Yongki Wijaya Mengaku Merasa Dirugikan Oleh Pihak ACC Finance

Foto: Yongki Wijaya (berbaju pink) didampingi kuasa hukumnya, M. Sofian (paling depan) bersama para relawan masyarakat pendukung keadilan

“Saya sangat dirugikan sehingga saya sampai sakit jantung. Bahkan saya tidak tahu hasil lelang tersebut. Ketika saya mau membayar tagihan, tahu-tahunya mobilnya sudah dijual,”

Jakarta (bintangtimur.net) – Sidang lanjutan antara pihak ACC Finance selaku terlapor dengan Jong San Jong (Yongki Wijaya) selaku pelapor kembali dilakukan di BPSK (Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen) Provinsi DKI Jakarta.

Yongki Wijaya yang tak hadir dalam sidang perdana, turut hadir dalam sidang lanjutan ini.

Yongki mengatakan dirinya sangat dirugikan oleh pihak ACC Finance. Karena pihak ACC Finance melakukan pelelangan (mobil yang di kredit oleh Yongki) tanpa ada pemberitahuan, tanpa surat dan tanpa apapun.

“Saya sangat dirugikan sehingga saya sampai sakit jantung. Bahkan saya tidak tahu hasil lelang tersebut. Ketika saya mau membayar tagihan, tahu-tahunya mobilnya sudah dijual,” ujar Yongki kepada awak media, di depan Gedung BPSK, Kelapa Gading, Jakarta, Kamis (20/2).

Yongki meminta pihak ACC Finance bertanggung jawab dan melakukan ganti rugi kepadanya.

“Saya akan melakukan tuntutan Rp5 miliar (kerugian materiil dan immateriil), karena sudah sakit jantung. Masa iya jantung saya nilainya Rp5 miliar, terus kalau saya sakit anak buah saya jadi tidak makan dong semua,” tegas dia.

M. Sofian selaku kuasa hukum Yongki Wijaya, mengatakan bahwa kliennya adalah pengusaha dimana dalam hal ini tidak mungkin tak sanggup membayar cicilan bulanan.

“Ini kan ada miss komunikasi antara klien kami dengan ACC Finance. Dan disisi lain pihak leasing melakukan pelelangan tanpa pemberitahuan, dan tidak sesuai dengan prosedur,” tegas Sofian.

Maka dari itu pihak Sofian mengajukan gugatan ke BPSK, yang mana diatur dalam UU. No. 8 Tahun 1999 mengenai Perlindungan Hak Konsumen.

“Dari sini kita meminta referensi putusan dari BPSK agar kita bisa meningkat lagi ke OJK agar mencabut izin leasing ini kalau tidak ada penyelesaian,” tegas Sofian lagi.

Sofian mengakui menolak mediasi dengan pihak ACC Finance yang diajukan oleh hakim BPSK, dimana pihaknya menjawab akan konsultasi dengan kliennya. Maka dari itu Sofian membawa kliennya ke sidang lanjutan BPSK ke dua ini.

“BPSK harus netral, kalau tidak netral buat apa ada BPSK yang diatur dalam Undang-Undang. Maka putusan hakim harus seadil-adilnya, leasing ini harus seperti apa dan harus sesuai prosedur yang ada,” pungkasnya.

Harry Amiruddin, Ketua Nderek Jokowi DKI Jakarta (pihak Independen dalam masalah ini) menjelaskan dalam permasalahan ini ada permainan yang tidak sehat yang dilakukan oleh ACC Finance, yang merugikan konsumen.

“Kami sebagai warga negara Indonesia yang taat hukum akan melawan siapapun yang berusaha melawan hukum. Bahkan sampai ke Presiden pun kami akan laporkan permasalahan ini yang mencakup semua anak bangsa dimana berhak dilindungi semua orang dan penegak hukum,” tegas Harry.

Karena sering terjadi tindakan yang semena-mena yang dilakukan ACC Finance maka pihak Harry meminta Menteri Keuangan dan OJK menindak perusahaan ACC Finance. Dimana banyak dilakukan dengan gaya-gaya premanisme.

Baston Sibarani, Ketua LHAM (Literatur Hak Azasi Manusia) yang juga bagian dari kuasa Yongki Wijaya mengungkapkan dia sudah lapor ke kantor ACC Finance dan mempertanyakan kenapa secepat itu pelelangan, dan tidak ada pemberitahuan.

“Atas kejadian itu kami laporkan ke Polsek Tamansari. Penyidik mengatakan pihak ACC Finance bisa terkena 2 (dua) pasal, yaitu penipuan dan penggelapan,” jelas Baston.

Baston sudah konfirmasi beberapa bulan sampai hampir 1 (satu) tahun kasusnya adem-adem saja. Pihak ACC diduga Baston bermain disana.

“Sangat kita sayangkan sia-sia yang kita adukan ke Polsek saat itu sampai sekarang tidak ada tindakan, sehingga kita serahkan permasalahan ini kepada tim pengacara (M. Sofian),” jelasnya. (ZS)

Edt: Redaksi (AN)