Terapi Menulis Lebih Bersifat Psikologis

Foto: (Ist)

“Therapys dengan cara menulis memang lebih bersifat psikologis”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Yang penting dalam menulis untuk dijadikan terapi guna menjaga nalar dan akal sehat itu diantaranya adalah keimbangan dari egosentrisitas tak membuat daya kejut ke dalam diri sendiri yang mungkin sudah cukup rapuh untuk menerima beban yang tidak lagi dapat dipikul karena memang telah renta.

Egosentrisitas ini biasanya ada pada hampir semua bagian. Mulai dari hasrat untuk mengklaim semua pemikiran yang dilontarkan adalah yang paling benar hingga keinginan untuk nemperoleh pembenaran untuk kemudian diharap bisa diikuti oleh orang lain.

Padahal sikap kritis para pembaca sangat beragam, termasuk juga dari sisi perspektifnya yang mungkin saja tidak cuma berbeda, tapi juga kontroversial dari apa yang mampu dibayangkan sebelumnya.

Sebetulnya, dalam pergumulan yang seru seperti inilah proses terapi bisa memperoleh hasil yang signifikan maju atau bahkan jadi drof. Tinggal bagaimana kesiapan diri untuk menerima berbagai kemungkinan yang memiliki banyak peluang untuk terjadi.

Sebaliknya, begitu juga kemungkinan yang bisa saja kita terima dari para pembaca. Sebab, sanjungan serta pujian tidak tertutup untuk datang dan kita terima sebagai penulis. Dalam konteks ini pun bentuk dan model yang mereka berikan bisa sangat beragam.

Ada yang hanya sekedar memuji untuk sekedar menyenangkan hati. Ada juga yang diberikan dengan kesungguhan hati. Dalam diskursus serupa ini tentu saja efek bawaan psikologisnya untuk terapi nalar dan akal sehat agar tetap bisa terjaga, akan sangat tergantung dari sikap penerimaan kita pada semua respon positif maupun yang begatif sifatnya itu.

Agaknya, pada babak inilah sikap rendah hati atau ugagari kita sebagai pemilik dan pemrakarsa gagasan dapat diuji, apakahsungguh mampu dapat lebih bijak menerima atau saat memberikan respon balik pada sikap komentar yang bersangkutan.

Therapys dengan cara menulis memang lebih bersifat psikologis. Karena itu pengendalian sikap dan sifat yang lebih cenderung pada egosentrisitas sepatutnya mampu dikontrol dan dikendalikan, agar tidak sampai menimbulkan dampak negatif yang berbalik membuat rusak pada diri sendiri.

Karena itu upaya untuk membuka diri dan bersikap rendah hati perlu juga dijaga kesetimbangannya dengan sikap dan sifat sensitif untuk hal-hal yang tidak terlalu prinsipil.

Demikian pula sebaliknya untuk memberi tanggapan balik, misalnya yang hendak menjadi topik bahasan dalam paparan tulisan berikutnya, sikap lebih bijak hendaknya tetap menjadi pakem penuntun dengan cara menimbang rasa jika semua itu harus ditujukan pula pada diri kita sendiri.

Maka itu sikap yang bijak pun dalam proses terapi untuk menjaga nalar dan akal sehat seyogianya dapat juga dikontrol. Bila perlu dilakukan secara berkala seperti layaknya mengukur tensi dan kadar gula di dalam darah.

Sebabnya bila sampai salah, bukan hanya therapys dengan cara nenulis itu saja yang gagal, tetapi resiko lain bisa menimbulkan penyakut baru yang tidak kalah bisa lebih merepotkan kita.

Edt: Redaksi (AN)