Tahafut Al Falasifah

Foto: Ist

“Jangan sekali-kali mengambil Kebenaran agama dari akal, karena akal bisa saja salah,”

Oleh: Irawan Santoso Shiddiq 

Jakarta (Bintangtimur.net) – Apa yang dianggap Kebenaran? Jika melongok abad pertengahan di Eropa, Kebenaran hanya berasal dari satu sumber: fatwa agamawan. Tak bisa dibantah. Tapi jamak pendapat agamawan, bertentangan dengan akal. Rasio. Sementara di belantara Islam, masa yang sama. Kebenaran tengah diperdebatkan panjang. Itu masa mu’tazilah. Ketika masa muslimin menggandrungi filsafat. Ketika Socrates, Plato, Aristoteles dan lainnya, sengaja di-Islam-kan. Sebelum datang masa rennaisance. Tatkala para pemikiran filosof itu, kemudia di-Kristen-kan. Itulah filsafat.

Lalu bagaimana dengan Kebenaran? Al Farabi menelorkan teori ‘emanasi’. Dalam tassawuf, ini maknanya berbeda. Emanasi versi Al Farabi, disebut dengan teori ‘Kebenaran ganda’. Kebenaran ala Wahyu dan Kebenaran ala filosof. Para filosof, katanya, disetarakan dengan Nabi. Karena Nabi menggapai Kebenaran dengan bimbingan Wahyu.

Sementara filosof menggapai Kebenaran dengan akalnya. Hampir tiga abad teoriominasi muslimin. Kejayaan Abbasiyya, Andalusia, tak bisa dipisahkan dari merebaknya mu’tazilah. Tapi teori ‘emanasi’, seolah hanya semu. Karena memang kemudian ‘kebenaran’ ala filsafat, selalu bersifat memaksa. Mau benar sendiri.

Lihatlah kejadian ‘al mihnah’, ujian ke-Tauhid-an. Ini yang membuat Imam Ahmad bin Hambal harus mendekam di penjara. Gegara menampik Al Quran sebagai makhluk. Imam Ahmad tak setuju logika filsafat. Karena Al Quran bukanlah makhluk. Tapi bersifat azali. Tapi itulah filsafat. Hanya memaksakan kehendak ‘kebenaran’.

Hingga kemudian muncul Imam Asyr’ari, Imam Mathuridi, sampai meluruskan lagi aqidah muslimin. Agar tak terjerambah paham mu’tazilah. Imam Ghazali menyerang habis kesesatan filsafat: Tahafut al Falasifah. Filsafat itu sesat, katanya.

“Jangan sekali-kali mengambil Kebenaran agama dari akal, karena akal bisa saja salah,” kata Imam Ghazali. Itulah masa periode kelam muslimin ber-filsafat. Hanya menghasilkan Istana Cordoba, Al Hambra di Granada, tapi kemudian mudah dikalahkan oleh pasukan Nasrani, yang kala itu belum mengenal kopi.

Sains yang tinggi, anak kandung filsafat, tak menjamin kejayaan dan kemenangan Islam. Baghdad, abad 12, Khalifah Al Mutawakkil takluk di tangan Mongol. Itulah periode Islam tanpa Khalifah, pertama kalinya. Filsafat tak menjamin kekuatan. Justru itulah kelemahan.

Imam Ghazali, Shaykh Abdalqadir al Jilani kemudian membawa kembali muslimin pada jalan menuju Kebenaran. Itulah jalan tassawuf. Tak lagi berfilsafat. Sultan Salahuddin al Ayyubi memberi bukti. Mereka merebut kembali Al Quds, setelah jatuh ke tangan non Islam, karena disibukkan denganm filsafat.

Salahuddin bukan produk mu’tazilah. Shaykh Ibnu Arabi hijrah ke belantara Turki. Disitulah terbangun kembali peradaban Islam, dengan tassawuf sebagai bekal. Lahirlah Kesultanan Utsmaniyya. Bukan lahir dari filsafat mu’tazilah. Itulah kejayaan Islam.

Tapi filsafat berganti arena. Masuk belantara Eropa. Aquinas membawanya ke Italia. Di sana berdengung rennaisance. Aquinas menerukan teori ‘emanasi’ tadi. Jadilah ‘kebenaran ganda’ mulai mengobrak abrik fatwa Gereja Roma, yang dianggap jauh dari rasionalitas.

Aquinas mengeluarkan teori “Tweez warraden Theorie”, ajaran dua belah pedang. Kebenaran ala Wahyu dan kebenaran ala filsafat. Maraklah Eropa mulai menggilai filsafat. Mereka terkesima dengan nuansa perdebatan mu’tazilah, yang dianggap bisa menyatukan filsafat dan Islam. Padahal itu tak pernah.

Mulailah periode scholaticism masuk kembali ke Eropa. Karena sejak abad 4 Masehi, filsafat telah ditutup di Eropa. Akademi Plato dibubarkan. Para filosof Nasrani banyak hijrah ke negeri-negeri muslim. Karena disana filsafat dibuka dan terbuka. Walau kemudian melahirkan momok mu’tazilah.

Tapi Eropa tanpa filsafat, menjadi kisah lucu. Ketika Raja Portugis, abad 11, dikirimi jam dinding besar dari Granada. Mereka kebingungan tentang bagaimana jam itu bisa bergerak sendiri. Disitu masih percaya kisah jam itu digerakkan oleh jin. Tanpa filsafat, memang banyak takhyul berkembang.

Filosof menyebutnya, terjebak pada dogma. Tapi Imam Ghazali telah mewanti, filsafat juga jebakan. Karena membuat orang tergeser dari Kebenaran. Ini bisa dibuktikan empiris masa sekarang.

Copernicus mulai mendobrak dogma. Teori heliosentris dibantahnya. Bumi bukan pusat tatasurya. Filsafat bermula merambah perihal kosmosentris. Karena dominasi Wahyu, sangat besar kala itu. Rennaisance, masih membahas tentang filsafat Ketuhanan. Tentang menggapai Kebenaran, dengan jalur rasio.

Tak semata dengan Wahyu, yang walau sejumlah kalangan telah menyebut ada masalah dengan ‘aqidah’ pengajaran Gereja Roma. Ian Dallas, ulama dari Skotlandia berkata, Luthern dan Calvinis telah membuktikannya. Alhasil filsafat jadi tumbuh subur di Eropa.

Hingga datang Francis Bacon mulai menggebrak. Teorinya “Aku Ada (being) maka Aku Berpikir (thinking)” menggeliat. Bacon mulai meninggalkan teori ‘emanasi’. Kebenaran, hanya bisa digapai dengan inderawi semata. dengan rasionalitas. Manusia, dianggap sebagai penentu ‘kebenaran’.

Dari saintisme, anak kandung filsafat itu, lahirlah teori bahwa manusia adalah objek yang mengamati. Bukan objek yang diamati. Tuhan, dikategeorikan sebagai pembuat jam. Kala jam selesai dibuat, maka jam berjalan dengan sendirinya.

Rene Descartes makin membuat akrobat. Dia membalik teori deduktif Bacon. Melainkan menjadi induktif. Inilah yang masih jadi ‘kitab suci’ kaum filosof hingga kini: ‘cogito ergo sum.’ Aku berpikir (think) maka aku ada (being)’.

Kebenaran, seolah hanya mengacu pada hasil rasio manusia semata. Cartesius meninggalkan Kebenaran ala Wahyu. Karena cogito ergo sum, mendesak manusia untuk mutlak menggunakan nalarnya semata.

Tak ada lagi ‘teori dua belah pedang’ ala Aquinas. Disinilah filsafat makin mendominasi. Kebenaran, seolah hanya lahir dari buah rasionalitas. Buah logika, nalar. Ini yang disebut kebenaran filsafat, kebenaran saintisme.

Apa yang dimaksud filsafat? Tentu keliru jika memaknai filsafat sama halnya dengan Firman Allah Subhanahuwataala: “Appallahtaqqilun….” Filsafat bukanlah itu. Karena Descartes berfilsafat tak merujuk Injil, apalagi Al Quran. Descartes menyebut, “filsafat adalah dimana manusia dan Tuhan menjadi ajang penyelidikan rasio manusia.”

Ini menjadikan rasio sebagai sandaran untuk menemukan Kebenaran. Ditambah akrobatik Immanuel Kant. Tentang teori empirisme. Kantian meyakini tentang menguji atas objektivitas. Tentu, pengujinya hanyalah rasio belaka.

Tanpa melewati empirisme, maka belum tentu dianggap sebagai ‘Kebenaran’. Jadi tak cukup dengan teori rasionalitas ala Descartes semata. Tapi inilah teori, hanya menghasilkan teori-teori lainnya.

Socrates, Plato, Aristoteles, Al Farabi ini masih dikategorikan sebagai filosof illahiyyun (filsafat Ketuhanan). Karena mereka mencari ‘kebenaran’ Tuhan dengan rasio. Imam Ghazali membagi tiga jenis filosof: filosof illahiyyun, filosof tabiiyyun (naturalisme) dan filosof dahriyyun (ateisme).

Nah, modernitas menjadi ajang dominasi filosof dahriyyun. Karena telah mematok bahwa ‘segala sesuatunya adalah materi.’ Teori Karl Marx. Yang kemudian muncul lagi akrobatik Albert Einstein, tentang kepastian ilmu relativitas. Jadi filsafat itulah ilmu pasti. Hanya melahirkan statistik. Melahirkan sains yang dianggap sebuah kepastian.

Bahkan Sigmund Freud menjabarkan kegilaannya. Dia bilang, “Mereka, umat Kristiani, telah keliru, tidaklah ada yang namanya ruh, apalagi yang disebut ruh adikodrati. Apa yang anda kira sebagai ruh adikodrati, itu sebenarnya adalah dorongan alam bawah sadar.”

Ini sejalan dengan teori Aristoteles, yang menganggap akal itulah jiwa. Jadi, filsafat jelas menafikkan kehadiran rohani, sebagai unsur dalam manusia. Mereka mendefenisikan unsur dalam manusia, hanya terdiri dari akal sebagai jiwa, dan lahir. Alhasil teori “segala sesuatunya adalah materi,” menjadi mutlak, sebagai dasar meraih “Kebenaran.”

Namun kehadiran Hegel agak memberi jalur kembali. Dia bilang, segala penciptaan yang ada (being) adalah manifestasi dari ruh. Teori Hegel ini sejalan dengan Heidegger, yang kembali membalikkan kelemahan rasio, sebagai pijakan mengambil Kebenaran.

Heidegger menyampaikan kelemahan tentang ‘cogito ergo sum’. Tentang “mengapa harus berpikir?” Karena Heidegger menyampaikan, berpikir itu hanya kegiatan ‘menghitung, mengingat, bahkan tak sedikit mendekati dari mengmengkhayal hayal.’ Ajang ‘berpikir’ seperti itu, justru memisahkan dari ‘realitas.’ Karena itu, Heidegger tegas berkata, “Filsafat itu memisahkan dari Kebenaran, karena berujung pada essensialisme.”

Wujud, tentulah eksistensialisme. Sementara dari kegiatan ‘berpikir’, melahirkan kesimpulan, yang memuncak pada ‘essensialisme.’ Alhasil filsafat materialisme, membawa kita pada ‘essensialisme’. Yang dianggap Kebenaran, justru pada ‘essensialisme’ itu. Bukan eksistensialis-nya.

“Karena filsafat bisa dibuat memada dan tidak memadai. Filsafat tak bisa menjadi rujukan tentang Kebenaran,” katanya. Katanya, apa yang kita anggap ‘berpikir’ itu sejatinya ‘bukanlah berpikir.’ Makanya kalimat klimaksnya mengatakan, “sains itu tak berpikir.”

Inilah wujud dari kekeliruan dari filsafat. Dari Heidegger kita tahu, bahwa selama ini yang kita anggap sebagai ‘berpikir’, dalam menemukan ‘Tuhan, manusia, sampai benda-benda,’ ternyata itu bukanlah ‘berpikir.’ Shaykh Umar Ibrahim Vadillo, ulama besar dari Spanyol mengatakan, “Ma’rifat itulah berpikir.”

Tentu ini dua hal yang memang perlu penjabaran lebih. Dari dari sini, setidaknya bisa diambil pondasi. Tentang bagaimana melihat realitas, “segala sesuatunya adalah materi,” justru memisahkan dari ‘Kebenaran.’ Karena hanya melahirkan ‘Kebenaran’ ala essensialisme.

Inilah yang disebut Nietszche dengan “Filsafat itulah berhala.” Karena filsafat, masa modern ini, menjadi bentuk baku jalan manusia dalam menemukan ‘Kebenaran’. Filsafat telah jadi dogma. Telah jadi keyakinan.

Dulu, mu’tazilah masih memperkenalkan tentang ‘emanasi’, tentang ‘kebenaran Ganda.’ Aquinas masih membawa ajaran ‘teori dua belah pedang.’ Sementara modernitas, memaksa berlakunya ‘teori kebenaran ala filsafat semata.’ Padahal filsafat tak bisa lagi menemukan Kebenaran. Karena telah memisahkan Kebenaran dari realitasnya.

Nietszche menyebut hal ini dengan nihilisme. Sebagai hilangnya nilai-nilai. Ian Dallas, mengajak manusia modern untuk kembali menemukan nilai-nilai tersebut.

Mengembalikan fitrah. Transvaluasi nilai-nilai itulah yang akan menyelamatkan ekosistem manusia, yang telah menjadi psikosis akibat cara berpikir filsafat yang baku dan kaku. Karena filsafat melahirkan ilmu pasti. Melahirkan ‘teknikal state’, sistem rule, sebagai pijakan satu-satunya. Menjadi manusia disamakan seperti mesin. Sebagai pola yang statis. Bukan lagi dimanis.

Filsafat melahirkan ekonomi yang berpuncak pada banking sistem. Filsafat menteorikan kekuasaan, yang berpuncak pada ‘demokrasi absurd, yang dikontrol oleh tirani, yang tak bisa lagi disebut demokrasi. Melainkan telah berubah menjadi okhlokrasi. Filsafat memaksakan kebenarannya, dengan ‘state’ yang berupa ‘maujud’, bukan ‘wujud’ (being).

Disitulah filsafat hukum, dengan teori Auguste Comte tentang positivistik. Bahwa kebenaran hanya dianggap sahih, jika bersumber dari entitas ‘state’. Ini yang dikenal hukum positif. Austin melegitimasinya dengan ‘state law’. Kebenaran ala state semata. itulah kreasi besar dari filsafat, dengan melahirkan entitas semu bernama ‘state’, yang wajib dipatuhi.

Ini lebih ironis dibanding filsafat mu’tazilah, yang hanya melahirkan pemaksaan dalam drama ‘al mihnah.’ Tapi filsafat telah berubah jadi tirani.

Ketika Voltaire berkata, “Jika Tuhan menuntut ketundukan penuh, maka Tuhan adalah diktator, dan segala kediktatoran haruslah ditolak.” Dan, kini filsafat kini telah berubah menjadi diktator. Tentu harus ditolak, agar tahu dimana Kebenaran hakiki. Cakap Voltaire telah menemukan kebalikannya.

Islamise

Pasca revolusi Prancis, 1789, filsafat berubah menjadi monster yang wajib dipatuhi manusia. Bentuk kreasi filsafat, melahirkan state, yang memunculkan positivisme. Disitulah kebenaran menjadi dominasi hasil ‘berpikir’. Melahirkan konstitusionalisme, nasionalisme, yang merupakan ideologi yang lahir sebagai anak kandung filsafat. Dan menjadi diktator baru manusia modern.

Masa rennaisance, kebenaran didominasi Gereja Roma, yang terkesan bak paham ‘jabbariyya.’ Tapi masa modern melahirkan modernitas, bak neo mu’tazilah, yang ‘segala sesuatunya adalah teori’, menjadi wajib ditaati. Sementara ahlul sunnah waljamaah, berada antara aqidah ‘jabbariyya’ dan ‘qadariyya’.

Inilah yang diterangkan Imam Asy’Ari, Imam Mathuridi sampai Imam Ghazali. Dalam melihat Kebenaran, Islam tak terpaku pada model jabbariyya maupun qadariyya. Nah, filsafat materialisme, mewujud lebih ironis ketimbang mu’tazilah. karena telah melahirkan ‘ateisme.’ 

Ibnu Khaldun memberi gambaran, tentang dinamika antara filsafat dan agama. Antara naqli dan aqli. Islam menegaskan, Naqli berada di strata atas. Baru kemudian aqli. Sementara filsafat mendudukkan aqli sebagai strata atas. Masa mu’tazilah, antara naqli dan aqli, dianggap setara. Itulah yang disebut sebagai ‘teori emanasi.’ Kebenaran ganda.

Filsafat materialisme, berubah lagi. Aqli menjadi raja. Sementara naqli dicampakkan. Tak lagi jadi rujukan. Alhasil ‘kebenaran’ yang muncul, hanya kebenaran ala ‘aqli’ semata. itu pun, setelah melewati batas-batas empirisme, yang bisa diterima rasionalitas.

Periode modernitas ini yang kemudian mempengaruhi kaum muslimin. Hingga memunculkan Islam modernis. Siapa mereka? Yang mendudukkan aqli –mengekor pada modernitas– , baru kemudian mencari-cari dalil Naqli. Inilah yang melahirkan ‘islamisme.’ Kebenaran ala filsafat, diterima mentah-mentah, yang kemudian nash ditempelkan sebagai seolah-olah telah ‘membenarkan.’

Inilah wujud dari Islamisme. Dalam kejadian menghadapi virus corona, nampaklah realitas dari ‘islamisme’ itu. Buah rasionalitas, melahirkan corona sebagai ‘perbuatan manusia’ semata. Yang lahir dari data WHO, yang tentu merujuk pada kebenaran ala sains. Dan modernis Islam, sibuk memberi dalil-dalil naqli, tentang kebenaran ala WHO tadi.

Dalam sistem, ini yang melahirkan legislasi syariat. Karena filsafat terang melahirkan rechtstaat. Tentu berbeda dengan syariat. Tapi modernis Islam, mendudukkan islamisme, dengan menjadikan ‘syariat’ seolah dibawah rechtstaat. Alhasil, lahirlah UU Zakat, UU Wakat, UU Haji sampai mewujud pada Bank syariat, asuransi syariat dan segala label syariat lainnya. Inilah kekeliruan dalam memahami Dinul Islam. Karena hanya melahirkan ‘islamisme.’

Dari situ, gambaran Kebenaran harus dikembalikan. Demi terselamatkannya etos manusia. Karena filsafat telah menghasilkan nihilisme. Islam yang menjadi jawaban, tentu bukanlah Islam produk ‘Islamisme’. Karena hal itu hanya anak turunan dari cara berpikir ala rasionalitas. Melainkan Islam yang digariskan tiga generasi awal, sebagai salafush shalih.

Disitulah penggambaran tentang Kebenaran bukan didasarkan pada aqli sebagai rujukan utamanya. Melainkan dengan naqli, baru kemudian aqli. Penggambaran itu dimulai dengan ma’rifatullah, sebagai induk dari semua ilmu.

Pemahaman ma’rifatullah, sebagai sumber Kebenaran. Karena disana, manusia, Tuhan sampai tetumbuhan, telah didefenisikan, tanpa perlu manusia membuat defenisi ulang ala Cartesius.

Dan jalan pembelajaran menuju ke sana, diajarkan dalam lingkaran tassawuf. Inilah yang melahirkan generasi bak Sultan Salahuddin al Ayyubi. Dengan Islam yang sahihan. Tentu yang mahfum perkataan Nietzche, “Filsafat itulah berhala.” Tentu filsafat dan anak turunannya semua. Itulah kemusyrikan yang kini sistemik.

Edt: Redaksi (AN)