Selamat Jalan Bang Muchtar Pakpahan

Foto: Google

“Seraya berjanji di hati untuk tetap konsisten terus melanjutkan estafet segenap perjuangan kita demi dan untuk kesejahteraan kaum buruh Indonesia”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Nyaris genap 30 tahun aktif bersama Bang Muchtar Pakpahan (demikian sapaan akrab di antara kami sesama aktivis buruh yang bergabung dengan Serikat Buruh Sejahtera Indonesia) sejak awal berdirinya organisasi buruh yang cukup fenomenal semasa Orde Baru berkuasa ketika itu.

SBSI yang dideklarasikan dan dipelopori oleh Bang Muchtar Pakpahan bersama sejumlah tokoh nasional lainnya pada 25 April 1992 di Lembah Nyiur, Jawa Barat, yang bermarkas pertama kali di Jl. Tegalan, Matraman Jakarta Timur.

Pada era berikutnya tahun 1993-1994 berkator di Jl. Kayu Ramin, kawasan Hutan Kayu Jakarta Timur. Lalu move on pada tahun 1996-1998 ke Jl. Bunga dan Tebet Barat Dalam Raya, Jakarta Selatan. Setelah itu SBSI berkantor pusat di Kawasan Pulo Asem Jakarta Timur hingga tahun 1998-2000.

Secara pribadi, saat yang paling heroik dan mengesankan bersama Bang Mhchtar adalah pada tahun 1994-1996 saat SBSI berkantor di Kawasan Hutan Kayu, Jakarta Timur. Karena saat itu elan vital perlawanan SBSI terhadap rezim otoriterian melakukan aksi mogok nasional dengan serentak pada 12 Februari 1994.

Sebetulnya rencana aksi buruh secara nasional itu mau dibatalkan. Itulah sebabnya Bang Muchtar bersama Sunarty selaku Sekjen SBSI perlu ke Semarang untuk konsolidasi sekaligus hendak meyakinkan rencana aksi nasional yang mau dilakukan kaum buruh ini dibatalkan.

Namun untuk beberapa tempat dan daerah acara aksi buruh secara nasional itu sudah terlanjur siap bergerak. Jika tak salah, waktunya cuma tiga hari lagi dari saat pelaksanaan aksi mogok buruh secara basional itu.

Begitula kisah ditangkapnya Bang Muchtar bersama Sunarty di Semarang saat menjelang aksi mohok buruh berskala nasional pada tahun 1994.

Seusai ditahan pihak Kepolisian Kota Besar Semarang, penangkapan pada sejumkah buruh di Kota Medan serta di Pematang Siantar Sumatra Utara pun terjadi dalam jumlah yang banyak. Itulah sebabnya Bang Muchtar dan Sunarty hendak langsung melakukan penerbangan ke Sumatera Utara. Namun kawan-kawan di Kontor Pusat SBSI Kayu Ramin Jakarta Timur menolak ide itu.

Karena yang terbaik harus kembali dahulu dari Semarang ke Jakarta untuk mematangkan kesepakatan yang sudah dilakukan kawan-kawan dari Pengurus Pusat SBSI yang ada di Jakarta dengan pihak Kapoltabes Medan yang saat itu dijepalai oleh Kombes Polisi Chairudin Isnail.

Peristiwa aksi mogok nasional buruh Indonesia yang telah dinyatakan ditunda secara oleh DPP SBSI ini ternyata tidak lagi dapat terbendung. Di sejumlah kota dan daerah aksi unjuk rasa buruh terlanjur massif dilakukan hingga terjadi kerusuhan di sejumlah daerah seperti di Medan dan Pematang Siantar Sumatra Utara dan Lampung, Surabaya serta Jawa Barat dan sekitarnya.

Saat aksi unjuk rasa nasional itu berlangsung pada hari H yang sudah tidak bisa lagi dihentikan itu, inisiatif untuk memantau langsung di daerah Karawang dan Purwakarta sesungguhnya tak kalah seru. Sebab kendaraan angkutan umum partisipasinya seakan total dilakukan, sehingga aparat dari penerintah daerah dan TNI serta Polri pun turun langsung untuk ikut mengangkut para penumpang agar tidak sampai terjadi kerumunan massa yang lebih besar.

Karena itu, akibat penangkapan pada sejumlah aktivis buruh 42 orang di Medan yang terdiri dari 18 orang aktivis perempuan, dan pennangkapan di Pematang Siantar 36 orang aktivis buruh yang terdiri dari 14 orang buruh perempuan ikut pula diamankan.

Kekosongan kepemimpinan di SBSI Pusat, maka jabatan Ketua Umum diambil-alih oleh kawan-kawan untuk sementara waktu. Bang Muchtar sendiri justru ikut ditagan oleh Kapoltabes Medan. Sebab kesepakatan SBSI dengan pihak Poltabes Medan itu tidak dipatuhi. Karena dalam kesepakatan itu, Bang Muchtar yang mengambil alih tanggung jawab terhadap aksi mogok buruh secara nasional itu, siap menyerahkan diri berikut dengan konvensasinya semua buruh yang ditangkap di Medan dan Penatang Siantar itu dibebaskan.

Tentu saja Tohap Simanungkalit (rise in peace), Dhea Prakesha Yudha, Satrio Arismunandar, Jacob Ereste dan Sunarty menjadi berang akibat pengingkaran kesepakatan itu yang dilakukan secara sepihak oleh Poltabes Medan.

Tunai sudah masa perjuang Abang kami Muchtar Pakpahan. Hari Minggu malam, 21 Maret 2021 di RS. Siloam Jakarta. Kami pun ikhkas melepas kepergian Abang. Seraya berjanji di hati untuk tetap konsisten terus melanjutkan estafet segenap perjuangan kita demi dan untuk kesejahteraan kaum buruh Indonesia.

Edt: Redaksi (AN)