Sikap Dan Sifat Mulia Aktivis Buruh

Foto: (Ist)

“Pendeknya, antara yang satu dengan yang lain tidak boleh terbentang jarak atau semacam pembatas antara buruh itu dengan majikan”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Ruh atau jiwa serikat buruh itu adalah kebersamaan, gotong royong atau solidaritas yang tidak boleh dikurangi sedikit pun. Bila perlu terus dipupuk, ditingkatkan pada level yang paling tinggi setara dengan ideologi apapun yang dianut oleh organisasi buruh tersebut.

Itulah sebabnya sifat dan sikap egoistik, atau ambisi mau menang sendiri dan tak hendak menerima pendapat serta gagasan orang lain yang lebih baik merupakan celaan yang sulit dimaafkan. Sebab sikap dan sifat kebersamaan, solidaritas dan gotong royong itu harus dijadikan landasan semangat serta etos kerja dari segenap aktivitas dalam organisasi buruh.

Karenanya antara sesama aktivis maupun fungsionaris organisasi buruh harus selalu digelorakan ikatan kemiteraan, bukan atas dasar ikatan atau hubungan  antara atasan dan bawahan. Pendeknya, antara yang satu dengan yang lain tidak boleh terbentang jarak atau semacam pembatas antara buruh itu dengan majikan.

Pada dasarnya pun buruh selalu akan memposisikan tujuan antara dalam membangun organisasi buruh yang ideal itu adalah untuk menggapai kesetaraan dengan pihak majikan yang harus menyingkirkan sikap pemisah yang membedakan level buruh dengan level majikan.

Dalam hubungan industrial dengan pihak manapun kaum buruh Indonesia setia dan taat mengacu pada tatanan Pancasils dan UUD 1945 yang bertujuan mulia untuk membebaskan segala bentuk penjajahan di atas dunia serta bertujuan untuk menggapai Kesejahteraaan yang berkeadilan bagi seluruh rakyat.

Jadi jelas tidak boleh hanya segelintir orang saja yang kaya raya atau bahkan menguasai asset negara dengan semena-mena.

Edt: Redaksi (AN)