Transformasi Pertanian

Foto: (Doc. Prabowo Respatiyo caturroso)

“Alangkah baiknya para petani memiliki ternak yang terus dikembangkan guna mengatasi kerusakan tanah pertanian dimaksud”

Oleh: Prabowo Respatiyo Caturroso

Jakarta (Bintangtimur.net) – Tuhan Yang Maha Esa menciptakan alam semesta beserta isinya baik makro maupun mikrokosmos dengan struktur dan system yang sangat sempurna sehingga terjadi budaya alam semesta yang sangat teratur dan rapih. Oleh karena itu, agar Budaya Pertanian (Agriculture) bisa berhasil maka struktur dan sistemnya dari Pusat sampai Daerah harus benar.

Kalau salah pasti akan terjadi gangguan proses pembangunan pertanian, sehingga visi mensejahterakan masyarakat khususnya Petani akan mengalami hambatan.
Maka perlu upaya khusus bagi para pejabat negara agar tercipta struktur dan sistem pemerintahan sektor pertanian yang sama (sebangun) dari Pusat sampai ke Daerah (Tingkat Kecamatan bahkan Desa).

Sehingga akan terjadi sinergitas kerjasama hubungan pusat sampai daerah sesuai dengan garis kebijakan Presiden RI

Terjadinya alih fungsi lahan pertanian yang mencapai 150-200.000 Ha pertahun (Kementerian ATR/BPN) ternyata banyak lahan pertanian dijual oleh keluarga petani itu sendiri. Karena masalah kondisi ekonomi mereka dengan alasan ‘ketidak pastian’ harga produksi mereka dan ‘gagal panen’ karena kekeringan dan banjir sementara itu tidak ada ‘asuransi’ secara otomatis.

Kemudian nasib mereka hanya
akan menjadi buruh tani, sementara lahan yang mereka jual sebagian beralih fungsi menjadi perumahan, gudang, restauran dan pabrik.

Bila kita perhatikan negara lain misalnya USA, pemerintahnya memberi perhatian ‘sangat besar’ dan ‘secara khusus’ terhadap terhadap Pembangunan Pertanian. Bahkan secara agresif ‘memproteksi’ hasil-hasil produksi pertaniannya dalam kancah ekonomi dan perdagangan internasional serta memberi subsidi kepada petaninya sekitar US $ 321 Milyar atau sekitar US $ 1 Milyar perhari agar produk pertaniannya bisa ‘bersaing di pasar internasional’.

Sedangkan di Indonesia, para petani menjadi ‘pasrah’. Sebenarnya hal ini bisa diatasi dengan membeli produk-produk petani dengan harga yang menguntungkan petani oleh Pemerintah (bisa saja dengan penggunaan dana desa yang kelak dalam putarannya justru akan memberikan peningkatan pendapatan bagi kas desa, tentu dengan sistem keuangan yang transparan dan akuntabel) sekaligus memberi ‘Asuransi Pertanian’ tentu pemerintah ‘tidak rugi’ karena hasil produksi tersebut menjadi milik pemerintah dan bisa dikelola oleh pemerintah dengan mengoptimalkan peran generasi muda tani guna me-manage-nya meskipun hanya untuk 9 bahan pokok kebutuhan Rakyat Indonesia.

Tanah yang rusak (fatique) sebagai dampak revolusi hijau yang menggunakan pupuk anorganik dan pestisida yang masih digunakan oleh petani kita. Dewasa ini sudah banyak petani menggunakan pupuk yang ramah lingkungan dengan bimbingan Kementerian Pertanian, Perguruan Tinggi dan Pengusaha Pupuk organik.

Alangkah baiknya para petani memiliki ternak yang terus dikembangkan guna mengatasi kerusakan tanah pertanian dimaksud. Dengan mendirikan Lumbung pangan modern oleh generasi muda millennial pertanian Indonesia dapat mengatasi seluruh kebutuhan petani dan peternak dengan mendirikan ‘Warehouse Receipt System’ (WRS) di kecamatan atau desa-desa dan mendirikan Mall Petani di kota-kota besar.

Dirikan minimarket di desa-desa dengan menjual hasil produksi para keluarga tani yang dikemas dengan baik dan menarik dengan bimbingan Bulog, Dolog dan Pemda dengan mengoptimalkan anak muda desa untuk berperan melakukan agribisnis dan agroindustri dalam Generasi Muda Millennial Tani Indonesia.

Di negara maju seperti Amerika, New Zealand, Australia, Kanada, Jepang, Korea Selatan, China dan lainnya, para petaninya makmur sedangkan di negeri kita masih banyak yang menderita kemiskinan.

Karena petani kita mayoritas tidak paripurna sebagai petani dari hulu sampai hilir (On Farm dan Off Farm). Yuk kita ubah petani kita menjadi petani paripurna dengan melibatkan generas muda millennial Indonesia menjadi petani modern dibidang agribisnis dan agroindustri.

Dari pengadaan bahan baku, proses produksi, panen, pasca panen dan pemasaran sampai ke meja konsumen dengan online system. Insya Allah sukses karena Generasi Muda kita banyak yang cerdas sangat innovatif dan kreatif dan cara berfikirnya sudah ‘out of the box’.

Semoga pemerintah pusat sampai daerah bahkan sampai desa menyadari hal ini karena negeri kita dikaruniai Tuhan YME negara yang subur sebagai Negara Agraris Maritim. Bravo petani muda Indonesia.

Edt: Redaksi (AN)