Seruan Dari Senayan

Foto: Ist

“Montesquieu dan Imanuel Kant pasti gembira di alam Barzah saat melihat kolaborasi legislatif dan eksekutif seperti ini”

Oleh: Zeng Wei Jian

Jakarta (Bintangtimur.net) – Demokrasi dan trias politica. Tugas-wewenang lain Anggota DPR-RI adalah “menyerap, menghimpun, menampung dan menindaklanjuti aspirasi rakyat”.

Dimas Ibnu Alias, siswa SMPN I Rembang, mesti datang ke sekolah. Di tengah badai Covid-19. Ngga sanggup ikut Jalur Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Ngga punya handphone dan kuota internet.

Kabar Dimas sampai ke meja Wakil Ketua DPR-RI Sufmi Dasco Ahmad. Dia segera mendorong pemerintah agar membuat jaringan khusus pendidikan. Subsidi kuota internet. Jangan biarkan ‘Dimas-Dimas’ lain mengalami nasib serupa.

Seruan dari congressman direspon eksekutif. Sebulan kemudian, Mendikbud Nadiem Makarim mengucurkan kran subsidi kuota internet sebesar Rp 7,2 triliun. Siswa dapet 35 GB dan 42 GB cukup untuk guru.

Di saat nyaris bersamaan, Gubernur DKI Anies Baswedan merilis internet gratis JakWIF; sekitar 4.956 layanan Wifi di 9000 titik akses internet gratis di gedung-gedung pemerintahan, taman, sekolah negeri, dan lain sebagainya.

Di saat Pandemi Covid-19 mulai masuk Indonesia, Ir. Sufmi Dasco Ahmad merilis pernyataan agar pemerintah membentuk desk lawan Covid.

Beberapa hari kemudian, Presiden Jokowi resmi menugaskan Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Doni Monardo sebagai Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Montesquieu dan Imanuel Kant pasti gembira di alam Barzah saat melihat kolaborasi legislatif dan eksekutif seperti ini.

Democracy deadlock yang dikuatirkan Juan Linz dalam Buku “The Perils of Presidentialism” tidak akan terjadi apabila semakin banyak Congressman seperti Don Dasco dan willingness untuk mendengar dari eksekutif seperti Presiden Jokowi, Menteri Nadiem dan Gubernur Anies Baswedan.

Edt: Redaksi (AN)