Terjajah Lagi Atau Bangkit Melawan

Foto: (Ist)

“Terjajah lagi untuk selamanya, atau bangkit melawan!”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Mendorong kebangkitan budaya suku bangsa Nusantara melalui masyarakat adat dan keraton bukan untuk menghidupkan budaya feodal yang pernah ada di negeri kita. Karena budaya feodal dalam bentuk apaupun tidak akan mendapat tempat dalam era milenial yang menuntut cara kerja dalam bidang apapun agar bisa lebih profesional.

Adapun budaya feodal yang dimaksud dalam tulisan ini adalah model atau cara kerja yang lebih mengedepan rasa dan sikapnl dari kebangsawanan, bukan berdasarkan kemapuan, keahlian dan profesionalitas seera kapabilitas, bukan berdasarkan pangkat, jabatan atau anggapan dari senioritar mrnurut umur.

Padahal, untuk wilayah jelajah dan jam terbang misalnya, mereka yang terbilang muda bisa saja lebih unggul, lebih ahli dan lebih mumpuni dari yang sudah bongkotan dari bilangan umur semata, tapi sangat mungkin nol besar dari pengembaraan intelektual dan ragam macam pernah hidup yang sudah dilaluinya.

Jadi budaya feodal yang tidak bisa diterima oleh generasi jaman now misalnya seperti sikap pongah yang merasa tahu tentang banyak hal hanya atas dasar kepangkatan, jabatan atau trah dalam yang lebih tinggi dalam tata urutan keluarga.

Karena sikap untuk mengklaim bahwa dirinya memiliki hak dan wewenang yang melampaui wilayah pekerjaan atau tugas umumnya, seakan-akan dengan sendirinya merupakan bagian bagian dari otoritas yang tidak terpisah.

Padahal, gugus tugas dan hak dari otoritas yang dimilikinya tidaklah begitu adanya. Sebab untuk bidang pekerjaan seperti ini misalnya sangat diperlukan sikap dan kemampuan serta keahlian yang profesional.

Oleh sebab banyaknya kecenderungan yang salah kaprah dalam melakukan suatu pekerjaan seperti pada bidang dunia usaha, tidak heran banyak yang jeblok, akibat memaksakan kedudukan serta posisi yang tidak sesuai karena mekanisme dari pemilihan atau penunjukan yang bersangkutan tidak berdasar keahlian, kemampuan serta kapabelitas orang yang menjadi pemimpin dari lembaga, instanai atau perusahaan itu hanya karena keningratan atau pun klaim terhadap dirinya sebagai bangsawan.

Padahal darah ningrat maupun kebangsawanan seorang tidak bisa begitu saja dijadikan jaminan bahwa yang bersangkutan dapat pasti memiliki kemampuan kerja yang semakin mempersyaratkan untuk profesional dan smart.

Sedangkan sikap feodal sering memaksakan kehendak, entah sebagai penekan atau menjadi penyedot energi yang tidak pernah dimiliki atau tidak pernah dipersiapkan oleh orang untuk dia jadikan semacam pengabdian atau persembahan.

Yang acap tidak sedap itu dalam tata pergaulan warga dari masyarakat feodal adalah acap terkesan dalam interaksi sosial kita yang awam sebagai warga masyarakat yang tidak ada kaitan atau hubungan kekerabatan dengan mereka yang berasal dari bilik kraton itu hendak memaksakan budaya.

Tradisi serta adat istiadat atau bahkan kehendak kepada pihak lain yang tidak memiliki keterikatan maupun keharusan mengabdi dan mempersembahkan sesuatu pekerjaan yang dianggap jadi gratisan sebagai wujud pengabdian.

Demikian dengan sikap dan perlakuan lain yang fominan dilakukan secara sadar bahwa semua itu disandarkan sepenuhnya pada pola dan model interelasi sosial yang feodal.

Karenanya, upaya semacam yang pernah dilakukan Haji Wahyu Sulaiman Rendra yang mengupas cara “Mempertimbangkan Tradisi” dalam satu buku sederhana, agaknya dapat dijadikan jejak maupun model guna mempertimbangkan budaya feodal yang tidak perlu dan mungkin juga sudah tidak relevan untuk digunakan pada jaman now.

Jadi upaya untuk membangun budaya masyarakat adat, budaya masyarakat tradisi dan budaya masyarakat keraton itu sekaligus memilah milih diantaranya yang masih relevan dan berguna bagi generasi melineal kita sekarang yang ingin bangkit menghadapi ragam macam hambatan serta tantangan, setidaknya dalam persaingan global, pasar bebas dan peramg asimetris yang tengah melantak pertahanan dan ketahanan budaya kita yang terkesan semakin rapuh dan gamang.

Itulah yang meresahkan juga menggugah patriotis kebangsaan seluruh warga suku bangsa Nusantara sekarang.

Terjajah lagi untuk selamanya, atau bangkit melawan!

Edt: Redaksi (AN)