Sang Petualang

Foto: Doc. Anton Nursamsi

“Berpetualanglah mengarungi lautan. Tinggalkan sejenak daratan yang memberikan kenyamanan. Yakinlah, bahwa kau akan mendapatkan permata ketika sudah mendarat nanti”

Oleh: Anton Nursamsi

Depok (Bintangtimur.net) – Setiap manusia di muka bumi ini, suka atau tidak suka, mau tidak mau akan melintasi sebuah petualangan.

Karena memang dapat di artikan, kehidupan ini pun sebuah petualangan.

Setiap manusia memang sejatinya akan dan sedang berpetualang. Jika tidak berpetualang, maka tidak akan mengerti betapa indah dan luasnya dunia ini.

Mereka tak akan paham bagaimana seru dan menantangnya berpetualang.

Bicara petualangan, teringat akan petualangan saya sendiri. Sekitar dua atau tiga tahun lalu, saya berpetualang. Merantau ke “negeri” orang. Meninggalkan kampung halaman. Dan meninggalkan masa-masa yang seharusnya sedang mengenyam pendidikan formal. Apalah daya faktor finansial membuat saya terhenti untuk duduk di bangku sekolah.

Walau pun itu baru pertama kali, tapi saya bersikap nekad. Tekad saya sudah bulat, saya ingin berpetualang. Meluaskan arah pandang, melihat-lihat keadaan di tempat lain dan tentunya menambah pengalaman.

Singkat cerita saya tiba di sebuah “daratan“, di situ saya mulai menemukan kenyamanan. Saya menetap di situ beberapa tahun, memiliki “keluarga” baru dan “sahabat baru“.

Suatu hari, saya bertemu seorang petualang sejati. Saya menawarkan diri untuk turut serta bersamanya berpetualang. Dia tidak menolak, hanya menyuruh saya untuk berpikir kembali sebelum ikut berpetualang bersamanya.

Pada akhirnya karena tekad saya yang kuat, sang petualang itu menganggukan kepala di mana hal itu isyarat bahwa saya dibolehkan untuk berpetualang bersama. Mengarungi kehidupan, berlayar ke tengah samudera realitas.

Saya meminta izin kepada “keluarga“, bahwa saya ingin berpetualang kembali. Meskipun berat hati, pada akhirnya “keluarga” mengizinkan. Karena mereka sadar bahwa saya harus mencari jati diri.

Beberapa waktu kemudian, saya memutuskan untuk pergi mengikuti sang petualang tersebut.

Di awal, beliau sudah memberi peringatan. “Petualangan ini berbahaya, apabila suatu saat kapal menabrak karang, apakah kamu akan siap jika terombang-ambing di tengah laut?

Dengan jawaban mantap, saya mengatakan siap atas segala konsekuensi.

Kapal berlayar, saya berada di kapal itu. Perjalanan baru di mulai. Arah kompas kehidupan sudah mulai di arungi.

Pada awalnya kapal berjalan mengikuti arah angin. Tak ada badai, tak ada ombak. Saya melihat “dunia” baru. Tantangan baru, dan hal baru.

Tapi yang namanya kehidupan, takkan selalu di atas dan takkan selalu beruntung. Mencapai tengah laut, kapal mulai goyang. Ombak yang ganas perlahan mulai datang menerpa, lambat laun badai pun datang. Siang malam bahkan sampai pagi terlintasi, tidak tahu kapan akam mencapai sebuah daratan untuk bersandar.

Hingga akhirnya “peringatan” yang sudah di ucapkan dulu, kini terjadi.

Kapal menabrak batu karang, di hantam badai yang besar. Penumpang yang telah lebih dahulu ikut bersamanya mulai balutkan pelampung, berusaha berenang menjangkau daratan. Mereka ingin menyelamatkan diri tanpa memikirkan apapun lagi. Sedangkan saya, tetap diam bersama “sang petualang“.

Kami berlayar berdua di atas sebuah “papan” serpihan kapal. Terombang-ambing di laut lepas, hanya berdua.

Tapi tekad saya sudah bulat, saya akan tetap mengikuti “sang petualang” sampai terlihatnya sebuah daratan dan menata kehidupan yang damai.

Sampai saat ini, saya masih berada di laut lepas. Memang masih banyak ombak kecil yang menggoyangkan, tapi tekad saya lebih kuat dari hantaman ombak itu. Saya berniat untuk menambah wawasan, pengalaman. Dan yang lebih penting, saya ingin melihat dunia yang baru.

Saya rasa, saya tidak salah memilih jalan ini. Sebab di “laut lepas” ini, saya bisa mendapatkan sesuatu berharga yang tidak didapatkan ketika berada di “daratan“.

Saya yakin saat “matahari terbit” daratan pun akan nampak. Di situlah mungkin saya merasa menang dalam petualangan. Sebuah petualangan yang banyak di cemooh bahkan diragukan bahwa saya bisa menjadi petualang sejati.

Berpetualanglah mengarungi lautan. Tinggalkan sejenak daratan yang memberikan kenyamanan. Yakinlah, bahwa kau akan mendapatkan permata ketika sudah mendarat nanti“.

Edt: Redaksi (AN)