Tukang ‘Ngintip’

Foto: (Doc. Norman Arief)

“Ternyata dalam perjalanan kehidupan ini kita memerlukan ‘tukang ngintip’”

Oleh: Norman Arief

Depok (Bintangtimur.net) – Di sepertiga malam serangan insomnia membombardir tanpa ampun. Dan pada akhirnya memaksa diri ini bercengkrama di alam nalar.

Iya… pada akhirnya narasi ini lahir.

Ternyata dalam perjalanan kehidupan ini kita memerlukan ‘tukang ngintip’. Karena darinya kita akan mengetahui dan dibimbing baik secara langsung atau tidak langsung menentukan arah hidup.

Teringat almarhum ayahanda, semasa kecil sering saya dipaksa untuk mencari arti bahasa inggris didalam kamus. Bahkan beliau sering bercakap dan menyapa menggunakan bahasa inggris, dimana saat itu dibangku sekolah dasar belum dapat pelajaran bahasa inggris.

Hingga agak kesulitan untuk meresponnya, namun ayahanda hanya tersenyum. Setelah itu selalu saya disuruhnya cari arti apa yang dilontarkannya di kamus. Namun, tanpa disadari semakin sering beliau gunakan bahasa inggris, seiring waktu sedikit demi sedikit mulai memahami. Little little I can lah…

Tidak hanya dalam bahasa inggris ‘metodelogi atau strategi’ beliau dalam mendidik agar diri ini terbiasa menerima yang belum waktunya. Dipaksanya saya membaca Koran dan setelah selesai beliau menanyakan peristiwa apa saja yang terjadi? Bagaimana ekonomi negara? Perkembangan politik apa?

Iya… saat itu ingin rasanya saya pergi bermain tinggalkan beliau yang hanya bikin pusing. Namun tidak berani karena adab kepada orang tua. Ya, asal-asalan sajalah jawabnya yang penting pertanyaan beliau dijawab. Daripada kena ocehan berkepanjangan dan tidak diizinkan bermain.

Disini akhirnya ada hipotesa bahwa beliau sudah ‘mengintip’ masa depan dan tengah mempersiapkan diri agar terjadi regenerasi yang memiliki kemampuan berbahasa asing dan kemampuan menganilsa arah hidup.

Banyak sebenarnya yang ingin diceritakan disini tentang almarhum ayahanda dalam membimbing hasil ‘ngintipnya’ melihat masa depan. Namun pembaca akan lelah dan menganggap ini hanya narasi curhatan.

Satu sisi, diri ini pernah ingin mendalami ilmu agama, pada akhirnya mendatangi salah seorang Kyai. Alhasil justru Sang Kyai malah melarang: “Jangan pelajari agama, nanti kamu akan terkunci dengan peraturan Allah dan terjebak pada surga dan neraka. Sudah pulang saja sana lebih baik jadi manusia saja, jangan jadi hewan”.

Hmmm… Kyai aneh, saat itu gumam saya. Niat baik ingin berada dijalanNYA malah diusir dan dilarang belajar agama.

Namun, rupanya setelah nalar dan batin ini mulai sinkron efek merenungkan ucapan Kyai yang menyarankan jadi manusia saja jangan jadi hewan dari pada belajar agama. Seakan mendapatkan cahaya dalam kegelapan. Rupanya Kyai justru sudah mengajarkan nilai agama.

Iya… menjadi manusia, dengan membersihkan sifat-sifat hewan didalam diri.

Dua sisi, diri ini pernah mendapat cerita dari sahabat bahwa semasa kecil ia selalu diajak renang, dan selalu diajak bersepeda. Dan kegiatan yang berkaitan dengan olahraga lain oleh orangtuanya.

Hingga beranjak remaja barulah ia diberikan berkas-berkas hasil lab yang menyatakan gangguan kelainan dijantungnya dan dinyatakan telah normal. Mungkin saja jika renang dan bersepeda tidak dilakukannya sejak dimasa kecil, sakit jantung yang dideritanya akan bertambah parah.

Iya… rupanya orangtua sahabat telah ‘mengintip’ dan melakukan yang terbaik untuk kesehatan masa depan anaknya.

Tiga sisi, dalam situasi kehidupan yang sedang berjalan sebenarnya ada ‘tukang ngintip’ disekitar kita. Namun sering kita lalai dan bahkan mengabaikannya.

Si ‘tukang ngintip’ disekitar kita bisa saja berwujud sahabat, mitra bisnis, atau teman biasa-biasa saja. Namun bisa diketahui atau disadari wujudnya, jika ego kita ikhlas mengikutinya atau diri kita bisa mencerna arah pembicaraan atau pola pikirnya.

Si ‘tukang ngintip’ baik itu serius atau bercanda kerap sedang memberikan ‘arah positif’, namun banyak yang membantahnya dengan kata lain ‘ngeyel’ bahasa teman. Padahal si ‘tukang ngintip’ itu mungkin saja perantara dari Tuhan, yang akan menentukan arah kehidupan kita.

Iya… narasi liar efek serangan insomnia ini akan penulis tutup tanpa hipotesis.

Semoga kita dapat menerima hadirnya ‘tukang ngintip’ dalam kehidupan ini dan menghargai serta berterimakasih.

Edt: Redaksi (AN)