WhatsApp

Foto: (Doc. Norman Arief)

“Kompetisi seakan tiada henti bagi para pemain teknologi. Plus minus pun sudah tentu ada dari aplikasi ini”

Oleh: Norman Arief

Depok (Bintangtimur.net) – Transformasi era digital sudah tidak bisa dibendung. Narasi ini hanyalah spontanitas saat menikmati secangkir kopi seraya mainkan ‘handphone’ berbasis smartphone.

Tertarik nalar ini menggeluti salah satu aplikasi messenger bernama WhatsApp. Entah berapa triliun manusia menggunakan aplikasi ini. Dan tidak terbayang juga jumlah omset sang penemunya atau pihak provider atas transaksi ‘qouta’.

Kompetisi seakan tiada henti bagi para pemain teknologi. Plus minus pun sudah tentu ada dari aplikasi ini. Bahkan pemerintah Indonesia pada era pilpres lalu sempat ‘kudeta’ WhatsApp.

Narasi ini tidaklah ingin membahas omset apalagi kudeta pemerintah terhadap whatsapp. Hanya sebatas eksplorasi efek secangkir kopi.

Saya memulai dari komentar terkait status-status yang pernah di update semisal, durasi untuk sebuah lagu tidak bisa penuh ditampilkan dalam status maka saya ‘penggal’ sesuai suasana hati. Abstraksi dalam foto, illustrasi, icon-icon, pesan religi ataupun emoticon terkadang saya update.

Iya…
Hanya sebatas permainan ‘pesan’ sesuai suasana hati dan alam fikir saja sebenarnya.
Namun ragam reaksi menjadi umpan balik.

Ada yang komentar lebay, alay, sok romantis, nyinyir, kirim emoticon atau sticker jempol, membalasnya dengan teks dan ragam lainnya.
Hal ini justru membuat nalar bekerja. Ternyata secara pesan singkat ekspresi ataupun respon dalam album kontak pertemanan dapat memulai suatu bentuk komunikasi spontan.

Begitupun sebaliknya, nalar ini pun ikut merespon atau hanya sebatas mengintip status orang lain. Dasar nalar tak bisa diam bahkan bekerja terlalu jauh hingga bisa menilai karakteristik dari si pembuat status.

Iya…
Bahkan keanehan menilai terkadang over acting jika melihat postingan status hal yang bersifat tidak edukasi dipertontonkan ke ruang publik. Misal ada yang membuat kata-kata bernada emosi; dasar sialan ditagih malah ngajak ribut, bobo dulu ahh, atau status sedang berlibur, kuliner, dan lainnya. Semua itu suatu pesan seakan sepele tapi berefek positif negatif.

Disini nalar memilih harus ekstra hati-hati dalam posting status karena dialbum kontak terdapat berbagai kalangan. Bisa-bisa bagi yang gagal paham bisa sensitif atau justru memuji. Begitulah efek sebuah status. Diblokir pun pernah dialami.

Apalagi keunikan perilaku dalam group whatsapp. Seakan tidak ada ruang batas. Yang naik atau beri komentar terkadang kehilangan imajinasi efek pembaca.
Mungkin saja bahasa tulisan, gambar atau video dipahami sebagai suatu hal yang biasa bagi yang berkomentar. Namun disisi pembaca bisa saja emosional atau bereaksi bergurau.

Disini pembaca akan menjadi ‘juri’ atas update status atau komentar didalam group. Maka silahkan jika ingin melihat kualitas ataupun karakteristik si pembuat status atau para komentar group dapat menyimak percakapan itu tersendiri. Ditambah lagi aneka ragam group dan tema group seakan jadi kesibukan sehari-hari hingga memerlukan waktu untuk perhatian terhadap handphone tersebut. Hingga lalai akan pekerjaan ataupun kewajiban lainnya.

Dituntut bijak atau pura-pura tidak bijak dalam menggunakan whatsapp dikembalikan pada si pengguna. Namanya juga narasi efek secangkir kopi.

Setidaknya ada percakapan ‘dunia’ atas aplikasi whatsapp ini. Lintas profesi pun menggunakan whatsapp, seperti koruptor, bisnis narkoba, sex komersil, insan pers, politisi, ulama, hingga pelajar seakan sudah menjadi pedoman keseharian. Gatal rasanya jika hitungan menit tidak melihat whatsapp.

Iya…
Entah aplikasi ini akan wafat seperti BBM(Blackberry Masengger) atau justru lebih ter upgrade dengan tampilan yang lebih berkualitas. Kita lihat saja perjalanannya.

Ranah hukum pun coba memasuki ranah privasi dengan kemasan proteksi dengan format UU ITE. Setidaknya whatsapp bukanlah dijadikan sebagai ‘Tuhan’ baru. Belum lagi ragam aplikasi sejenis whatsapp, semisal line, telegram dan lainnya. Satu whatsapp saja sudah menyita waktu trilyunan manusia.

Akhirnya efek secangkir kopi berakhir disini. Namun pesan whatsapp tiada berakhir. Dan seseorang sudah memanggil dalam video call.

Edt: Redaksi (AN)