Sejarah Pasti Mencatat, Bila Kalaborasi Terwujud Pada Hari Petani

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Bebas merdeka di negeri sendiri”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Jika benar kalaborasi petani, nelayan dan buruh yang akan serentak ikut merayakan hari petani pada 24 September 2020, boleh jadi akan mengukir sejarah baru pertama kali di Indonesia. Jadi bersatunya rakyat bawah tercatat dalam sejarah pergerakan sejak Kemerdekaan 17 Agustus 1945 hingga sekarang.

Apalagi kemudian diinformasikan pula mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi akan ambil bagian juga untuk sekalian menyuarakan ketakutan mereka pada Omnibus Law yang terus dipaksa hendak disahkan.

Sejarah panjang gerakan rakyat bawah yang menolak kebijakan yang hendak diberlakukan pemerintah, agaknya akan tercatat melalui penolakan Omnibus Law yang terus dikebut pembahasannya bahkan sempat menggunakan buzzer dan influencer untuk mempengaruhi opini masyarakat agar ikut memberi dukungan, atau minimal tidak ikut menentang seperti yang dilakukan kaum buruh, petani dan nelayan. Dari bilik lain ada juga masyarakat adat yang merasa juga terancam oleh Omnibus Law jika diberlakukan.

Para mahasiswa yang gigih ikut menentang Omnibus Law itu sudah berulang kali tampil dan pasang badan di jalan raya seperti seruan “Gejayan Memanggil” yang bergaung keras dari sejumlah kampus di Ngayogyakarta Hadiningrat.

Dalam takaran umumnya kaum pergerakan di Jakarta, bila Yogyakarta, Bandung dan Surabaya serta Makassar hingga Medan Sumatra Utara sudah bergerak, itu biasanya menjadi pertanda bahwa isu yang diusung akan terus bergulir hingga mentok pada titik tertentu yang melahirkan suatu kesimpulan serta perubahan besar dari kenijakan yang sulit diperkirakan bentuk dan wujudnya.

Padahal di sejumlah kota yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya, seperti Jember, Purwokerto, Lampung, Jambi bahkan Riau dan sejumlah kota kabupaten lainnya di Indonesia, RUU Omnibus Law yang tengah dibahas DPR RI itu seakan telah menjadi pandemi yang lebih menakutkan dibanding Covid-19.

Setidaknya, begitulah pemabahasannya di DPR RI Jakarta yang ditingkahi oleh aksi dan unjuk rasa ditengah virus corona merebak di mana-mana.

Boleh jadi Omnobus Law itu sendiri dianggap lebih urgent dari pada ancaman virus corona yang mematikan itu. Karena mungkin, ancaman Omnibus Law itu bisa menatikan juga pembahas maupun mereka yang meminta untuk dihentikan pembahasan RUU yang juga sempat disebut cilaka itu.

Atas dasar seru dan sengitnya pembahasan Omnibus Law itu di DPR RI yang terus mendapat kecaman dan reaksi dalam bentuk aksi dan unjuk rasa buruh serta elemen lain, agaknya kaum petani pun telah mengkonsolidasikan bersama elemen lain untuk menyuarakan secara bersama masalah petani yang tak henti terus menerus dirundung duka dengan produk lanenannya yang tidak mendapat perlindungan dari pemerinyah.

Kemarahan para petani tembakau, jerit dan derita buruh tani yang dirampas lahan dan tempat tinggal mereka, dan jeritan nelayan di Lebak dan Ujung Genteng Pelabuhan Ratu Jawa Barat dan n Lombok Nusa Tenggara Barat sudah terlalu lama mengulur sabar dan menahan derita kemiskinan yang luput dari kewajiban pemerintah untuk memberi perhatian dan bantuan.

Itulah sejumlah keluh kesah dan derita yang bakal mereja terima bila Omnibus Law diberlakukan. Dan mahasiswa pun gamang dan gelisah membayangkan masa depannya ketika hendak masuk ke lapangan kerja yang tidak tersedia, karena telah diberikan kepada pekerja asing.

Akibatnya tentu akan menambah jumlah antrean pengangguran yang nyaris berjumlah 32 juta lebih. Nyaris sebesar 23 persen dari jumlah angkatan kerja Indonesia yang kini berkisar 138 juta total jumlahnya.

Jadi kecemasan mahasiswa dan pelajar pun logis dan masuk akal, tatkala melihat dan mencermati peluang kerja yang semakin sulit dan tidak kondusif untuk memenuhi standar hidup layak di negeri yang berjuluk gemah ripah loh jinawi. Ijo royo-royo, tapi petani dan nelayan serta kaum buruhnya kok nelongso.

Boleh jadi atas pemikiran itu pula kaum buruh, petani dan nelayan yang kini disambut oleh mahasiswa –dan mungkin juga pelajar– tampak kompak hendak aksi bersama pada peringatan hari Petani Indonesia pada 24 September 2020 dengan berbagai acara dan aksi bersama guna merajut masa depan bangsa dan negara yang lebih baik, lebih adil dan lebih sejahtera dan manusiawi. Bebas merdeka di negeri sendiri.

Edt: Redaksi (AN)