Simbolika Dari Sila Persatuan Indonesia Yang Tergantung Di Ruang Kerja

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Untuk menguji persatuan dan kebersamaan itu memang di saat susah”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Pancasila itu yang paling sederhana dan gampang dilakukan adalah sila persatuan Indonesia. Turunannya adalah persatuan dan kebersamaan langkah dan gerakan. Lalu di mana sulitnya kalau mau. Paling berat mungkin menekan egosentrisitas dan kehendak sendiri, tanpa mengindahkan kemauan orang lain.

Dalam keluarga saja hakikat persatuan dan kebersamaan mesti dibangun untuk kemudian dibina dan dipelihara. Jangan waktu susah saja minta bersatu, tapi di waktu senang pun idealnya begitu.

Untuk menguji persatuan dan kebersamaan itu memang di saat susah. Ketika tantangan dan terpaan menghunjam.

Lha, di saat senang tak bisa lain ceritanya. Sebab kesetiaan dalam dimensi cinta, konsisten dalam pemahaman politik, keteguhan dalam takaran agama, sungguh akan teruji dan terbukti, apakah sungguh asli atau palsu.

Dalam perkawanan pun seperti itu cara menakar dan meluhatnya. Sejauh mana kesetiaan dan konsistensi serta keteguhan dalam bersikap dan berprilaku, termasuk dalam berorganisasi apalagi berpartai.

Sikap dan prilaku bajing loncat itu amsal yang paling gampang dan sederhana untuk dicerna. Dalam keluarga pun begitu, kawin dan cerai bisa begitu mudah dilakukan asal saja mau. Tapi resikonya pasti ada yang jadi berantakan.

Jika berorganisasi atau berpartai termasuk berkeluarga begitu caranya, maka sulitlah menemukan kamus harmoni. Sebab kesetiaan, komitmen dan konsistensi tak akan ditemukan, kecuali kepalsuan dan kamuflase.

Jadi orang yang keluar masuk partai atau organisasi itu atau kawin cerai, sulit dipercaya, sebab di sana dia bisa berkata pahit, sementara dengan kita dia pandai bermanis-manis. Padahal semua itu palsu.

Begitulah slogan dalam organisasi buruh. Mulai dari solidaritas, kebersamaan, bersatu katanya perjuangan buruh pasti berhasil atau menang.

Slogan buruh bersatu pasti menang ya memang benar. Tapi untuk mewujudkan kebersamaan dan persatuan, ternyata tak segampang meneriakkan slogan itu.

Sekedar diketahui saja, sebelum reformasi organisasi buruh cuma ada dua. Setelah 20 tahun gerakan reformasi belalu, sekarang ada sekitar 80-an organisasi buruh pada level nasional. Lha, jika ditotal dengan organisasi buruh tingkat lokal, sungguh sulit menilang jumlahnya sekarang.

Artinya bisa saja organisasi yang lama sudah monofus, jika tak bisa disebut gagal mereformasi diri. Namun yang pasti tak bisa bersatu. Karena kesetiaan tidak mampu dijaga. Mungkin saja dari bilik sana yang salah, tapi mungkin juga dari bilik sini sendiri yang membuatnya jadi kusut.

Jadi sila persatuan Indonesia dalam Pancasila itu pun ada pada waktu dulu, ketika mau merebut kemerdekaan dari penjajah bangsa asing. Lalu sekarang, kok ya banyak yang merasa telah dijajah lagi entah oleh siapa, tak jelas. Karena kalau ada yang menyebut kita dijajah oleh bangsa sendiri, apa iya mereka setega itu?

Tapi yang pasti, kita kok sulit bersatu. Meski falsafah dan lambang dari Garuda dan ukiran Bhineka Tunggal Ika itu masih kukuh tergantung di ruang kerja kita.

Edt: Redaksi (AN)