Terapi Menulis Itu Sehat

Foto: (Ist)

“Setidak-tidaknya agar tidak pikun dan ngelantur cara berpikir kita yang pasti akan menuju grafik menurun sesuai dengan semakin tambah merunduknya usia”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Terapi dengan cara aktif menulis itu sehat terutama untuk menjaga daya ingat, sikap kritis, perluasan wawasan, kejujuran, kesabaran dan keterbukaan serta pengembaraan intelektual yang menyenangkan untuk berbagi dengan orang lain.

Karena itu karya tulis yang dibuat sedapat mungkin dipublikasikan secara meluas, sehingga bisa menghasilkan jalinan perkawanan dan  persahabaran bahkan mungkin persaudaraan yang dapat lebih banyak memberi kebahagian serta kegembiraan tak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang banyak yang bisa ikut menikmati dan memperoleh manfaat dari karya tulis yang kita buat.

Sebagai karya seni yang kreatif, ilmiah penyampai gagasan atau ide buah pemikiran yang perlu dan penting diketahui oleh orang banyak, bisa saja karya tulis yang kita buat itu diminta oleh koran atau majalah serta journal untuk jadi sajian isi suguhan media cetak yang mereka kelola.

Biasanya untuk pemuatan karya tulis kita ini akan diberi honoraria sebagai upaya dari pihak media untuk memberi penghargaan yang dianggap pantas dan mampu mereka berikan.

Bila proses tulis menulis bisa mencapai tahapan seperti tersebut diatas, maka langkah berikutnya adalah tinggal upaya meningkatkan kualitas mutu dari produk tulisan berikutnya. Namun pada kesempatan lain ikhwal dari upaya meningkatkan kualitas mutu karya tulis ini kelak akan diupayakan jadi pembahasan tersendiri.

Untuk memahami bahwa usaha menulis secara rutin itu dapat menjadi terapi terhadap usaha menjaga akal sehat, tidak pelupa, tidak ngelantur dan agar bisa berpikir lebih jernih dan rasional, seimbang tidak emosional, boleh dipercaya boleh juga tidak.

Tetapi realitasnya, untuk membuat sebuah tulisan yang paling sederhana sekalipun bentuknya setiap orang seperti mendapat kewajiban untuk membaca. Entah apa referensinya yang dianggap perlu dijadikan rujukan. Seperti membalas surat saja, terkadang justru diperlukan untuk membaca ulang.

Dalam proses membuat karya tulis  menulis seperti itulah sikap ilmiah, obyektif, jujur, terbuka, dan konsisten serta egoistik dan emosional dapat  dijaga, di kontrol dan trendali agar bisa selalu berimbang dengan energi yang dikeluarkan sebagai detoksisi theraphys yang berlangsung.

Dalam proses menulis memang diperlukan nalar dan akal sehat agar untuk memilih topik bahasan yang menarik dan perlu untuk dikonsumsi oleh orang banyak. Karena karya tulis yang bisa menjadi konsumsi orang banyak akan memberi imbalan balik yang tidak penting dari proses terapi itu sendiri yang akan memberi manfaat balik kepada diri kita sebagai penulisnya.

Karenanya mulai dari proses menentukan pilihan topik bahasan hingga teknis dan gaya penulisan akan sangat imbalan balik yang akan kita peroleh dari tulisan yang pada pokoknya adalah untuk terapi pengobatan atau upaya menjaga akal sehat agar bisa terus bekerja secara normal.

Setidak-tidaknya agar tidak pikun dan ngelantur cara berpikir kita yang pasti akan menuju grafik menurun sesuai dengan semakin tambah merunduknya usia.

Edt: Redaksi (AN)