Tugas Lebih Mulia Kemenhan Membangun Pertahanan dan Ketahanan Pangan

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Infonya program pengembangan singkong oleh Kemenhan akan dimulai segera dimulai di Kalimantan Tengah pada tahun 2021”

Oleh: Jacob Ereste

Jakarta (Bintangtimur.net) – Sungguh luar biasa kebijakan Presiden Joko Widodo dengan memberikan tugas khusus kepada Menteri Pertahanan Prabowo Subianto untuk menanam singkong di Kalimantan. Tugas tersebut merupakan bagian dari program membangun lumbung pangan nasional atau food estate. Jika saja tak bisa disebut agak lebih keren; Pertahanan dan Ketahanan Pangan.

Dalam bahasa sastranya pun tugas mulia itu masih selaras dengan tugas pertahanan yang diemban untuk membangun pertahan dan ketahanan pangan Indonesia yang sangat dikhawatirkan bisa jebol akibat kopat-koput seperti juga acap dilontarkan Babe Ridwan Saidi pada setiap kali bersua sejak pandemi corona melanda Indonesia.

Menurut Prabowo sendiri, seperti yang dikutif Law Justice, 23 September 2020 juga sinkron untuk menambah semaraknya HUT Petani Indonesia besok, 24 September 2020.

Secara garis besar kata Prabowo Subianto yang juga masih menjabat Kemenhan (Kementerian Pertahanan) Republik Indonesia bahwa pengembangan lumbung pangan berada di bawah tanggung jawab Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Meski begitu, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) hanya sekedar untuk menjamin cadangan singkong aman.

Yang tak kalah menarik tentu saja ada semacam upaya memproyeksikan cadangan dari singkong itu kelak bisa mengganti panganan pokok kita seperti beras yang mungkin diperkirakan bakal kandas.

“Kementerian Pertahanan akan memegang satu peran di pembangunan cadangan pangan, singkong. Kami hanya sebagai backup untuk menjamin cadangan. Selebihnya adalah tugas utama Menteri Pertanian,” ujar Prabowo Subianto yang juga dikutip dari medcom.id, Rabu (23/9/2020).

Infonya program pengembangan singkong oleh Kemenhan akan dimulai segera dimulai di Kalimantan Tengah pada tahun 2021. Luas lahan tak tanggung-tanggung, 30 ribu hektare. Meski tanaman singkong di Lampung Timur saja luasnya sudah nggak ketulungan jembarnya. Maklum petani di Lampung banyak diperankan oleh anak-anak muda yang mulai enggan jadi buruh di pabrik seperti kecenderungan abak-anak muda sebelumnya.

Bahkan diinformasikan juga luas lahan di Kalimantan yang akan digarap itu akan terus ditingkatkan hingga mencapai 1,4 juta hektare pada 2025.

Semoga saja tak seperti jutaan hektar sawah yang pernah disesumbarkan pada rezim Orde Baru dulu yang gagal. Boro-boro mau panen, sawahnya yang mau dicetak saja tak pernah jelas seperti dananya yang dikucurkan untuk merencanakan dan biaya untuk pelaksanaannya.

Hasil panen singkong itu nanti –berdasarkan peta jalan yang telah dibuat– mau diolah menjadi tapioka, mokaf, dan berbagai produk jadi lainnya.

“Jadi tujuannya adalah mem-backup kebutuhan pangan. Ini nanti bisa untuk roti hingga mi instan. Kita ingin menjamin bahwa kita tidak tergantung pasokan bahan baku dari luar negeri,” tegas Prabowo.

Semoga saja program itu tak cuma sebatas janji muluk semata. Sebab pandemi Covid-19 yang masih terus menghantui dan mengancam kesehatan dan keselanatan jiwa kita kayaknya makin menggila saja. Jakarta saja sudah memasuki PSBB jilud dua.

Jadi seorang Menteri Pertahanan diminta Presiden ikut cawe-cawe di lahan pertanian pertanian, jangan dianggap lucu-lucuan. Pahami saja bahwa panganndan ketahan serta pertahanan itu bisa bersifat semesta. Atau setidaknya, begitulah luwesnya kabinet pemerintahan kita.

Mungkin hanya dengan cara memahaminya begitu, kita pun berhak untuk mengkhayal kelak benar-benar Indonesia jadi swasembada pangan. Hingga tak cuma singkong, tapi juga beras, ikan, jagung, kedele sampai garam dan gula, dapat Mengharamkan dari hadil impor.

Syukur-syukur sekalian bisa mengembalikan masa jaya petani nusantara yang dahulu mampu menghasilkan rempah-rempah.

Agaknya, berita baik yang sedang menuju swasembada pangan dengan mengawalinya dengan singkong, bisa ikut serta membahagiakan petani Indonesia yang sedang merayakan hari jadinya pada 24 September 1962-2020.

Selamat ya, semoga kita pun semakin bangga menyanyikan lagu si anak singkong. Juga untuk kaum buruh yang ikut bersuka ria juga berduka karena terus mengusung keranda RUU Omnibus Law yang tidak kalah menakutkan dibanding sergapan virus corona, karena bisa mati pula, kata mereka karena Omnibus Law.

Edt: Redaksi (AN)