Serangan Nine Eleven Yang Mengguncang Dunia (Part VII)

Foto: Doc. Imam Shamsi Ali

“Dengan pidato singkat Bush itu saya dan Komunitas Muslim bisa lega bahwa Presiden Amerika mengakui jika Islam memang adalah agama damai”

Oleh: Imam Shamsi Ali (Imam/Direktur Jamaica Muslim Center/Presiden Nusantara Foundation)

Jakarta (Bintangtimur.net) – Di Islamic Center Washington DC, didampingi oleh beberapa tokoh Muslim Amerika, Presiden Bush menyampaikan pidato singkatnya. Walaupun singkat, pidato itu menjadi viral karena memang semua media nasional maupun internasional meliputnya.

Berbeda antara pidato Bush di Ground Zero sehari sebelumnya dan pidatonya di Islamic Center DC. Di Ground Zero Presiden Bush menyampaikan deklarasi perang: “The world will hear us. And the people who knocked down these buildings will hear us soon” (dunia akan mendengar kita. Dan orang-orang yang meruntuhkan gedung-gedung ini akan mendegar kita dalam waktu dekat).

Pidato inilah yang kemudian dibuktikan dengan serangan ke Afghanistan, dan juga ke Irak di belakang hari. Artinya pidato yang disampaikan Bush di Ground zero itu merupakan pidato balas dendam. Dendam yang di kemudian hari menghancurkan Irak.

Sementara pidatonya di Islamic Center DC lebih banyak ditujukan untuk menetralisir keadaan atau kebencian dan kekerasan kepada Komunitas Muslim di Amerika yang semakin memburuk saat itu.

Saya salah seorang yang menjadi saksi keadaan itu. Beberapa kali saya diajak hadir oleh Kepolisian New York bersama Imam E. Pasha menengok korban kekerasan. Kejadian terbanyak ketika itu ada di Brooklyn, di mana ada kantong-kantong Komunitas Muslim etnis Arab.

Memang serangan dan kekerasan pada umumnya dialami oleh Muslim keturunan Timur Tengah dan Desi (Asia Selatan). Kata Desi adalah kata populer bagi Muslim IPB (Indian Pakistan Bangladesh). Kedua Komunitas Muslim inilah yang paling sering mendapat serangan.

Saya kira bukan saja karena 9/11. Tapi memang Islam di Amerika lebih identik dengan Timur Tengah dan Asia Selatan. Sebagian mengidentikkan dengan Afrika, khususnya Afro Amerika.

Hanya saja karena mereka yang dituduh sebagai pelaku 9/11 mayoritasnya Timur Tengah, dan Asia Selatan identik dengan perang Afghan, maka asosiasi Islam dengan mereka menjadi sangat kental dan dominan.

Kembali ke Bush di Islamic Center di Washington DC. Dengan mimik wajah yang agak serius, Bush memulai pidatonya: “Thank you all for your hospitality … we just had a wide range discussion on a variety of issues … etc”.

Intinya pada kesempatan itu Presiden Bush menyampaikan bahwa sebagaimana warga Amerika yang lain, Komunitas Muslim juga sedih, marah dan mengutuk peristiwa yang menimpa Amerika.

Hal yang sangat diapresiasi dari pidato Bush adalah penegasan bahwa serangan 9/11 bertentangan dengan “Islamic Principles” (prinsip-prinsip Islam). Islam adalah agama damai. Dan orang-orang yang menyerang 9/11 adalah teroris dan mereka tidak mewakili Islam.

Saya benar-benar bersyukur bahwa apa yang saya sampaikan kepadanya sehari sebelumnya di kota New York disampaikan dengan baik, jelas dan tegas di Islamic Center. Bahkan Presiden Bush menambahkan: “and we want the American people to know this”. (Kita ingin warga Amerika tahu ini … bahwa Islam bukan agama teror).

Bahkan lebih jauh Bush mengakui serangan-serangan dan ketakutan Komunitas Muslim saat itu. Bush menambahkan: “Mereka tahu keluar rumah, ke pasar. Takut hidup normal seperti warga Amerika lainnya. Wanita-wanita yang menutup Kepala takut diganggu dan diserang”.

Lalu Bush menambahkan lagi: “Kejadian ini (serangan kepada Muslim) tidak menggambarkan Amerika yang saya kenal” (This is not the America that I know).

Dengan pidato singkat Bush itu saya dan Komunitas Muslim bisa lega bahwa Presiden Amerika mengakui jika Islam memang adalah agama damai. Bahkan menyampaikan secara terbuka ke publik jika serangan 9/11 tidak mewakili Islam dan orang-orang Islam.

Teroris adalah teroris dan tidak mewakili agama, bahkan sesungguhnya tidak beragama”. Slogan ini menjadi sangat popular di kemudian hari.

Kembali ke kota New York, pada hari yang sama ketika Bush berada di Islamic Center saya kembali diundang untuk membaca doa dalam acara “memorial service” di sebuah taman dekat ground zero.

Setelah peristiwa 9/11 acara-acara doa ini begitu laris. Saya sendiri seringkali hanya hadir membacakan Surah Al-Fatihah dan terjemahan. Saya sangat menahan diri dari memberikan statemen. Khawatir sensitif dan justeru memperkeruh keadaan.

Satu peristiwa yang juga saya tidak lupakan adalah pada hari Senin, atau 7 hari Setelah kejadian 9/11 Walikota New York kembali mengundang para tokoh agama untuk secara khusus melakukan doa dan pertemuan di City Hall (kantor walikota).

Saat itulah pertama untuk pertama kalinya saya mulai kenalan dengan beberapa tokoh agama, termasuk dari Komunitas Yahudi. Salah satu tokoh agama yang sempat kenalan dengan saya saat itu adalah Cardinal Egan, Pemimpin tertinggi Katolik New York.

Sejujurnya ada kekhawatiran yang besar untuk kenalan dengan tokoh-tokoh Yahudi. Selain karena saya juga masih sangat curiga dengan iktikad mereka terhadap Umat ini. Sebuah perasaan tidak aman di sekitar mereka.

Sebaliknya mereka juga saya kira tidak ingin kenalan, bahkan dalam benak saya mereka pasti benci kepada orang-orang Islam.

Saya memang sering menyendiri atau paling tidak mendampingi Imam Pasha. Selain karena saya baru di kota New York, juga ada kekhawatiran untuk berbicara. Khawatir Inggris saya salah. Atau juga khawtir menyampaikan sesuatu yang sensitif.

Tiba-tiba saja salah seorang Rabi Yahudi mendekati saya dan salaman. Sambil tersenyum dia mengenalkan diri: “Hi, how are you. I am Joe”.

Saya tentu balas senyuman itu dan merespon: “Hi, I am Shamsi”.

Rupanya perkenalan singkat itu menjadi pintu awal dari komunikasi intens dan Dialog yang terjadi antara Komunitas Muslim dan Yahudi di kemudian hari. Joe sendiri adalah Executive Presiden Board of Rabbis (Majelis Para Pendeta Yahudi) kota New York.

Belakangan baru saya sadar ternyata Board of Rabbis ini adalah salah satu organisasi Yahudi terkuat dunia. Karena ternyata memang New York adalah kota Yahudi terkuat dunia. Di sinilah para Pebisnis Yahudi tinggal dan membantu menguatkan negara Yahudi di Timur Tengah.

Beberapa kali saya diundang oleh Board of Rabbis ini dalam acara yang disebut “Congressional Breakfast” (makan Pagi bersama anggota Kongress). Pada acara itu saya bisa “merasakan kekuatan” (sensing the power) yang mereka miliki. Semua anggota Kongress pasti akan menyampaikan dukunganya kepada pihak yang didukung oleh Yahudia itu.

Sehingga pada perjalanannya, ketika kami telah melakukan Dialog dengan Komunitas Yahudi, dua hal penting yang ada di benak saya. Pertama, Belajar strategi untuk membangun kedekatan dengan pihak-pihak pengambil kebijakan di negara ini.

Dan tentunya yang kedua, karena diakui atau tidak, Yahudi memilki suara yang didengarkan. Suara inilah yang ingin kita pakai dalam membela Komunitas Muslim di Amerika. Suara mereka didengar oleh politisi dan media. Sehingga ketika mereka bersuara membela Islam, suara mereka akan lebih didengar ketimbang suara kami sendiri.

Demikianlah hari-hari berlalu di Minggu pertama dan kedua pasca 9/11 itu. Berbagai tantangan kami hadapi dan alami. Tapi sekaligus membuka pintu-pintu dan peluang untuk semakin menancapkan kaki di bumi Amerika.

Sehingga memang benar bahwa pada setiap tantangan ada peluang. Dan pada setiap kesulitan ada kemudahan. “Inna ma’al yusri yusra”.

Di Minggu kedua pasca serangan 9/11 kota New York kembali menggelar acara besar Secara nasional. Apa acara itu? Dan apa saja yang terjadi?

Edt: Redaksi (AN)