.

Bahkan tanpa merendahkan mungkin mereka juga tidak tahu cara berolahraga yang benar. Atau lebih jauh lagi bagaimana negara ini membangun baik secara sistem ekonomi, hukum, dan bagaimana mengelola APBN ataupun APBD.

Bagaimana negara ini akan maju jika generasinya tidak memikirkan keberlangsungan dan keadaan negaranya? Bagaimana bisa bersaing dengan generasi anak muda Jepang yang bisa membuat robot, atau generasi China dan Amerika yang lebih hebat lagi jika kegiatan kita banyak yang sia-sia?

Oke lah kita jangan bicara yang terlalu tinggi dulu ataupun membandingkan generasi kita dengan generasi China, Jepang dan Amerika. Kita bicara kampung saja, kita mulai melakukan sesuatu yang bersifat membangun dan persatuan. Mari kita saling mengingatkan, kita majukan dan perbaiki keadaan kampung kita. Baik dalam segi ekonomi, keamanan, maupun lainnya.

Kalau bisa kita adakan saja diskusi semisal dua kali dalam seminggu. Kita diskusi bagaimana cara untuk membuat kampung kita lebih maju dan lain sebagainya supaya para generasi muda selalu melakukan suatu hal yang positif baik itu dalam lingkungan sekolah maupun diluar lingkungan sekolah.

Jangan bermimpi negara akan maju jika generasi muda tidak mau berfikir kritis dan mengubah arah pandang hidup. Jangan bicara nasionalis jika pikirannya hanya dipenuhi dengan hal pacaran. Jangan berfikir sukses jika tidak ada ekspektasi. Sukses itu tidak bergantung pada pendidikan.

Pendidikan hanyalah salahsatu kunci kesuksesan. Bukan kunci utama. Kunci utama untuk sukses ya ada pada diri sendiri. Kalaupun pendidikanmu tinggi, tapi kerjamu hanya diisi dengan hal-hal ‘bodoh’, apakah akan sukses?

Bukan maksud untuk sombong, (ampun paralun). Lihat, anak yang dulu dipandang sebelah mata oleh kalian, sekarang anak itu sudah jauh tinggi dari kalian, sudah bisa menciptakan kebangaan tersendiri, baik lahir maupun batin disamping pendidikannya yang terbatas. Lalu kalian? Adakah pikiran untuk menciptakan kebangaan itu?

Jangan melihat seseorang ketika itu. Ingat, kau tidak tahu bagaimana orang itu nantinya. Jika suatu saat orang itu bisa lebih tinggi dari kalian, malulah kalian. Malulah dengan ucapan kalian yang tidak didasari argumen yang kuat.

Maka dari itu, marilah minimal membuat desa kita maju. Minimal. Buatlah diri ataupun keluarga kalian bangga. Jangan berharap tinggi, yang kecil saja dulu. Buktikan bahwa meskipun berasal dari kampung, tapi kita bisa seperti atau bahkan lebih baik dari mereka orang-orang kota.

Sekali lagi narasi ini hanyalah kerisauan anak ingusan yang kahawatir akan nasib generasi muda, terutama generasi yang sepantaran saya. Sudah saatnya generasi muda berani bertindak demi kemajuan bangsa ataupun sekitarnya. Baik itu memiliki ketajaman analisis, berfikir yang kritis, ataupun mempunyai rasa nasionalis yang tersimpan dalam darah dagingnya.

Jika saya menanam padi dengan harapan akan menuai panen yang sesuai, tapi ditengah proses ada tumpukkan rumput yang tumbuh, maka tidak mengapa. Suatu saat saya akan menyingkirkan rumput itu dan akan menggantinya dengan padi kembali.

Saatnya bangkit, sadar, kreatif, inovatif, dan mandiri generasi muda Desa Sindangasih.

(catatan: Tulisan ini saya dedikasikan untuk generasi dikampung saya pribadi, khusunya kampung Pangarengan, Desa Sindangasih. Dan sekali lagi, tulisan ini tidak bermaksud untuk merasa DIRI PINTAR, LEBIH BAIK, ataupun MENYOMBONGKAN DIRI. Melainkan untuk menyadarkan dan merangkul supaya kita bisa lebih baik lagi)

Hayu urang silih asah, silih asih, silih asuh, jeung silih rangkul jeung sasama (Mari kita saling menajamkan pikiran atau saling mengingatkan, saling mengasihi, saling mengasuh atau saling membimbing dan saling merangkul sesama saudara)

Edt: Redaksi (AN)