Untuk Semesta

Foto: Ist

“Masih ada kesempatan untuk menyelamatkan generasi bangsa. Salah satunya, mengubah pola konsumsi dan produksi manusia”

Oleh: Tangguh Sipria Riang (Jurnalis, Pegiat Sosial, dan Pemerhati Lingkungan)

Jakarta (Bintangtimur.net) – Alam dan lingkungan merupakan parameter paling ampuh untuk medical check up. Misalnya, dengan mendaki gunung. Proses pendakian akan menganalisa kondisi fisik terkini. Apakah pinggang terasa encok, mendadak nyeri punggung, atau seberapa rentan angin merasuki tubuh?

Beberapa bulan sebelum Covid-19 menyerang, saya sempat medical check up sekali. Saat itu, pemeriksaan kesehatan berlangsung di jalur pendakian Gunung Fuji, Jepang. Tidak ada persiapan khusus sebelum pendakian. Namanya juga cek kesehatan. Nanti alam yang mengabarkan anamnesanya.

Alhamdulillah, hasil check up masih dikategorikan baik. Tidak ada gejala-gejala gangguan fisik. Artinya, tidak perlu minum obat-obatan tertentu. Agak aneh memang. Karena, setiap berada di ruangan ber-AC, saya gampang sekali masuk angin. Tapi, kena angin gunung, malah baik-baik saja.

Semua ada di mindset. Bagaimana seseorang memperlakukan alam dan lingkungannya. Jadikan dingin sebagai kawan. Begitu kira-kira pesan senior saya di organisasi Mapala kampus dulu. Termasuk pesan-pesan baik lainnya. Agar memperlakukan alam sebagaimana mustinya.

Ada satu pesan lain yang masih saya ingat. Usahakan untuk memungut sampah jika terlihat. Baik itu di jalur pendakian mau pun turun. Saat itu, saya berpikir, mengantongi sampah di negara super bersih seperti Jepang adalah sebuah prestise.

Tapi, justru itu masalahnya. Susah sekali menemukan sampah di jalur pendakian gunung Fuji. Bahkan, saya nyaris tersasar. Selain menempuh pendakian malam, ada kegalauan lain. Tidak ada sampah yang bisa jadi petunjuk di sana.

Teringat kembali pesan senior. Tips sederhana, jika menemukan jalur bercabang di tengah pendakian. Carilah jalur yang ada sampahnya. Niscaya pendakian akan mengarah ke jalan yang benar. Dan itu terbukti. Saya membayangkan, ada “Youtuber Sampah” saat itu. Pasti pendakian bakal lebih mudah.

Tapi sayangnya, itu hanya berlaku di Indonesia. Tidak di Fuji. Jalur Fuji memicu dehidrasi lebih cepat. Pohon-pohon masih terlihat hingga Pos 6 di ketinggian 2.700 meter dari permukaan laut (mdpl). Setelah itu, hanya pasir dan bongkahan batu. Pemandangan serupa hingga puncak di Pos 10, altitude 3.776 mdpl.

Opsi terbaik, tentu pendakian malam. Mendaki tanpa beban, karena jalur tidak terlihat. Tanpa matahari juga. Meminimalisir hipoksia alias kekurangan oksigen. Coba kalau siang. Matahari terasa sejengkal di atas kepala. Tiada pohon mau pun keteduhan lainnya. Layaknya hutan hujan tropis Indonesia.

Bisa jadi, hal ini menjadi tolok ukur sebagian besar oknum pemangkas gunung Indonesia. Mereka, terinspirasi kontur “gurun” ala Fuji. Siapa tahu, jika puncaknya gundul, bakal ada salju yang menyelimutinya.

Sehingga, disepakatilah, untuk menebang rimbanya. Kayu-kayunya diekspor keluar negeri. Termasuk ke Jepang. Sejak itulah, rumusan soal tebang pilih mulai diberlakukan. Karena menebang tidak boleh asal. Harus pilih-pilih. Seperti hukum dan keadilan.

Saat hujan datang, air pun bisa mengalir melintasi tunggul. Hutannya gundul, drainase acakadul. Ketika banjir, menjadi momen istimewa warga untuk berkumpul. Karena ketinggian air sudah melewati dengkul.

Sebetulnya gunung Fuji hanya cantik sesaat. Ketika puncaknya diselimuti salju. Itu pun hanya di musim dingin. Begitu salju meleleh, cobalah main ke sana. Lalu, mendakilah di siang hari. Nanti, tanpa disadari, muncul anjing dan babi di sela-sela pendakian.

Jelang subuh, saya menjejakkan kaki di Pos 8, dengan ketinggian 3.480 mdpl. Sunrise menyembul dari balik Samudera Pasifik. Matahari pertama di dunia, untuk hari itu. Detik, menit berlalu, danau Kawaguchiko pun ikut memantulkan sinarnya. Mengusir kabut yang memenuhi lembahan.

Para pendaki berjejer, mengabadikan momen terbaik. Tiga jam lagi, suasana serupa juga dipraktekkan pemburu Sunrise di Bromo atau Sikunir. Termasuk gunung-gunung penyambut sunrise lainnya di Indonesia. Momen ini bisa dinikmati sepanjang tahun. Kalau di Fuji terbatas, 1 Juli hingga 10 September saja.

Maka nikmat alam mana lagi yang kau dustakan? Wahai para perusak semesta.

Turun dari Fuji, saya kembali ke Pos 5, Fuji Subaru Line. Titik awal pendakian di jalur Yoshida. Satu dari empat jalur pendakian menuju puncak Fuji. Tidak ada lagi pendakian. Jalur resmi ditutup. Tinggal menunggu seluruh pendaki turun.

Area parkir mulai dipadati kendaraan. Termasuk bus jemputan. Bersiap mengantar penumpang menuju stasiun Kawaguchiko di Gotemba. Parkiran tertata rapih. Tanpa perlu rebutan area teduh. Hal lazim di sejumlah parkiran Indonesia. Maunya tempat teduh, tapi menanam pohon tidak mau.

Lalu, saya merogoh kantong. Mengeluarkan “sampah imajiner” hasil mulung di jalur pendakian. Simbolis saya pindahkan ke tong sampah terdekat. Seandainya ada yang menyadari saya orang Indonesia, bisa jadi mereka bakal berbisik, “Tumben, Gaes”.

Sebetulnya, masyarakat santuy Indonesia, juga bisa disiplin. Apalagi kalau ada sanksi. Misalnya, saat berada di Jepang, Singapura atau negara dengan aturan ketat lainnya. Alasannya sepele. Biasanya, takut kena denda. Ada juga yang merasa malu. Negara orang malu. Negara sendiri, putus urat malu.

Namun ternyata, disiplin saja tidak cukup untuk menyelamatkan lingkungan dari kerusakan. Kebetulan, ini hasil riset pribadi. Pernah ada, teman asal Jepang, mendadak santuy ketika di Indonesia. Buang puntung rokok sembarangan, tidak disiplin di kehidupan sosial, dan adab khas Indonesia lainnya.

Mungkin, mereka latah. Ikut-ikutan akamsi, anak kampung sini. Bisa juga, menguji kearifan lokal. Menerapkan pepatah, “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.” Sekaligus pembuktian diri. Bahwa manusia juga punya sifat bunglon. Seperti WNI.

Seluruh ekosistem, alam, dan lingkungan perlu dijaga. Dunia berkoar-koar mengkampanyekan Hari Lingkungan Hidup setiap tanggal 5 Juni. Tahun lalu, kampanye World Environment Day (WED) di China, mengimplementasikan tema “Air Pollution” alias Polusi Udara. Kampanye ini, sukses hingga WED 2020.

Berawal di Wuhan, Covid-19 menyebarkan terornya. Menyebar ke seluruh dunia. Tanpa disadari, negara terdampak Covid-19 berhasil mereduksi polusi udara. Caranya pun cukup sederhana. Cukup di rumah saja. Covid-19 mendesak pemerintah, industri, hingga warga. Semua siap bersiaga.

Udara bersih pun tersedia untuk kehidupan. Lalu, muncul energi bumi terbarukan. Kenormalan juga ikut terbarukan. Entah ini musibah atau bukan? Setidaknya, ini berkah dari virus penghenti sementara roda peradaban.

Kualitas udara di kota besar, setara di desa. Rata di seluruh dunia. Lingkungan mendadak bersih terjaga. Bumi kembali bernapas seperti sedia kala. Meski sebelumnya, bernapas juga. Walau agak putus asa.

Kini, lebih dari 90 persen makhluk hidup dapat menghirup udara bersih. Menekan kerugian ekonomi global untuk biaya kesejahteraan korban polusi udara. Meningkatkan hasil panen karena berkurangnya polusi ozon tingkat dasar.

Aksi masal ini perlu diapresiasi. Agar polusi terkendali. Bukti nyata ketika seluruh warga dunia berpartisipasi. Lewat aksi nyata, menghasilkan solusi.

Tahun ini, Kolombia menjadi tuan rumah WED 2020. Mereka pun tak mau kalah dari China. Jika China mengusung tema “Polusi Udara”, WED 2020 menggelorakan “Time for Nature”. Fokus terhadap tumbuhan, air, cuaca, dan satwa sebagai tokoh utama. Lalu, manusia sebagai figuran.

Peringatan WED tahun ini, ditandai kasus ekploitasi gajah di Kerala, India. Seekor induk gajah, mati berdiri gara-gara ledakan petasan. Buah nanas yang diberikan manusia kepadanya, ternyata berisi petasan. Lalu, meledak sebelum melewati kerongkongannya.

Manusia kembali menunjukkan superioritasnya. Atau ketidakmanusiawiannya. Banyak yang menyesalkan kelakuan warga India. Padahal itu belum seberapa. Oknum pemangsa gading gajah nasional juga tidak kalah sadisnya. Kalau di India pakai petasan, di Indonesia pakai senjata api. Itu biasa bagi mereka.

Saat ini, sistem ekonomi berevolusi. Jika ekosistem tidak terjaga, maka terjadi deforestasi. Tumbuhan dan hewan diekploitasi. Lalu, perubahan iklim ekstrim terjadi. Invasi parasit mengancam kepunahan keanekaragaman hayati. Imbasnya, kelangsungan hidup umat manusia pun terancam mati.

Masih ada kesempatan untuk menyelamatkan generasi bangsa. Salah satunya, mengubah pola konsumsi dan produksi manusia. Memulai hidup ramah lingkungan. Berdamai dengan alam.

Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Jadilah berguna.

Edt: Redaksi (AN)