Surat Wasiat Yang Terlambat Dibuka

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Kita manusia merdeka yang mempunyai harga diri dan tak hendak dijajah oleh siapapun, termasuk rezim dan penguasa yang dzolim”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Kedaulatan rakyat itu tidak mungkin bisa dikembalikan.

Kedaulatan yang di rampas dengan culas itu, harus direbut kembali, seperti para pejuang kita memerdekan diri dari penjajahan.

Karena itu kedaulatan rakyat tidak mungkin dikembalikan begitu saja oleh yang sudah menikmatinya dengan senena-mena. Berkhianat pada rakyat sebagai pemilik sah dari kedaulatan yang seharusnya di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam perwakilan.

Oleh karena itu keadilan sosial bagi seluruh rakyat seperti yang dicita-citakan oleh pendiri negara yang berdasarkan kebangsaan ini tak pernah terwujud, sebab kemanusiaan yang adil dan beradab cuma tergantung di ruang kantor mereka yang asyik memikirkan kepentingan dirinya, keluarganya, kroninya dan antek-anteknya yang setia menghamba sebagai budak.

Kita manusia merdeka yang mempunyai harga diri dan tak hendak dijajah oleh siapapun, termasuk rezim dan penguasa yang dzolim.

Leluhur kita telah mengajarkan, lebih baik kalah tapi sejarah jangan pernah mencatat kita menyerah. Maka itu perlawanan harus dan wajib diteruskan.

Meski hanya sekali, toh setelah itu mati, kata penyair besar kita yang gigih ikut dalam derap langkah revolusi.

Naskah ditulis seorang penyair yang tak hendak disebutkan namanya pada tahun 200O lalu. Tak lama seusai keriuhan reformasi terjadi di Indonesia.

Namun entah apa pertimbangannya baru dia kirim pada perayaan 17 Agustusan 2020. Ia pun tak berpesan apa-apa, sehingga tak bernyali untuk membacakannya sebagai puisi pamflet pada perayaan kedaulatan kemerdekaan, meski di kampungku sendiri.

Tulisan ini kuteruskan untuk kau sahabatku yang tak mungkin khianat padaku. Sebab komitmen kebangsaanmu sudah kutahu, persis seperti mewarisi watak, etika dan moral Kekek dan Nenekmu.

Edt: Redaksi (AN)