Simposium Warisan Pengetahuan Nusantara

Foto: (Ist)

“Teks suci yang acap dianggap sakral, juga memiliki daya perintah, kekuatan beyond, dan efek psikologis, termasuk myskat dari rahasia yang bekerja di kedalamannya”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Untuk menggledah warisan pengetahuan suku bangsa Nusantara, sebagai refresentasi untuk komunitas pada penyelenggaraan Simposium Nasional Indonesia Masa Depan di Sembalun, Gunung Rinjani, Lombok, 15-16 Juli 2019, setidaknya ada 20 pintu masuk ysng bisa diketuk guna melihatnya secara jernih dan jelas dari peradaban manusia di Nusantara.

Secara kosmology, ruang lingkup pemahaman, philosophy dan interpretasi tentang kehidupan, dan elemen yang menyertainya dapat dijadikan salah satu diantara pintu masuk yang dapat dijadikan piliha.

Demikian juga dalam pengertian epistemologi, bisa bermula dari pertanyaan tentang pengetahuan, berpengetahuan dan pembagian didalamnya yang dapat dibedah dari perspektif berpikir suku bangsa Nusantara yang khas.

Teks suci yang acap dianggap sakral, juga memiliki daya perintah, kekuatan beyond, dan efek psikologis, termasuk myskat dari rahasia yang bekerja di kedalamannya. Begitu juga apa yang dimaksud dengan telos yang menggambarkan tentang maksud dan tujuan dari setiap tindakan, hingga maksud dan kebijakan yang ikut menyertainya menarik pula jika dapat diuraikan.

Ikhwal etika dalam pola hubungan antar manusia, menurut Shri Lalu Gde Pharma, adalah upaya revitalisasi dari dayabudi dan peradaban. Semua dapat dijadikan salah satu pintu masuk yang lain untuk melihat sosok manusia Nusantara yang khas dengan adat istiadat, tradisi dan budayanya. Termasuk kajian antropology dan nilai-nilai yang bekerja di dalam masyarakat.

Adapun estetika sebagai pola interpretasi atas keindahan publik, dan turunannya dalam bentuk seni arsitektur, landscape, warna, serta kesantunan dan kearifan yang bersifat universal, pasti memiliki daya tarik tersendiri untuk dipaparkan agar menjadi perhatian dan kepedulian dari orang banyak yang menaruh harapan besar pada bangkitnya kembali kejayaan bangsa-bangsa di Nusantara.

Artistika sebagai pola penciptaan dari keindahan yang bersifat pribadi maupun kolektif dalam bentuk seni rupa, susastra, seni pertunjukan, koreografi pasti mempunyai daya tarik tersendiri untuk dikaji atau menjadi bahan studi yang serius dan mendalam. Karena di dalamnya banyak terkandung nilai-nilai pilosofi dan muatan sejarah yang merekam peristiwa yang terjadi pada masa silam.

Masalah nalar, logika dan tata urutan cara berfikir yang berlaku sebagai kebenaran yang diyakini oleh suku bangsa Nusantara tentu akan menjadi lebih menarik bila bisa memperoleh kesempatan khusus menjadi bahasan.

Tidak kalah penting ekspresi yang diungkapkan melalui sarana linguistik. Bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi, dan kepahaman tentang definisi dan kemaknaan, sangat penting untuk dipahami sebagai ungkapan batin yang tidak terucap melalui kata-kata, karena yang bisa muncul bukan saja yang terucap, tetapi juga yang tersirat dan mengendap pada lubuk hati yang paling dalam.

Penanda dan pertanda dalam semiotika yang berlaku pada masyarakat, termasuk yang ada pada benda-benda arkrologi kepurbakalaan: artefak, geofak, dan benda pusaka lainnya bisa jadi rujukan kajian yang dipercaya sebagai bukti dari masa lalu leluhur yang pernah berjaya.

Demikian juga dengan sistem konstitusi dan pemerintahan yang pernah ada berikut tata aturan kemasyarakatan, sistem dan model komunitas serta corak dalam kepemimpinan yang pernah diterapkan, dapat menjadi petunjuk guna menyibak rahasia kepiawaian dan ketangguhan dalam kehidupan linggkungan serta kekerabatan dan masyarakat bersama tata pemerintahan yang pernah ada.

Dalam tatanan pemerintahan serupa inilah hukum dan tertib sosial yang berlaku dalam berbagai bidang kehidupan dapat dijadikan kajian yang menarik bagi para akademisi maupun peminat ilmu dan pengetahuan tentang ke-nusantara-an.

Menurut Shri Lalu Gde Pharma, ikhwal kepahaman tentang alam sekitar (ekologi) lingkungan dan mekanismenya yang lestari, serta tars merawatnya, dapat dijadikan juga sebagai sandingan untuk pembelajaran kita pada hari ini agar dapat lebih bijak bersikap terhadap alam dan lingkungan hidup yang layak untuk diwarisi oleh generasi berikutnya.

Demikian juga hakekat kebajikan, vibrasi kemuliaan dan cara mewujudkan nya. Termasuk energi positif (tuah), dayatolak terhadap energi negatif atau bencana ( tulah), detoksifikasi terhadap kesalahan dan kekhilafan, serta daya kasih sayang yang bersifatnya universal (Tunah), bisa diekplorasi lebih luas dan didayagunakan sebagai energi membangun masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik, sejahtera, adil dan makmur dengan sikap yang mandiri, berdaulat penuh dalam hidup dan kehidupan yang berkepribadian luhur sebagai manusia yang berwatak khas Nusantara.

Edt: Redaksi (AN)