Terjajah Dalam Kemerdekaan

Foto: (Doc. Anton Nursamsi)

“Kita mungkin terbebas dari jajahan metode seperti zaman dulu, tapi sekarang kita sedang dijajah melalui metode baru.”

Oleh: Anton Nursamsi

Jakarta (Bintangtimur.net) – Seperti yang kita ketahui, bahwa tanggal 17 Agustus adalah tanggal yang sangat menggembirakan bagi warga negara Indonesia. Dimana pada tanggal tersebut, negara kita menyatakan kemerdekaannya dan bebas dari jajahan bangsa asing.

Tak terasa, tahun 2019 ini kita sudah 74 tahun merdeka. Perjuangan para pahlawan yang mengorbankan jiwa dan raganya untuk Tanah Air tidak sia-sia.

Terbukti saat awal pertama tanggal 17 Agustus 1945 adalah awal dari kemerdekaan bangsa ini. Kita menyatakan bahwa kita telah merdeka dari bangsa penjajah.

Negara kita memang tampak sudah merdeka seperti negara-negara besar pada umumnya, kehidupan masyarakat sekarang sangat jauh berbeda dengan kehidupan masyarakat zaman dahulu.

Jika dibandingkan, kehidupan berbangsa dan bernegara sekarang sangat jauh lebih baik, tapi jika dibandingkan dengan negara lain, Singapura misalnya, saya akui, negara kita masih sangat tertinggal jauh.

UUD 1945 menyatakan “Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.

17 Agustusan sudah menjadi tradisi untuk memperingati bahwa negara kita sudah merdeka, namun disisi lain apakah kita sudah benar-benar merdeka? Ternyata belum.

Kita mungkin terbebas dari jajahan metode seperti zaman dulu yang dilakukan oleh Jepang dan Belanda, tapi sekarang kita sedang dijajah melalui metode baru.

Miras oplosan semakin bermunculan dengan merk baru, kasus narkoba semakin banyak, seperti baru-baru ini. Ada beberapa artis yang terjerat kasus narkoba, bahkan tokoh politik. Berbagai game baru yang membuat kita lupa waktu semakin bermunculan, dan lain sebagainya. Ini adalah salah satu contoh metode penjajahan yang dilakukan bangsa luar kepada bangsa kita.

Hak-hak masyarakat dirampas oleh para penguasa yang haus dengan kekuasaan tanpa memikirkan bagaimana beban rakyatnya.

Kriminalisasi semakin banyak. Contohnya saja kriminalisasi terharap pers yang marak terjadi baru-baru ini. kemiskinan masih kental di berbagai pelosok negeri, berbagai kasus terus bermunculan di bumi ibu pertiwi, masih banyak masyarakat yang sama sekali tidak mengenyam pendidikan.

Pada akhirnya, negara pun gagal dalam membebaskan rakyatnya dari kebodohan. Rakyat juga masih belum aman dari pembunuhan, penganiyaan, pemerkosaan, pencabulan, dan kriminalitas menjadi menu sehari-hari rakyat negeri ini. Bukan hanya tak aman dari sesama, tapi rakyat pun tak aman dari penguasa sendiri.

Setiap tahun kita merayakan hari kemerdekaan, namun sepertinya ini hanyalah sebuah tradisi. Karena jika dilihat dari sisi lain, ini hanyalah sebuah persepsi bahwa kita sudah merdeka, padahal pada kenyataannya belum sama sekali.

Tak jarang juga, para pekerja hak-haknya dirampas, gaji terkatung-katung sampai berbulan-bulan, bahkan banyak yang sampai bertahun-tahun.

Tanpa sadar, mereka para pekerja juga sedang dijajah oleh para ‘Boss’ nya, bekerja harus selalu profesional, tapi dalam pembayaran hak gaji tidak profesional.

Jadi,… Seperti apa kemerdekaan yang sesungguhnya?

Edt: Redaksi (AN)